logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 22 Desember 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Dalam Gelap, Tholib Menambal Ban

LUAR biasa. Begitu mungkin kalimat yang tepat ditujukan kepada Tholib (48), warga Jl Lombok Cilacap. Betapa tidak. Meski kedua matanya buta total, ternyata sudah 28 tahun dia bekerja sebagai tukang tambal ban. Sebuah pekerjaan yang lazim hanya dikerjakan oleh orang yang berpenglihatan normal.

"Saat ini saya buka tambal ban di Jl Gatot Subroto, sebelah utara terminal," kata Tholib kepada wartawan. Dia menuturkan, keahlian menambal ban dia kuasai sejak 1975 setelah dia belajar dari ayahnya, Muhayat, yang juga menjadi tukang tambal ban.

"Pada waktu itu saya berusia 15 tahun. Saya berusaha keras agar mampu menjadi penambal ban dengan segala kekurangan yang ada pada saya," tambahnya.

Pada awalnya Tholib ragu apakah dia bisa belajar menambal ban dengan kebutaannya. Namun, didorong oleh keinginan mendapatkan penghasilan, dia gigih belajar menambal dalam kegelapan.

Dia menyebutkan, setiap pukul 08.00 pagi dia keluar dari rumah. Dalam gelap dia berjalan sambil menyeret kompresor beroda menuju bengkelnya, sekitar 100 meter lurus ke barat dari rumahnya.

"Bengkel saya buka siang hingga malam. Saya menunggu mereka yang ban kendaraannya bocor. Bila ada, saya tambal, bila tak ada saya ngobrol dengan teman atau tiduran di lincak bambu dan baru tutup pada pukul 22.00. Begitu setiap hari," kata pria beranak tiga dan enam cucu itu.

Dia mengemukakan, dirinya merupakan anak pertama pasangan Thoyyinah dan San Muhayat. Dia lahir di Cilacap pada 12 Juni 1955. Sebetulnya Tholib lahir normal, kedua matanya bisa melihat seperti anak-anak lain.

"Kebutaan saya datang akibat mata saya tertusuk pisau saat bermain perang-perangan dengan anak-anak lain saat kecil," katanya.

Pisau yang digunakan lawan main secara tak sengaja menusuk salah satu mata Tholib. Ayahnya, lanjut Tholib, saat itu bingung bukan kepalang melihat dirinya menangis menjerit-njerit sambil menutupi mata dengan tangan. Ayahnya lebih terkejut setelah kedua tangan Tholib dibuka, matanya berdarah.

Umur 7 Tahun

Setelah menjalani pengobatan maksimal, Tholib dinyatakan buta sebelah, yang kemudian akhirnya menjadi buta total setelah mata satunya juga tidak dapat digunakan untuk melihat. Akibatnya, sejak umur tujuh tahun, Tholib menjalani kehidupan dalam kegelapan total.

"Namun saya yakin dengan kebesaran Allah. Walau buta saya berusaha keras menjalani hidup. Saya ikut berbagai kursus keterampilan bagi penyandang cacat tunanetra dan diajari ayah menambal ban," katanya.

Hasilnya, sejak 1975 dia bisa mendapat penghasilan dari kemampuannya menambal ban ditambah keahlian lain. Kini Tholib memiliki tiga anak dan sejumlah cucu hasil perkawinannya dengan Suminah.

Ketika ditanya tentang berapa besar penghasilannya setiap hari, Tholib tidak menyebutkan. Namun menurutnya pekerjaan tersebut, digabung dengan keahliannya memijat, mampu memberikan pemasukan yang cukup bagi dirinya.

Dia mengatakan, sejumlah kecelakaan menyertai perjalanan bengkelnya. Antara lain, kebakaran. "Yang paling parah, kebakaran pada tahun 1978. Api datang akibat kaki saya menendang jerigen berisi minyak yang kemudian berubah menjadi api besar setelah terkena alat bakar ban. Api melalap ludes bengkel saya dan saya harus menginap di RS Cilacap selama 24 hari," katanya.

Saat itu dirinya stres dengan kejadian tersebut dan berniat berganti pekerjaan. Namun walau mencoba beberapa pekerjaan, akhirnya dia kembali ke pekerjaan utama sebagai penambal ban. Keahliannya yang lain, seperti memijat, hanya digunakan sewaktu-waktu bila ada yang membutuhkannya. (Mohamad Sobirin-20e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA