
| Senin, 22 Desember 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Melihat Gereja-gereja Tua di Semarang (1)
Tangan 12 Rasul di Gereja GereformeerdPENDUDUKAN Belanda di Indonesia berpengaruh besar bagi perkembangan agama Kristen di berbagai kota, termasuk Semarang. Hingga kini gereja peninggalan zaman pemerintahan kolonial masih berdiri kokoh di sejumlah sudut kota. Bangunan dan interior yang rata-rata berusia ratusan tahun tetap dipertahankan seperti aslinya. Salah satu gereja tua di Semarang adalah Gereja Gereformeerd di Jalan Dr Sutomo, tepatnya di sebelah selatan RS Dr Kariadi. Gereja tersebut dibangun pada 27 Oktober 1918. Memasuki halaman gereja seluas 5.000 m2 yang terdiri atas dua bangunan, yakni pastori (rumah pendeta) dan ruangan gereja untuk kebaktian, seperti berada pada zaman Belanda. Interior ruangan yang sebagian besar terbuat dari kayu jati menambah alami gereja yang mampu menampung 400 jemaat itu. Kursi jemaat terbuat dari rotan dengan sandaran kayu jati masih terlihat kokoh berderet rapi. Interior altar yang bergaya Lutheris (menonjolkan penyampaian firman Tuhan) sangat jarang ditemui di gereja-gereja sekarang ini. Bentuknya melengkung dan di atasnya terdapat meja kecil tempat Alkitab. Gereja-gereja di Belanda masih banyak menggunakan model alter seperti ini. Di kanan dan kiri altar terdapat kursi majelis gereja dan di atasnya terdapat 12 patung tangan menengadah yang menjadi simbol rasul-rasul Yesus yang berjumlah 12 orang. Seluruh bagian altar juga terbuat dari kayu jati. ''Gereja itu sudah beberapa kali direnovasi tetapi tidak mengubah bentuk aslinya, hanya catnya yang sering diperbaharui,'' kata Rahmat Paska Rajaguguk, pengurus dan calon pendeta di Gereja Gereformeerd. Tepat di atas pintu masuk terdapat salib merah dan di atasnya terdapat lonceng raksasa yang selalu dibunyikan ketika akan mulai kebaktian. ''Meski tidak pernah diganti, suara lonceng masih tetap nyaring,'' katanya. Dalam sejarah perkembangannya, gereja yang jemaatnya terdiri atas berbagai suku antara lain Jawa, Menado, Ambon, Tionghoa, dan orang Belanda itu sempat mengalami pasang surut. Pada masa pendudukan Jepang sekitar 1943, Konsulen (pendeta utusan) yakni Ds de Jong dan keluarganya harus hidup di kamp tahanan. Setelah perang dunia kedua berakhir, sekitar 1946, Ds Van Eyk yang juga warga negara Belanda menjadi konsulen di tempat tersebut. Ia hanya empat tahun melayani di Gereformeerd dan diganti Ds Vlijm, kemudian Ds Eoosjen hingga pertengahan 1961. Selama 15 tahun, gereja Gereformeerd lebih banyak menerima bantuan pendeta Konsulen. Pada 14 Juni 1961, Ds Ran King Hien diteguhkan sebagai pendeta Gereja itu. Setelah itu, semua kebaktian dilakukan dalam bahasa Indonesia dan segala upacara disesuaikan dengan gereja-gereja Kristen di Indonesia. Pada 1960, gereja itu menggabungkan diri dengan Synode Gereja Kristen Indonesia Jateng. (Arie Widiarto-63s) |