logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 22 Desember 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Pencuri Motor Itu Pengurus OSIS

DILIHAT sepintas, penampilan fisik Farid Makruf (17) sangat jauh dari kesan kriminal. Mungkin pula sebagian orang akan merasa sangsi, jika pemuda pendiam tersebut ternyata memiliki track record yang cukup fantastis, mencuri dua sepeda motor dalam jangka waktu kurang dari dua bulan.

Pria berpostur kecil tersebut, sempat ''aman'' hingga kurang lebih satu bulan setelah melakukan aksi pencurian, dan menjual Suzuki Shogun R H-4597-M milik adik kelasnya, Elinda. Namun, ibarat pepatah ''sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga.''

Sehari setelah melakukan aksi kedua, yaitu mencuri motor GL Max H-5194-TD, milik adik kelasnya Tri Jumantoro, Farid Makruf dibekuk polisi. Motor belum sempat dijual, karena saat penangkapan diketahui dibawa Farid ke sekolah dan dititipkan di rumah seorang temannya. Rumah itu biasa untuk penitipan motor pelajar.

Penangkapan Farid tidak hanya mengejutkan rekan-rekan sekolahnya, namun juga sebagian pengajar di sekolah swasta itu. Bagaimana tidak, selain Farid selama ini dikenal sebagai anak pendiam, dia juga dinilai pandai membawa diri.

Bahkan, Farid kini menjadi ketua kelas. Selain itu, dia aktif sebagai pengurus OSIS. Pemuda itu juga sangat dekat dengan sejumlah guru.

Ditabung

''Meski bukan tergolong murid yang cerdas, Farid pandai membawa diri. Dia sangat penurut kepada kami. Sering saya melihatnya bersenda-gurau dengan para guru. Saking dekatnya, terkadang Farid juga diminta memijat di bagian leher seorang guru pria,'' papar seorang pengajar yang tidak ingin di sebutkan identitasnya.

Selama ini Farid juga dikenal sebagai seniman, selain pandai melukis, dia mahir bermain organ. Pada acara-acara kesenian, atau kegiatan seremonial di sekolahnya, dia selalu tampil sebagai pengisi acara hiburan. ''Meski diduga berbuat pidana, kami berharap pihak berwenang tidak memperlakukan Farid seperti pelaku kriminal lainnya,'' kata seorang guru.

Ketika ditemui di Mapolsek Patebon, Farid terlihat lebih banyak diam. Disinggung apa yang melatar-belakangi perbuatannya, seraya menahan rasa sakit akibat luka tembak di kakinya, dia berkata pendek dan lirih. ''Uang hasil penjualan sepeda motor saya tabung,'' katanya. (Setyo Sri Mardiko-63)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA