logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Desember 2003 Berita Utama  
Line

Khotib Diciduk saat Boncengkan Istri

KUDUS - Taufik Ahmad (40), warga RT 3 RW 4, Desa Gribig, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Minggu siang (30/11) sekitar pukul 10.30 WIB diciduk sekawanan orang. Hingga kemarin, dia yang sering memberi ceramah agama (khotib) belum diketahui keberadaannya.

Ketika ditangkap, Taufik tengah mengendarai sepeda motor bersama istrinya, Ny Alif dan dua anaknya di jalan raya Gebog atau sebelah utara jalur lingkar sayap utara Kota Kretek, sehingga istrinya pulang mengendarai motor bersama dua anaknya yang masih kecil.

Rumahnya yang bernomor 95, kemarin masih tampak sepi. Seorang perempuan berjilbab mengaku sebagai tetangga dan diminta menjaga rumah itu. Perempuan tersebut menyatakan, Ny Alif pergi, namun dia tak tahu ke mana perginya.

Belum diketahui motif dari pencidukan tersebut. Pihak keluarga, Thamrin (adik Taufik) menyebut penangkapan itu sebagai penculikan. Belum diketahui siapa pihak yang menciduk. Namun ada dugaan mereka adalah intel dari Mabes Polri.

Thamrin mengatakan, familinya saat mengendarai motor tiba-tiba dipepet dan diberhentikan oleh dua orang yang berboncengan sepeda motor. Begitu berhenti, Taufik dimasukkan ke dalam mobil yang membuntutinya dari belakang.

Kapolres AKBP Drs Bimo Anggoro Seno saat dimintai konfirmasi mengatakan tidak tahu-menahu adanya penangkapan atau penculikan terhadap Taufik Ahmad. ''Tidak ada laporan atau pengaduan kepada kami. Kami baru mendengar dari Anda,'' ucapnya.

Ia menegaskan, dirinya tidak pernah memerintah anggotanya untuk melakukan penculikan. ''Kalau sampai ada anggota kami yang bertindak di luar kontrol kami, tentu akan kami tindak sesuai dengan prosedur,'' tandasnya.

Isu yang berkembang menyebutkan, diduga Taufik Ahmad diciduk karena terkait dengan kasus Jamaah Islamiah (JI) atau kasus pengeboman. Juli lalu, seseorang bernama Taufik yang rumahnya (sekampung) tak jauh dari rumah Taufik Ahmad, menghilang. Sampai sekarang keberadaannya tak diketahui.

Taufik diduga menjadi perantara tersangka kasus bom di Jl Taman Sri Rejeki Selatan, Semarang yaitu Heru Setiawan dalam mengurus KTP aspal (asli tapi palsu) dari Desa Tunggul Pandean, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Sehari-hari dia membuka bengkel kulkas dan elektronik di Jl Jepara.

Selain kedua Taufik itu, Para Wijayanto yang dimasukkan dalam DPO Polda terkait dengan kasus bom Jl Taman Sri Rejeki Selatan, Semarang, sampai kini juga tak diketahui keberadaannya. Para Wijayanto beralamat di Perumahan Muria Indah, Blok D No 209 Jl Kelud, Kudus.

Sebelumnya, yakni pada Februari lalu, Toriquddin alias Abu Rusdan ditangkap aparat keamanan saat mengendarai sepeda motor di jalan Desa Gribig. Dia diduga tersangkut kasus JI.

Tak Mau Berandai-Andai

Kabar terjadinya aksi penculikan terhadap Taufik Achmad, warga Desa Gribik, Gebok, Kudus oleh orang tak dikenal mendapat tanggapan dari Kabidhumas Polda Jateng Kombes Imam Yadi S. Dia mengaku, belum mendapat informasi tentang kasus penculikan yang terjadi di Desa Karangmalang Kudus itu.

Dalam kesempatan itu, dia meminta agar masyarakat tidak berspekulasi mengenai kabar tersebut. Terutama, lanjut dia, bila dikaitkan-kaitkan dengan organisasi teroris atau isu ninja yang menculik aktivis salah satu organisasi keagamaan. ''Memang banyak yang menanyakan soal itu kepada saya. Tetapi saya belum menerima laporan. Dan saya sudah tanyakan kepada pihak reskrim, tetapi belum mendapat jawaban,'' katanya ketika ditanya Suara Merdeka, semalam.

Wakil Ketua PWNU Jateng Drs Ali Mufiz MPA juga meminta agar rumor tersebut tidak dikaitkan dengan organisasi keagamaan. Adanya suara-suara yang mengaitkan dengan kiai, ulama, mubalig, dai dari suatu organisasi keagamaan masih perlu dicermati. ''Persoalan seperti itu diperlukan kecermatan, sehingga jangan sampai dikait-kaitkan dengan organisasi keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah atau organisasi keagamaan yang lain,'' katanya semalam.

Ali Mufiz mengaku, belum begitu paham dengan kabar yang berkembang dari Kudus mengenai orang yang dijemput sekitar tiga hari lalu, dan kini belum kembali. Ia sudah mencari informasi ke ketua PWNU Jateng maupun mengecek ke Kudus, namun hasilnya nihil. ''Mereka tidak tahu, apakah ada aktivis NU yang dijemput. Termasuk, apakah penjemputan itu dilakukan dengan paksa oleh ninja, atau dengan baik-baik,'' ungkapnya.

Kasus Kriminal

Dia menyebutkan, sekalipun persoalan itu ada, bisa dilacak oleh polisi sebagai masalah kriminal. Untuk itu, ia meminta kepada pihak terkait untuk melakukan mengecek, apakah itu tindakan kriminal murni atau bukan.

Dikhawatirkan, persoalan itu hanya akan menimbulkan keresahan. ''Kalau persoalan itu dikembangkan dan dikaitkan dengan keagamaan akan timbul keresahan atau kemarahan. Sehingga diperlukan kearifan agar tidak dikaitkan dengan organisasi keagamaan dan tidak menimbulkan amarah,'' tandasnya.

Ali Mufiz yang juga wakil Gubernur Jateng itu mengharapkan, perlunya ditingkatkan pengamanan swakarsa. Polri juga bisa meningkatkan keamanan terhadap masyarakat terutama terhadap tokoh-tokoh masyarakat. ''Ini sebagai upaya untuk menjaga iklim di Jateng tetap kondusif.''

Kabidhumas Polda Jateng Kombes Imam Yadi S menyatakan, guna memastikan kabar itu, pihaknya kembali akan menanyakan kepada Direktur Reskrim Polda Jateng Kombes Roesbagjo Ishak, Rabu (3/12). Bila kabar itu benar dan pelakunya jelas, pihaknya berjanji akan memberitahukan kepada masyarakat. ''Kami tidak bisa berandai-andai, kalau begitu kan tidak bisa dipertangungjawabkan. Kami akan menanyakan terlebih dahulu kepada direktur Reskrim. Kalau ada penangkapan, kami akan memberitahukan secara resmi,'' katanya. (yit,G5,G1-69n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA