
| Senin, 22 Desember 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
Rehabilitasi SD/MI Rusak Butuh Rp 10 M
BANYUMAS - Keterbatasan dana diakui masih menjadi penghambat proses rehabilitasi seratus lebih bangunan SD/MI di Kabupaten Banyumas yang sudah rusak. Perbaikan ataupun penggantian gedung baru pun terpaksa harus dilakukan secara bertahap. Perbaikan sekolah tertentu masih berjalan atau baru selesai, muncul usulan baru, dan begitu seterusnya. Persoalan tersebut mestinya mendapat perhatian tersendiri dari pihak-pihak terkait ataupun Pemkab. Pasalnya, sarana fisik bangunan yang memadai turut membantu kelancaran proses pembelajaran bagi anak didik. Ditambah pendidikan dasar juga merupakan kunci melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Belum lagi warga yang menyekolahkan anaknya, mayoritas juga di SD/MI. Persoalan tersebut diakui pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banyumas, Sabtu (20/12) kepada Suara Merdeka. Kasubdin TK/SD Dinas P dan K Subagyo mengatakan, bangunan SD/MI baik rusak berat maupun ringan yang belum tertangani hingga kini jumlahnya mencapai 136 buah. Bangunan SD sebanyak 99 buah dan MI 37 buah. Jumlah itu paling banyak berada di daerah rawan bencana alam dan daerah pinggiran yang mencapai 75%. "Adapun 120 bangunan lainnya sudah tertangani pada periode anggaran 2002-2003 ini dengan menelan dana sekitar Rp 9,28 miliar. Dananya dari APBD I, II, Dana Alokasi Khusus (DAK), dan dana hibah Belanda dan imbal swadaya APBB II," ujar Bagyo didampingi Eko Negsti Hadi, Kasi Sarana dan Prasarana. Usia Bangunan Subagyo menjelaskan, untuk merehab 136 bangunan itu minimal dibutuhkan dana sekitar Rp 10,5 miliar. Usulan pembangunannya sudah diajukan ke Bupati dan DPRD, Pemprov, dan Pemerintah Pusat. Bila disetujui, tambah Eko, pembangunannya akan dimulai pada periode anggaran 2004. Yang akan dibangun terlebih dulu berdasarkan skala prioritas, yakni yang mendesak sekali dan disesuaikan dengan usulan dari pihak sekolah dan Dinas P dan K cabang kecamatan. "Sekolah atau ruangan yang rawan atau sudah rusak bisa dikosongkan dulu. Proses belajar mengajarnya bergantian di ruangan lain atau dipindahkan ke tempat yang relatif aman sambil menunggu rehabilitasi dilakukan," kata Subagyo. Eko mengatakan, dari hasil kajian dinasnya, penyebab kerusakan bangunan sekolah tersebut karena rata-rata usia bangunan sudah tua, melebihi usia teknis bangunan yakni sekitar 20 tahun. Kebanyakan SD/MI itu, tambah dia, dibangun pada zaman Inpres tahun 1980-an. (G22-20n) |