logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Desember 2003 Berita Utama  
Line

Di TNI-AL Sebaiknya Ada Tiga Komando

MALANG-Menghadapi rencana penggabungan Armada RI Kawasan Barat (Armabar) dan Armada RI Kawasan Timur (Armatim) TNI-AL sebenarnya bisa mengembangkan lagi dengan tiga komando yang membawahkan jenis armada kapalnya.

Penggabungan dua kawasan tersebut menjadi lembaga baru bernama Komando Pertahanan Utama Operasi dan Pembinaan (Kotama Opsbin) yang bermarkas di Surabaya dengan komandan berpangkat laksamana madya (perwira tinggi TNI-AL bintang tiga).

Pengamat militer Drs Muhadjir Effendi MAP mengatakan, langkah tersebut sangat bagus karena nanti akan menjadikan markas besar ketiga angkatan akan saling berjauhan. Seperti Mabes TNI-AD di Cilangkap, TNI-AL di Surabaya, dan TNI-AU di Maospati.

Melihat kondisi maritim di Tanah Air, pengembangan TNI-AL seharusnya memang memerlukan pembentukan Komando Kapal Permukaan, Komando Kapal Selam, dan Komando Kapal Induk. Hal itu didasarkan pada alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang ada. Bahkan, kalau perlu dibentuk pasukan pengawal pantai.

Indonesia, lanjut dia, sudah waktunya memiliki skuadron bergerak (moving skuadron), sedangkan dengan melihat luasnya laut memang sangat cocok kalau dibentuk sistem eskader. "Apalagi, 75% wilayah kita adalah laut. Seharusnya pula jumlah TNI-AL lebih besar dari angkatan lain," kata Muhadjir.

Tentang moving skuadron seperti yang sudah dimiliki Thailand, India, dan Cina karena memang lautnya cukup luas, juga sangat penting bagi operasi intelejen. Apalagi, di Indonesia ada jalur internasionalnya. Pesawat yang beroperasi di skuadron bergerak itu bisa milik TNI-AU ataupun TNI-AL yang memiliki sistem STAL (berangkat dan mendarat dengan landasan yang pendek).

Bahkan, sebenarnya moving skuadron itu juga untuk mengatasi minimnya pangkalan armada, terlebih lagi kondisi TNI-AL sangat terbatas. "Di AS saja personel angkatan laut dan marinirnya lebih besar daripada angkatan yang lain," ungkapnya.

Dua Grup

Sebagaimana diketahui, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh mngungkapkan, restrukturisasi organisasi ditargetkan resmi diumumkan pada Hari TNI-AL, 5 Desember. Namun, melihat perkembangan tampaknya hal itu belum bisa terlaksana.

Begitu disetujui Mabes TNI, hari itu juga penggabungan Armabar dan Armatim diputuskan. "Itu karena table operational personel (TOP) sudah siap, gedungnya sudah siap, dan personelnya juga sudah siap," lanjutnya. Kotama Opsbin akan menyiapkan 120 kapal TNI-AL. Setelah digabung dalam satu komando, kapal-kapal itu didistribusikan kepada para panglima eskader (armada/kumpulan kapal).

Dalam struktur baru, terdapat tiga panglima eskader sesuai dengan tiga alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). "Tugas eskader bukan pembinaan, melainkan operasional. Sebab, ada dua ancaman potensial yang kita miliki, yaitu konflik bersenjata dan penegakan keamanan," jelas KSAL belum lama ini.

Eskader I/Barat berada di Jakarta, Eskader II/Tengah di Surabaya (selanjutnya dipindah ke Makassar), dan Eskader III/Timur di Ambon. Panglima eskader berpangkat perwira bintang dua (laksamada muda).

Dalam fungsi operasional, tiga eskader itu di-regrouping menjadi dua grup, yaitu Gugus Tempur Laut (Guspurla) dan Gugus Keamanan Laut (Guskamla). Masing-masing gugus dipimpin oleh komandan berpangkat perwira bintang satu (laksamana pertama).

Guspurla bergerak sepanjang tahun dalam keadaan siaga tempur, sedangkan Guskamla mempunyai fungsi patroli. "Ini (Guskamla) bagian yang ngejar-ngejar orang nakal di laut. Namun, bukan berarti Guspurla hanya siaga tempur. Kalau keliling laut dan bertemu yang nakal, juga akan disikat," tambah KSAL.

Istilah eskader juga ada di Amerika Serikat. Di AS terdapat tujuh kumpulan armada (eskader). Namun, yang aktif hanya Armada III, VI, dan VII. "Supaya berbeda dari Amerika, kita pakai namai eskader," ujarnya. (jo-78e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA