logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 23 Desember 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Melihat Gereja-gereja Tua di Semarang (2)

Butuh Setahun untuk Renovasi "Blenduk"

DI ANTARA sekian banyak gedung tua di kawasan Kota Lama, salah satu yang masih terawat rapi adalah Gereja Blenduk. Gereja yang didirikan pada abad ke-17 tersebut, kini digunakan sebagai tempat ibadah jemaat Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) Immanuel.

Gereja ini memiliki keunikan tersendiri di banding gereja-gereja tua lain di Semarang. Ini terlihat dari bangunannya yang memiliki ciri arsitektur Eropa klasik yang anggun dan aristokrat.

Gereja ini pernah direnovasi sebanyak tiga kali yakni tahun 1753, kemudian 1894 dan terakhir pada 2003. Setiap waktu dilakukan renovasi, selalu ditulis di batu marmer yang dipasang di bawah altar gereja. ''Setiap kali renovasi dibutuhkan waktu satu tahun, namun secara umum tidak ada perubahan pada bentuk arsitektur bangunan,'' kata Frangky Pattynama SH, MM dari Komisi Pemeliharaan dan Pembangunan Gereja Blenduk.

Gereja Blenduk memiliki denah octagonal atau denah segi delapan beraturan dengan ruang induk terletak di pusat (tengah) berbentuk kubah dan oleh masyarakat Semarang saat itu dinamakan Blenduk. Hingga sekarang masyarakat menyebut gereja yang nama aslinya belum diketahui pasti ini Gereja Blenduk.

Kerangka kubah tersebut dibuat dari konstruksi besi dengan jari-jari berjumlah 32 buah, 8 buah berukuran besar serta 24 buah berukuran kecil. Kerangka konstruksi itu dilengkapi dengan sebuah gelang baja yang berfungsi sebagai titik sentral jari-jari besi tersebut.

Ruang utama bangunan gereja terdiri dari ruang jemaat tempat melaksanakan kebaktian. Lantai Gereja Blenduk yang terbuat dari tegel tertata harmonis dengan kombinasi warna hitam, kuning dan putih. Pada sisi utara, sebuah tangga melingkar tampak kokoh terbuat dari besi yang diukir. Tangga itu difungsikan sebagai tempat berjalan menuju musik gerejawi yang diletakkan pada balkon.

Di tangga tersebut terdapat tulisan dalam bahasa Belanda yang berbunyi ''Plettriji den haag''.

Menurut pengurus Gereja, tulisan tersebut adalah nama perusahaan yang memproduksi tangga itu, namun tidak tertulis jelas tahun pembuatannya.

Diperkirakan sama umurnya dengan awal pembuatan gereja pada sekitar abad ke-17.

Perlengkapan Perjamuan Kudus yang juga sudah sangat tua namun masih sangat bersih terbuat dari perunggu. Perlengkapan itu meliputi dua buah piala yang mempunyai tutup dan pegangan, 2 buah gelas anggur dan enam piring besar.

Mimbar (tempat penyampaian Firman Tuhan) Gereja memiliki keistimewaan konstruksi yang langka. Mimbar ini tidak ditempatkan di lantai seperti umumnya mimbar di gereja-gereja lain di Indonesia, akan tetapi disangga dengan tiang segi delapan dari kayu jati dan menempel pada dinding sebelah barat menghadap ke timur.

Jika melihat mimbar Gereja Blenduk ini, bisa dipastikan bahan bakunya yang terbuat dari kayu jati bahan pilihan. Warnanya yang coklat tua menyatu dengan warna kursi yang ada di dalam ruangan tempat duduk jemaat.

Sisi lain yang menunjukkan kekunoan gereja tersebut adalah sebuah Bibel (Alkitab) dalam Bahasa Belanda terletak di atas mimbar dalam usia 247 tahun atau diterbitkan pada tahun 1748. Bibel ini masih terawat rapi meski kertasnya sudah berwarna agak kecoklat-coklatan.

Gereja selalu identik dengan musik dan nyanyian. Alunan suara musik gerejawi biasanya dimainkan secara perlahan setiap kali jemaat memasuki ruang kebaktian. Untuk itu, Gereja Blenduk memiliki orgel (musik gerejawi), yang ditempatkan di balkon sebelah utara. Perlengkapan musik tersebut dibuat oleh P Farwangler dan Hammer, dua warga Belanda pada saat awal gereja didirikan.

''Jika sudah memasuki ruangan gereja dan suara musik mengalun tenang, ketegangan perlahan memudar, diganti kenyamanan dan kedamaian,'' kata Frangky. (Arie Widiarto-73)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA