logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 22 Desember 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Karyawan Rela Gajian Terlambat

PENGORBANAN karyawan PT Texmaco Jaya Pemalang terhadap perusahaan patut mendapat acungan jempol. Hal itu dibuktikan dengan kerelaan mereka menerima gaji terlambat karena uang perusahaan digunakan untuk melunasi tunggakan rekening listrik lebih dulu.

Dituturkan beberapa karyawan perusahaan tekstil terbesar di Pemalang itu, beban keuangan perusahaan sungguh berat. Oleh karena itu, mereka rela menerima gaji terlambat yang penting listrik tidak dicabut dan pabrik tetap berjalan. Dengan demikian, mereka tetap bisa bekerja.

''Gaji bulan November hingga kini belum dibayar karena uang perusahaan untuk membayar PLN,'' ujar Ketua Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Tekstil, Sandang dan Kulit Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PUK SP TSK SPSI) PT Texmaco Jaya Pemalang, Pranoto.

Karyawan yang rela terlambat menerima gaji itu adalah tingkat supervisor ke atas, sedangkan karyawan di tingkat bawahnya masih tetap menerima. Belum pengorbanan karyawan yang dirumahkan karena mereka hanya menerima 75% dari gaji pokok.

Sebelum ada pemadaman dua gardu listrik (semua ada tiga gardu di Texmaco), jumlah karyawan yang masih bekerja sejak perusahaan kolaps sebanyak 1.800 orang. Setelah gardu dipadamkan PLN pada 28 November lalu karena menunggak rekening listrik, sebanyak 1.150 karyawan dirumahkan sementara sehingga yang masih bekerja kini tinggal 650 orang.

Bingung

Karyawan yang bekerja digaji 100%, sedangkan yang dirumahkan 75%. Tragisnya, ketika karyawan yang dirumahkan mendapat giliran untuk masuk kerja pekan lalu, PLN hendak memadamkan lagi satu gardu yang masih tersisa. Itu artinya, seluruh listrik padam dan karyawan tak bisa kerja seluruhnya, alias pabrik tutup.

''Kami sudah beberapa minggu tinggal di rumah dengan kehilangan gaji 25%. Sekarang ketika masuk kerja, listrik mau dipadamkan semuanya. Bagaimana ini,'' ujar karyawan di bagian produksi bingung.

Oleh karena itu, karyawan sepakat apabila nanti PLN mau memadamkan lagi listrik yang masih tersisa menyala, mereka akan berjuang menahannya dengan berbagai cara.

Berdasarkan data di Kantor Unit Pelayanan dan Jaringan (UPJ) PLN Pemalang, Texmaco pada bulan November mempunyai tunggakan Rp 2,6 miliar. Lalu dibayar Rp 1,3 miliar, sisa Rp 1,3 miliar. Bila ditambahkan dengan rekening bulan Desember, total yang harus dibayar Rp 1.774.039.101.

Untuk melunasi tunggakan itu, Texmaco menawarkan dengan cara mencicil. Yaitu, pada 31 Desember akan dibayar Rp 703 juta, 31 Januari Rp 1,103 juta, dan Januari/Februari 2004 sebesar Rp 1 miliar. Apakah PLN akan menerima penawaran itu? Hingga kemarin PLN belum memutuskan. (Saiful Bachri-74n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA