logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Desember 2003 Berita Utama  
Line

Bantuan APBD untuk Masjid Diterima Utuh

  • Hari Ini Pengurus Klarifikasi ke DPRD

SEMARANG - "Saya sangat terkejut saat membaca berita di koran, telah terjadi pemotongan dana bantuan APBD Jateng untuk tempat ibadah di Dukuh Kwangsan (bukan Wangsan seperti diberitakan sebelumnya), Simo, Kabupaten Boyolali. Sebab, dulu saya yang mengurus usulan untuk memperoleh bantuan itu dan waktu itu tidak ada laporan tentang pemotongan dana," kata Drs Djamhari Hasan, warga RT 1 RW 8, Kelurahan Banyumanik, Semarang, Minggu (7/12).

Seperti diberitakan (Suara Merdeka, 5/12 dan 6/12), Kabid Penelitian dan Investigasi KP2KKN, Boyamin, mengungkapkan adanya dugaan pemotongan dana bantuan APBD untuk sebuah masjid di Kwangsan, Simo, dan panti asuhan. Semula dana bantuan untuk masjid itu Rp 10 juta, tetapi kemudian diminta kembali Rp 7,5 juta. Dana untuk panti asuhan Rp 50 juta dipotong Rp 15 juta.

Djamhari mengatakan, begitu membaca berita di koran, dia segera menelepon adiknya, Drs Panut Aziz, yang menjadi bendahara pembangunan dan dijawab, keterangan yang menyebutkan adanya pemotongan dana itu tidak benar. Dana diterima utuh dan sudah dimanfaatkan seluruhnya untuk pembangunan masjid.

Djamhari menjelaskan, waktu itu dirinya aktif mengurus pengajuan proposal permintaan dana bantuan karena desakan adiknya, Panut. Dia pun menyampaikan proposal itu kepada DPRD dan akhirnya disetujui. Dana dicairkan dengan menggunakan rekening bank milik seorang tokoh di Simo yaitu Ngatirin Hadi Siswoyo.

Pasalnya, saat itu di antara panitia pembangunan masjid tidak ada yang punya nomor rekening di bank. Karena pencairan dana harus lewat Bank BPD Boyolali maka harus menggunakan rekening seseorang.

Diungkapkan Djamhari, setelah pencairan dana bantuan dia beberapa kali datang ke desa itu karena desa itu tempat kelahirannya. Saat pulang ke desa, ia pun pernah menanyakan masalah pencairan dana kepada Panut, Bendahara Panitia Pembangunan Masjid dan dikatakan oleh Panut, tidak ada masalah dan telah diterima secara utuh.

Pihak Lain

"Namun waktu itu disebutkan, ada pihak lain yang mengaku berjasa dalam pengajuan proposal, lalu meminta fee. Panitia ketika itu memang membuat dua proposal, satu diajukan ke DPRD Jateng lewat saya dan satunya lewat pihak lain. Saya yakin, yang berhasil adalah pengajuan proposal lewat saya karena setelah proposal disetujui, pihak Dewan bertanya kepada saya tentang rekening panitia untuk pengiriman dana bantuan."

Dia tidak tahu apa ada hubungan antara informasi yang dilontarkan KP2KKN dan peristiwa permintaan fee dari pihak lain. "Yang jelas, penerimaan bantuan sudah lama dan selama ini tidak pernah ada masalah. Kok sekarang, tiba-tiba diributkan ada pemotongan."

Sumber di Pemprov Jateng menyebutkan, berdasar surat pernyataan panitia, dana itu diterima pada 13 Desember 2001. Dana itu diambil dari APBD perubahan tahun tersebut. "Yang menandatangani adalah Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Sukijan, Sekretaris Drs A Wayudi, dan Bendahara Drs Panut Aziz," katanya sambil menunjukkan fotokopi surat pernyataan itu. Surat pernyataan tersebut dilengkapi fotokopi pencairan dana dari BPD atas nama rekening Ngatirin.

Adapun dana bantuan untuk Panti Asuhan Anak Yatim Aisyiah Simo sebesar Rp 50 juta diterima 2 Juli lalu. Pengurus juga membuat surat pernyataan penerimaan dana itu pada 4 Juli lalu yang ditandatangani Ketua Panti, Hj Suratmi SPd.

Diperoleh keterangan, pengurus Masjid Al-Fatah dan panti asuhan, pagi ini akan menemui DPRD untuk menyampaikan klarifikasi sehingga Dewan memperoleh informasi yang sebenarnya. (C2-13n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA