logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Desember 2003 Tajuk Rencana  
Line

Peta Jalan Damai Butuh Terobosan

- Ada dua kejadian penting di Timur Tengah berkaitan dengan usaha menggulirkan kembali perundingan damai dalam sepekan terakhir. Utusan AS, William Burns, melakukan diplomasi cepat dengan menemui beberapa tokoh penting di sana. Mula-mula bertemu dengan PM Israel Ariel Sharon, PM Palestina Ahmed Qorei, dan terakhir dengan Raja Yordania Pangeran Abdullah. Belum ada gambaran, apakah pembicaraan dengan sederet pemimpin itu akan bisa menggulirkan kembali perundingan damai dalam kerangka Peta Jalan Damai. Bahwa Pangeran Abdullah merencanakan bertemu dengan Presiden Bush di Washington, Kamis mendatang, itu isyarat bahwa jalan masih panjang.

- Di Jenewa terjadi peristiwa lain lagi yang berkaitan dengan masalah tersebut. Pertemuan oposisi Israel dengan sejumlah perunding Palestina telah melahirkan beberapa butir penting yang disebut Kesepakatan Jenewa. Tiga butir itu adalah rekomendasi pembentukan negara Palestina sebelum 2005, pembekuan perumahan Yahudi di daerah pendudukan, dan pembebasan tahanan Palestina oleh Pemerintah Israel. Pertemuan itu memang dimaksudkan untuk menemukan rumusan perdamaian alternatif di tengah-tengah kekakuan sikap pemimpin Israel dan Palestina.

- Israel antara lain diwakili oleh mantan mendagri Yossi Beilin, sedangkan Palestina diwakili oleh mantan menteri Yasser Abed Rabbo. Yossi Beilin adalah arsitek perundingan damai Oslo pada 1993 yang kemudian gagal dilaksanakan. Yang sangat mengagumkan ialah banyak pemimpin dan mantan pemimpin dunia yang mendukung prakarsa damai di Jenewa itu. Antara lain mantan presiden AS Jimmy Carter dan Bill Clinton, PM Inggris Tony Blair, Presiden Mesir Hosni Mubarak, Raja Maroko Mohammad. Juga Sekjen PBB Kofi Annan yang menyebutkan inisiatif itu telah menangkap hasrat damai kedua bangsa.

- Israel dan Palestina memberi reaksi berbeda. PM Ariel Sharon mentah-mentah menolak prakarsa tersebut dan menyebutkannya sebagai malah bisa merusak usaha perdamaian. Yasser Arafat memberi sikap positif dengan mengirimkan delegasi resmi untuk menyaksikan upacara penandatanganan prakarsa damai itu di Jenewa, Senin lalu. Di Washington, juru bicara Gedung Putih Richard Boucher menyatakan pemerintah menyambut tiap usaha damai seperti prakarsa Jenewa. Namun, pemerintahnya tetap memegang komitmen terhadap Peta Jalan Damai yang disebut sebagai cara untuk mencapai kemajuan.

- Peta Jalan Damai terancam buyar. Pembicaraan sudah lama terhenti. Terutama setelah Israel terus menyerbu permukiman Palestina di Tepi Barat. Alasannya, untuk mencari kelompok garis keras yang melakukan serangan jibaku ke wilayah Israel. Hal itu menyebabkan kelompok garis keras mencabut gencatan senjata sebagai upaya mendukung Peta Jalan Damai. Serangan terakhir terhadap Ramallah, Senin lalu, yang tergolong serangan paling besar selama ini, membuktikan bahwa Ariel Sharon makin mengabaikan usaha perdamaian. Serangan itu justru terjadi bersamaan dengan kunjungan utusan AS ke Timur Tengah.

- Peta Jalan Damai butuh terobosan, apa pun bentuknya. Seperti dilakukan William Burns yang berusaha menghidupkan kembali perundingan ataupun inisiatif lain. Kesepakatan Jenewa setidak-tidaknya memberi gambaran, ada rakyat di antara kedua bangsa itu yang tulus menginginkan perdamaian segera terwujud dan kedua negara segera berdiri berdampingan dengan damai. Tepat seperti yang digambarkan Peta Jalan Damai yang merencanakan kedua negara akan berdiri sebelum 2005. Seharusnya tak hanya Palestina yang direformasi dengan mengangkat PM, juga Israel. Ariel Sharon yang tangannya berlumuran darah rakyat Palestina, tampaknya tetap akan memilih jalannya sendiri.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA