
| Senin, 15 Desember 2003 | Surat Pembaca |
Islah, Pelemah HukumIndonesia adalah Negara Hukum yang berarti perilaku perbuatan harus berdasarkan hukum atau UU yang dibuat Pemerintah. Jadi siapa saja yang melanggar ketentuan hukum jika tertangkap harus ditindak/diadili berdasar hukum dalam KUHP/Perdata. Oleh karena itu Pemerintah harus menegakkan supremasi hukum. Namun dalam pelaksanaan, penegakan hukum memiliki banyak kelemahan akibat perbuatan oknum-oknum penegak hukum sendiri. Mereka bermental serakah untuk mementingkan diri pribadi dan golongannya. Selain itu juga ada salah satu tindakan masyarakat yang disebut/bernama islah, atau bisa disebut kompromi yang dilakukan mereka yang tidak propenegakan supremasi hukum. Akibat adanya islah, orang yang benar-benar salah/melanggar hukum bisa selamat/aman. Islah identik dengan kompromi atau saling memaafkan kesalahan dari kedua belah pihak yang tidak merugikan banyak orang. Meskipun begitu, karena Indonesia berdasarkan hukum, sebaiknya tidak memberlakukan penyelesaian kasus pelanggaran hukum dengan islah. Sebab jika dibiasakan (karena yang melanggar hukum oknum pejabat) bisa menimbulkan irihati masyarakat yang menghendaki penyelesaian perkara. Misalnya hasil copetan berupa uang dikembalikan, habis perkara, dan lain hari mencopet lagi. Jika begitu, tak akan ada orang yang ditahan, diadili, dipidana. Sebab pelanggar hukum yang tertangkap bisa melakukan islah. Pemerintah harus benar-benar berani menegakkan supremasi hukum. Siapa saja yang melanggar hukum harus ditindak sesuai ketentuan yang berlaku. Metese Mulyono
***
Ucapan yang Kurang Santun
Saya orang Pati pemerhati dan sering mengikuti acara partai yang dipimpin Bapak Supito, baik di Semarang maupun di Kota Pati. Dalam setiap acara penting, Bapak sebagai pimpinan sidang sering mengucapkan kata - kata yang kurang pas, kurang santun. Saya tahu, sebagai seorang politikus ucapan Bapak bertujuan untuk membikin mental lawan jatuh atau memberi semangat kepada kader. Akibatnya sebagian kader menilai kurang/negatif. Mereka kasak kusuk, bahkan ada yang menganggap merah hitamnya partai tersebut di tangan Bapak. Di alam demokrasi, beda pendapat boleh dan mereka tak luka atas ucapan Bapak, namun ada pula kader yang tak berani bicara jujur apa adanya. Kader di bawah merasa selama ini bekerja keras sehingga Bapak - bapak yang terhormat bisa duduk di kursi empuk, enak dan dapat fasilitas wah ... . Karenanya bila ada petinggi partai bicara memperlihatkan arogansinya, perasaan mereka jadi sensitif. Warga membutuhkan pemimpin karismatik, yang punya rasa kebersamaan bukan pemimpin yang lain. Harapan saya, bila elite partai turun ke daerah, bicara di depan kader agar lebih santun dan mencerminkan kita adalah saudara seperjuangan. Kader pun akan menghormati dan memberi senyum tulus. Surat terbuka ini inisiatif saya sendiri, bukan demi kepentingan seseorang atau ada hubungannya dengan Caleg 2004. Saya sadari betul konsekuensi membikin surat terbuka ini, Bila Bapak Supito dan petinggi partai merasa tersinggung, saya minta maaf. Tujuan saya agar kader maupun warga partai berani bicara benar, belajar berdemokrasi dan berpolitik yang baik. Punya Idealisme, komitmen dan rasa tanggung jawab membesarkan partainya. Brian Fredy Frayitno
***
Terima Kasih TelkomPanitia pembangunan masjid Al Wali Semarang berterima kasih kepada pimpinan PT Telkom Divre IV Jateng/DIY atas bantuan seperangkat lampu penerangan masjid. Kepedulian instansi ini terhadap tempat peribadatan bukan yang kali pertama dilakukan. Ini merupakan bukti semboyannya bukan isapan jempol, tetapi nyata dan berdimensi luas bagi hajat hidup orang banyak serta tidak memfokuskan pada pelanggan saja. Terima kasih, teruskan cita-citamu dalam membangun bangsa dan negara untuk kemakmuran bersama. Drs H Sunardi DS (Ketua)
***
Untuk Polres Banyumas
Sehubungan penahanan Sdr Rusdyanto di Polres Banyumas berkaitan dugaan penipuan senilai kerugian Rp 500 ribu, saya merasakan adanya kejanggalan. Pertama, mengapa terhadap kasus yang nilainya sebesar itu tersangka harus ditahan. Setahu saya di Banyumas banyak kasus yang nilai materialnya lebih dari itu, tetapi tersangkanya bebas berkeliaran, termasuk kasus korupsi yang bernilai jutaan rupiah. Kedua, apa yang dijadikan dasar hukum penahanan. Apakah dikhawatirkan akan melarikan diri atau apakah ketika dipanggil ke Kepolisian dia tidak datang. Ketiga, apakah dia diduga ada indikasi menghilangkan barang bukti. Barang bukti apa yang akan dihilangkan, bukankah alat bukti mutlak yang berupa kuitansi justru tak ada di tangannya, melainkan di tangan pelapor. Atau apakah dia diindikasikan akan mengulangi perbuatannya. Kalau alasan ini yang dijadikan justifikasi (alasan dasar hukum) satu-satunya, maka Polisi telah bersikap naif, arogan dan diskriminatif. Banyak kasus lebih besar yang diduga pelakunya akan melarikan diri atau bahkan menghilangkan barang bukti, ternyata tidak ditahan. Saya merasakan Polres Banyumas tak bersikap obyektif. Saran untuk Bapak Kapolda, agar mengambil langkah sehingga tidak menjadi preseden buruk. Juga tidak berkesan Polisi Banyumas kurang bersikap netral. Citra Polisi yang baik di mata masyarakat akan tercemar hanya masalah semacam ini. Achmad
***
Parkir di Mal Ciputra
Hati-hati parkir di Mal Ciputra Semarang terutama bagi pengendara roda dua karena salah satu petugas parkirnya kurang menghargai konsumen. Tanggal 22 November 2003 pukul 11.15 WIB, saya mau parkir kendaraan di belakang dekat apotek. Pada waktu saya dan kendaraan yang lain sedang antre, ada sebuah mobil yang akan parkir. Seorang petugas parkir menyuruh kami mundur untuk memberi jalan mobil tersebut. Saat itu saya akan mundur tetapi kesulitan karena ada kendaraan di belakang saya. Sedang kendaraan di depan saya sudah berjalan maju. Saya memajukan kendaraan sehingga terbuka jalan bagi mobil yang akan parkir itu. Namun saya terkejut ketika tiba-tiba petugas parkir tersebut menarik bahu sebelah kiri saya dengan kasar. Untung saat itu saya memakai jaket kalau tidak mungkin sudah robek baju ini. Dia memaki-maki kepada saya seorang wanita. Yang paling mengejutkan, dia mengatai saya dengan sebutan yang sama sekali tidak pantas. Ternyata dia berbuat "sebaik" itu terhadap saya demi memperoleh uang tip dari pengendara mobil. Kalau ingin mendapatkan tambahan penghasilan sah-sah saja. Tetapi jangan dengan cara preman. Mohon pihak manajemen Mal Ciputra memperhatikan hal ini. Jangan sampai citra Anda rusak gara-gara petugas parkir tersebut. Susi |