logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 15 Desember 2003 Budaya  
Line

Membaca Kebaya, Membaca Budaya

DI Hall SEU Undip Semarang, Sabtu-Minggu (13-14/12), Victoria Cattoni -seniman Australia berdarah Italia- menggelar pameran, workshop, dan diskusi yang melengkapi video performance bertajuk ''Membaca Kebaya'' (Reading the Kebaya).

Sejak dibuka Sabtu pukul 16.00, pengunjung segera menemukan dua jajaran kebaya bergantung di rak, kemudian dua buah teve dan proyektor yang masing-masing memperlihatkan ''model-model'' berkebaya yang tengah berbicara mengenai pakaian itu.

Sekilas, pergelaran itu sangat tidak menarik. Hanya melihat model-model (sebagian perempuan) di layar kaca atau layar lebar yang disorot proyektor dan berbicara mengenai kebaya.

Tapi tunggu dulu! Bila disimak, ungkapan para model mengenai kebaya cukup menarik dari sisi keberagaman persepsi. Apalagi, keempat video itu dibuat di empat kota berbeda, sehingga secara tak langsung mendedahkan latar budaya yang berlainan.

Victoria sendiri terpikat kebaya sejak tiga tahun lalu (2001). Hingga akhirnya ia serius melakukan ''pembacaan'' terhadap jenis pakaian yang menjadi identitas nasional kita itu. Uniknya, dia hanyalah seorang seniman murni yang tak terlalu perlu membuat kerangka teoritis mengenai objek yang jadi ajang berkaryanya.

Alih-alih bicara soal kebaya, Victoria malah menyerahkan persepsi tentang hal itu pada model yang dimintanya mengenakan busana itu. Menariknya, modelnya berasal dari latar kultural berbeda. Dan dari situlah lalu terungkap bagaimana kebaya dipahami orang dengan budaya berbeda-beda. Bukan dari mulut Victoria. Perempuan itu hanya membuat video mengenai pernyataan-pernyataan model yang diminta berkebaya.

Julia Suryakusuma, seorang penulis, mengomentari proses Victoria sebagai berikut: ''Ia telah membuat suatu eksperimen menarik, cerdik, sekaligus unik. Dia menggunakan kebaya sebagai alat perangsang perempuan berbicara mengenai persepsi dirinya. Pembicaraan berawal dari kebaya, tapi lalu berkembang menjadi wacana mengenai nilai-nilai masyarakat mengenai perempuan.''

Ya, itu yang terjadi paling tidak di empat tempat, pada perempuan yang memiliki latar kultural berbeda. Dengar pula komentar Asikin Hasan yang menjadi kurator atas karya Victoria.

''Bagi Victoria, kebaya itu pintu masuk untuk melihat Bali (dan Jawa). Dia serius mencari literatur mengenai kebaya. Hingga akhirnya dia mampu melihat kebaya dengan spektrum lebih luas.''

Beragam Persepsi

Beragam persepsi mengenai kebaya memang muncul. Dia pun memberi judul karyanya dengan berbeda pula. Di Semarang, video yang diambil beberapa bulan lalu dengan menampilkan lima model perempuan itu bertajuk ''Kebaya Press Body''.

Di Jakarta, yang di antaranya menampilkan novelis Ayu Utami, tajuk karyanya adalah ''Reading the Kebaya''. Di Bali, karyanya diberi nama ''Kebaya Mix'', sedangkan di Darwin, Australia, karyanya berjudul ''Tamasya Kebaya''.

Memang muncul persepsi beragam yang oleh Victoria dimaksudkan sebagai ''cara perempuan mengungkapkan dirinya setelah berkebaya''. Bisa disebut beberapa, misalnya yang dijumpai pada model dari Semarang, bahwa kebaya mungkin menarik kalau dipakai ke mal, atau bahwa seorang model mengaku tak merasakan kesakralan kebaya, atau model yang lain mempersepsi kebaya sebagai ingatan ketika kecil ikut ''pesta'' perayaan Hari Kartini.

Dari keberagaman persepsi itulah, apa yang dikatakan Julia Suryakusuma seolah-olah menemukan titik pembenaran. Apalagi bagi Victoria, proyek yang dengan serius dilakukannya itu menjadi semacam refleksi atau sebaliknya malah menguji identitas kultural si pemakai.

Jadi, membaca kebaya pada akhirnya juga membaca budaya si pemakai. Dan itu salah satu yang dituju Victoria Cattoni, perempuan kelahiran tahun 1959 yang telah tinggal di Bali selama lima tahun itu. Acara digelar Laboratorium Fakultas Sastra Undip, Magister Ilmu Susastra Undip, Teater Emka, dan Lengkong Cilik.(Saroni Asikin-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA