logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 15 Desember 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

70% Bangunan SD Rusak

DEMAK- Sekitar 70 persen dari 571 unit bangunan SD Negeri di Kabupaten Demak, rusak berat. Pemkab akan memperbaiki dengan dana alokasi khusus (DAK), dana alokasi umum (DAU), maupun APBD 2003.

''Bangunan SD yang rusak ini hampir semua dibangun tahun 1983, 1985, dan 1987. Kerusakan itu rata-rata akibat kualitas bangunan jelek, dan atap terbuat dari asbes dan seng yang berkarat. Bila turun hujan ruangan kelas itu bocor,'' kata Ketua Komisi E DPRD Demak H Muhtarom SH, kemarin.

Atap SD yang terbuat dari seng itu, dinilai sangat mengganggu konsentrasi para siswa. Terutama di saat musim penghujan, karena bunyi air yang jatuh di atap seng menimbulkan suara keras dan memekakkan telinga murid. Sedangkan pada musim kemarau ruangan kelas terasa pengap dan suhu panas. Karena itu atap yang cukup bagus dibuat dari genting dan berplafon eternit.

Selain SD negeri, lanjut dia, jumlah SD swasta yang rusak 4 unit, SLB 2 unit, SLTP 20 unit, SMU 15 unit, dan SMK 6 unit. Untuk kerusakan bangunan SD swasta ini disebabkan kualitas bangunan tak memenuhi standar, bahkan ada kecenderungan bangunan itu tak sesuai dengan bestek, dan sudah berusia tua.

Pembangunan gedung-gedung SD yang rusak/roboh, didanai dengan menggunakan alokasi anggaran APBD murni 2003. Setidaknya di Kabupaten Demak ada sekitar 49 SD Negeri dan 14 MI yang sudah diperbaiki pemerintah.

Muhtarom menambahkan Pemda mengalokasikan perbaikan dengan DAU sebesar Rp 1,34 miliar, dan DAK mencapai Rp 3,19 miliar. Selain itu, ada tambahan DAK untuk perbaikan 14 MI sebesar Rp 1,45 miliar.

Sementara itu, kondisi MI Nahdlotut Tolibin di Desa Klitih, Karangtengah, juga dalam kondisi rusak. Bangunan madrasah itu membutuhkan rehab dan perbaikan sarana belajar dari Pemkab Demak.

Mantan pengajar madrasah itu, Mustain SAg mengungkapkan, kondisi fisik MI itu sudah rusak, dinding terbuat dari papan kayu, dan lantai bercampur tanah. Plafon eternit juga berlobang, sehingga jika turun hujan ruangan kelas menjadi bocor. Agar tidak terganggu proses belajarnya, anak-anak dipindahkan ke masjid terdekat.

''Kami mohon pada Pemkab, atau Bupati untuk memperhatikan kondisi MI Nahdlotut Tolibin di Desa Klitih. Apalagi sekolah itu juga tak memiliki kantor untuk guru,'' kata Mustain. (F2-84)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA