
| Senin, 15 Desember 2003 | Tajuk Rencana |
Penjarahan Hutan, Bencana, dan Krisis Air- Wagub Drs Ali Mufiz MPA mengemukakan, tanggal 14 Januari depan ini akan dicanangkan gerakan rehabilitasi hutan secara nasional. Jutaan hektare hutan yang rusak atau yang sudah gundul akan menjadi sasaran penghutanan kembali. Ali Mufiz mengemukakan hal itu ketika menanggapi pendapat tentang banjir dan bencana alam lain di Jateng dan berbagai daerah di Tanah Air di awal musim hujan ini. Masalah itu mengemuka dalam forum Gebyar Campursari Program 100 Hari Gubernur Jateng H Mardijanto Sabtu malam lalu. Dalam program itu hutan gundul dan usaha rehabilitasi tak mungkin tercakup karena butuh penanganan jangka panjang.
- Yang dikemukakan Wagub mengingatkan kita kepada masalah hutan yang penuh kontradiksi. Kontradiksi antara hutan rusak berbanding yang lestari yang makin njomplang. Yang rusak terus makin luas meskipun sudah ada usaha rehabilitasi. Pencanangan tanggal 14 Januari yang akan datang mengingatkan kita kepada upacara-upacara serupa di masa lalu. Yaitu upacara gerakan penghijauan nasional yang biasa dilakukan pada bulan Desember. Dari satu provinsi ke provinsi lain secara bergiliran. Pencanangan biasanya dilakukan oleh presiden dengan memukul kentongan doro muluk. Para pejabat dan rakyat kemudian bareng-bareng menanam tanaman keras di lahan-lahan gundul.
- Dengan gerakan yang dilakukan di awal musim hujan tiap tahun diharapkan tanah-tanah gundul akan kembali hijau. Banyak yang bisa diselamatkan oleh tanah-tanah yang hijau rimbun. Namun kenyataan kemudian membuktikan hal lain. Hal itu antara lain bisa kita baca pada data yang diungkapkan seorang aktivis Forest Watch Indonesia yang mengikuti sidang CGI di Jakarta pekan lalu. Dalam forum yang membahas kebutuhan utang bangsa tahun depan, terungkap angka-angka tentang kerusakan hutan yang mencengangkan. Terus meningkat tiap tahun, bukan menurun berkat gerakan penghijauan. - Pada awal tahun 1980-an kerusakan hutan di negara ini rata-rata mencapai satu juta hektare per tahun. Pada tahun 1990-an angka itu meningkat menjadi 1,6 juta hektare/tahun. Tahun 1996 menjadi sekitar 2 juta hektare/tahun dan tahun 2000-an sudah menjadi 3,8 juta hektare/tahun. Angka-angka kerusakan hutan terus meningkat dari tahun ke tahun, berkebalikan dengan gerakan penghijauan nasional yang dicanangkan tiap tahun. Apakah hal itu berarti gerakan penghijauan tersebut tidak ada hasilnya sama sekali? Apa penyebabnya? Apakah karena gerakan itu sekadar hura-hura tanpa tindak lanjut, ataukah ada faktor lain?
- Angka kerusakan hutan sesudah tahun 1996 tampak melonjak sangat fantastis. Data itu mengingatkan kita kepada penjarahan hutan, baik hutan industri maupun hutan lindung, yang terjadi di banyak sekali kawasan hutan. Di Jateng misalnya, penjarahan hutan jati terjadi sangat luar biasa. Termasuk terhadap pohon-pohon jati yang tergolong masih muda. Hutan jati yang dijarah habis sampai gundul sama sekali antara lain terjadi di Blora, Jepara, Pemalang, Banyumas dan lain-lain. Jutaan hektare hutan aneka kayu lainnya di Sumatra dan Kalimantan menjadi jarahan kaum berduit yang terjadi secara sistematis.
- Sudah banyak peringatan terhadap bangsa ini tentang bencana alam akibat penjarahan hutan. Baik dari para ahli, lembaga-lembaga internasional maupun alam. Kita sendiri sudah melihat bencana itu. Misalnya banjir kiriman campur lumpur di kaki Gunung Arjuna Jatim, di Pacet Jawa Barat , di Batulawang, Sumatra, serta banjir musiman di berbagai daerah Jateng, Jatim, Jabar, dan banyak daerah lain. Juga ada peringatan tentang ancaman krisis air bersih di masa depan. Kalau 14 Januari bakal ada pencanangan rehabilitasi hutan, hendaknya kita semua mau belajar dari hal serupa di masa lalu. Jangan cuma pukul kentong tanpa tindak lanjut pemeliharaan, kontrol dan lain-lain. Kecuali itu setop penjarahan hutan oleh kaum berduit. |