
| Senin, 15 Desember 2003 | Berita Utama |
Saddam Tertangkap
TIKRIT - Pasukan pendudukan AS akhirnya menangkap Saddam Hussein, presiden Irak yang digulingkan lewat invasi April lalu, dalam suatu penggerebekan Sabtu tengah malam waktu setempat (Minggu pagi WIB) di Tikrit, Irak utara. ''Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, kami telah menangkapnya,'' kata Paul Bremer, pemimpin pemerintahan pendudukan AS di Irak, dalam suatu pengumuman lewat televisi. ''Dia sekarang kami tahan.'' Letjen Ricardo Sanchez, panglima pasukan AS di Irak, memutar video yang menunjukkan saat-saat Saddam ditangkap. Bekas orang kuat Irak itu tampak berambut gondrong, dengan jenggot panjang tak terurus yang memutih. Dia menjalani pemeriksaan kesehatan oleh dokter militer Amerika. Menurut Sanchez, buronan nomor satu AS itu tidak mengalami luka-luka. Dia pun bersedia bekerja sama dengan baik dengan para penangkapnya. Suatu unit pasukan Divisi Infanteri IV dan pasukan operasi khusus, menangkapnya di sebuah rumah di kawasan pertanian Tikrit. ''Hari ini adalah hari raya bagi rakyat Irak dan koalisi,'' kata Sanchez. Tidak satu peluru pun ditembakkan dalam operasi penangkapan Saddam (66). Operasi itu, yang dinamakan ''Operation Red Dawn'', dilancarkan berdasarkan informasi intelijen yang dikumpulkan selama berbulan-bulan. Tes DNA Di London, PM Inggris Tony Blair berkomentar: ''Ini berita baik bagi rakyat Irak. Ketakutan akan kembalinya rezim Saddam, telah hilang.'' Di Madrid, Abdul Aziz al-Hakim - pimpinan Dewan Pemerintahan Irak bentukan AS - mengatakan, tes-tes DNA telah mengukuhkan bahwa tersangka yang ditangkap dalam penyerbuan di Tikrit itu adalah Saddam. ''Saya dengan senang hati mengumumkan atas nama rakyat Irak, bahwa Saddam Hussein telah ditangkap,'' katanya, dalam suatu konferensi pers bersama dengan Menlu Spanyol Ana Palacio.
Tariq Azis, mantan deputi PM Irak, disebut-sebut membantu pula mengindentifikasi Saddam. ''Dia membantu mengidentifikasi,'' kata seorang pejabat, yang tidak bersedia disebutkan jati dirinya, kepada Reuters. Mantan penguasa Irak itu tampak kumuh penuh debu, dan kelihatan kecapaian luar biasa saat ditemukan bersembunyi di dalam lubang kecil, di dalam sebuah rumah pertanian. Azis, yang menyerahkan diri kepada pasukan Amerika tidak lama setelah Saddam digulingkan April lalu, ditahan di Bandara Bagdad sejak tujuh bulan lalu. Dia ikut pula mengidentifikasi mayat Uday dan Qusay yang tewas ditembak tentara AS, Juli lalu. Di Bagdad, ratusan warga Irak memenuhi jalan-jalan. Mereka menembakkan senjata api ke atas, bernyanyi, menari, dan melemparkan permen. Mereka merayakan penangkapan sosok yang pernah memerintah mereka selama 30 tahun. Video tentang penggerebekan Saddam, yang secara ekslusif diambil oleh kamerawan CNN Alphonso Van Marsh, memperlihatkan suatu unit pasukan AS bersorak sorai, dan berfoto bersama di depan sebuah kendaraan militer, setelah berhasil menangkap bekas pemimpin Irak tersebut. Uday and Qusay, dua putra Saddam yang juga menjadi buruan utama pasukan koalisi, tewas pada Juli lalu setelah pasukan AS menyerbu tempat persembunyian mereka di Mosul. Dalam beberapa pekan terakhir, Letjen Ricardo Sanchez terus dicecar para wartawan yang ingin mengetahui status pencarian mantan presiden itu. ''Amat sulit menemukannya,'' kata jenderal bintang tiga tersebut, pada keterangan pers pada awal bulan ini. ''Taruhlah saya tidak bakal dapat menemukannya, membunuhnya, atau menangkapnya. Maka, saya butuh bantuan rakyat Irak. Bersama-sama, kita akan dapat menemukannya, menangkapnya, atau membunuhnya,'' katanya, pada waktu itu. Washington menempatkan nama dan gambar Saddam paling atas dalam ''daftar 55 orang Irak paling dicari''. Siapa saja yang dapat membantu menangkapnya, akan diberikan hadiah 25 juta dolar AS (Rp 200 miliar lebih). Sorang warga Irak yang menunjukkan tempat persembunyian Uday dan Qusay, telah mendapatkan hadiah 30 juta dolar dan suaka di suatu tempat yang dirahasiakan di AS. 17 Tewas Dibom Beberapa saat sebelum berita tentang penangkapan Saddam tersebar, sebuah bom mobil jibaku meledak lagi di sebuah pos polisi Irak, menewaskan 17 anggota polisi dan melukai 30 lainnya, kata Letnan Polisi Faiz Mohammad Motab. Asap hitam membumbung di atas pos polisi yang diserang bom jibaku itu, yang terletak di Desa Khalidiyah yang bergolak, sekitar 60 kilometer sebelah barat Bagdad,. Beberapa mobil ambulans didatangkan dengan cepat ke tempat kejadian dan mengevakuasi para korban ke kota Ramadi. Sumber rumah sakit di Ramadi, 110 km Bagdad, mengatakan sedikitnya 17 orang tewas. Militer AS memberikan konfirmasi tentang serangan bom mobil tersebut, dan mengatakan ledakan maut itu terjadi pukul 08.40 waktu setempat (12.40 WIB), Minggu. ''Tidak ada korban di kalangan pasukan koalisi,'' kata seorang juru bicara militer Amerika. (rtr-cnn-ed-30) | |||||