logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 22 Desember 2003 Ekonomi  
Line

Analisis Pasar Modal

Kinerja Bursa pada Pergantian Tahun (1)

ADA pertanyaan, bagaimana keadaan bursa pada akhir tahun 2003 dan awal 2004? "Menggembirakan!" Demikian jawaban sebagian investor untuk melukiskan keadaan dan sekaligus harapan atas keadaan pasar yang bullish saat ini.

Dalam melihat perkembangan dan prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara strategis dapat dilakukan melalui 3 pendekatan, yaitu pendekatan tren, perbandingan dengan tolok ukur standar kinerja internal perusahaan, serta pendekatan secara komparatif dengan bursa lain di pasar global.

Pendekatan komparatif dilakukan lewat cara membandingkan posisi IHSG terhadap posisi indeks harga saham di bursa lainnya.

Bursa lain yang digunakan sebagai pembanding adalah Dow Jones (New York), STI (Singapura), Hang Seng (Hong Kong), KLSE (Kuala Lumpur), FTSE (London), dan Nikei (Tokyo).

Keadaan sejak Januari 2003 hingga 19 Desember 2003 menunjukkan perkembangan IHSG naik sangat tinggi. Di Indonesia, periode bullish yang terjadi ditandai oleh kenaikan IHSG dari posisi 425 pada awal 2003 dan kini pada posisi 672 atau terjadi kenaikan 58%.

Selama waktu tersebut perkembangan indeks harga saham di bursa lain menunjukkan arah perkembangan yang beragam dibandingkan dengan kenaikan yang terjadi di Indonesia.

Peristiwa yang terjadi di pengujung 2001 dan 2002 merupakan peristiwa historis yang dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk melihat keadaan di pengujung 2003 ini.

Bagi para investor, Desember sudah menjadi mitos sebagai bulan window dressing. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas.

Window dressing adalah upaya mempercantik kinerja oleh pihak emiten melalui peningkatan nilai pasar saham. Pada keadaan tersebut investor yang mempunyai saham ikut menikmati kenaikan harga.

Pada akhir 2001, kondisi bursa dalam keadaan sepi yang ditandai oleh nilai transaksi yang rendah. Namun pada 28 Desember 2001 di menit-menit terakhir menjelang penutupan para investor terhenyak ketika melihat pembelian besar-besaran terhadap saham Telkom (TLKM), Indosat (ISAT), dan Gudang Garam (GGRM) pada berbagai tingkat harga.

Akibatnya, saham Telkom naik dari Rp 2.850 menjadi Rp 3.200, sedangkan saham Indosat dari Rp 9.050 menjadi Rp 9.450.

Keadaan pada akhir 2002 agak berbeda dari tahun 2001. Ketidakpastian peristiwa divestasi Indosat pada saat itu telah membayangi perkembangan pasar. Tutup bursa akhir tahun 2002 diwarnai oleh dampak peristiwa tersebut, berupa kegamangan pelaku pasar.

Transaksi perdagangan berjalan lamban dan IHSG berfluktuasi dalam kisaran plus 3 poin dan minus 3 poin. Pada menit-menit akhir tutup bursa transaksi perdagangan tertolong oleh aksi lanjutan window dressing berupa kenaikan harga beberapa saham unggulan, meskipun kenaikannya tidak signifikan. Saham Indosat turun sampai Rp 8.850, sedangkan pada menit-menit terakhir tutup bursa ada investor institusi yang memborong saham itu sehingga harganya naik menjadi Rp 9.350.

Harga saham Gudang Garam dari Rp 8.050 menjadi Rp 8.300 dan HM Sampoerna dari Rp 3.450 menjadi Rp 3.700. Dengan demikian pada akhir tahun 2002 IHSG tidak terperosok dalam dan ditutup melemah tipis 0,66 poin menjadi 424,94.

Pada pengujung tahun ini posisi IHSG menggembirakan, yaitu pada posisi 672. Seiring dengan kenaikan tersebut kenaikan sebagian besar jenis saham lapis atas ternyata sudah seirama dengan kenaikan IHSG. Dengan begitu pada umumnya posisi harga sahamnya sudah berada pada harga yang tinggi.

Dilihat pada tolok ukur standar internal harga saham dipengaruhi oleh nilai buku, tingkat return perusahaan, serta efisiensi pendapatan per lembar saham di pasar atau price earning ratio (PER).

Meskipun demikian masih dijumpai jenis saham dengan harga murah. Masih banyak saham yang baik dilihat dari nilai bukunya, return perusahaannya, dan masih diperdagangkan pada PER yang rendah. Itu berarti potensi harga sahamnya untuk meningkat sebenarnya masih terbuka.

Jadi peluang terjadi window dressing di pengujung tahun masih tetap ada, khususnya pada saham lapis kedua. Juga masih terdapat jenis saham pada lapis kedua yang kinerja atau keuntungannya bagus yang ditandai oleh angka PER yang rendah.

Indikator ekonomi makro saat ini dalam keadaan baik. Tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada posisi 8,4% dan kurs rupiah terhadap dolar AS Rp 8.490. Hal tersebut mendorong optimisme pasar memasuki tahun 2004.

Namun para investor bertindak rasional sehingga masih perlu dilihat berbagai faktor untuk melihat perkembangan bursa ke depan. Para manajer investasi mancanegara juga bertindak rasional dalam memilih bursa yang masih menjanjikan keuntungan.

(Sugeng Wahyudi, dosen Strategi dan Keuangan pada Program MM Undip-53i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA