logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Desember 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Berduyun-duyun Hilangkan Sial di Ngebruk

JARAK yang begitu jauh ke lokasi, lebih kurang 1,5 kilometer dan harus ditempuh dengan jalan kaki atau naik perahu, tak menyurutkan langkah ribuan warga Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Semarang dan sekitarnya untuk mengunjungi Pantai Ngebruk.

Dari kampung terdekat, yakni Mangunharjo Kelurahan Mangkang Wetan, kemudian menelusuri tanggul Kali Beringin dan pematang yang melintas di area tambak milik para petani, perjalanan sejauh itu harus ditempuh.

Dan ternyata, itu terasa dekat bagi ribuan warga dari usia balita yang digendong ibunya sampai mereka yang sudah tua.

Mereka adalah warga yang demi (ingin) membuang sial, kotoran sekaligus wisata dan meramaikan syawalan di Pantai Ngebruk.

Prosesi menghilangkan kotoran dan sial itu mereka lakukan dengan mandi di pantai itu. Usai mandi mereka melarung pakaian sebagai simbol membuang kesialan itu.

"Warga percaya dengan mandi dan melarung pakaian itu semua kotoran dan sial hilang dari dirinya. Mereka kembali bersih," tutur Masruri, warga Mangunharjo.

Dengan memanfaatkan momentum syawalan, tradisi itu dilakukan sejak puluhan tahun silam dan sampai sekarang masih lestari. Tradisi ini dilakukan setiap tujuh hari setelah 1 Syawal.

Sejak pukul 05.30 warga berduyun-duyun ke pantai itu. Bahkan ada sebagian yang datang sejak sore sehari sebelumnya, sehingga tidur pun di pantai dengan menggelar tenda.

Begitu fajar menyingsing, ribuan warga itu langsung terjun ke air. Mereka mandi atau lomban di pantai yang airnya sebenarnya tidak begitu jernih itu.

Semakin siang, warga yang datang makin banyak. Sedangkan mereka yang datang lebih awal berangsur-angsur pulang. Bergantian mereka mandi kecipak-kecipuk air di pantai yang sebenarnya bekas area tambak itu. Namun karena terkena abrasi, tambak itu berubah menjadi pantai.

Sebagian pengunjung membawa pelampung dari ban mobil untuk menjaga keselamatan diri saat mandi. Di pantai, mereka tak hanya sekadar mandi. Mereka makan-makan bersama. Ada tradisi makan bersama di pantai itu. Menu makanan pun sudah ditentukan, yakni lepet (ketan dicampur parutan kelapa yang dibungkus janur dengan ukuran kecil) dan sumpil (beras dibungkus dengan daun bambu).

"Dalam tradisi, makanan itu yang dibawa. Namun sekarang, selain makanan itu pengunjung membawa jenis makanan lain seperti nasi dengan sayur dan lauk," tutur Muchson (35) warga setempat.

Selain itu, pengunjung bisa naik perahu mengelilingi pantai dengan ongkos Rp 2.000. "Sekarang, tradisi ini semacam kegiatan wisata. Namun hanya berlangsung setahun sekali saat syawalan,"kata Sholeh, warga lainnya.(Jamal Al Ashari, Irawan A-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA