
| Rabu, 3 Desember 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Penasaran Lihat ABG BerciumanINI mungkin saran bagus bagi produser yang hendak menggarap film dengan tema dan target pasar remaja (ABG). Yakni, bikin saja cerita bersahaja tentang mereka, lalu lemparlah isu cukup kontroversial, pasti film itu bakal diserbu. Walau belum banyak, tetap ada buktinya. Lihat saja film Ada Apa dengan Cinta? yang melambungkan nama Dian Sastro dan Nicolas Saputra, yang sekarang kelanjutan ceritanya digarap sebagai serial TV. Itu film dengan cerita sederhana tentang dunia remaja. Namun di luar banyak segi filmografisnya yang berkualitas, informasi mengenai adegan ciuman ''dahsyat'' tokoh Cinta dan Rangga menyebar pesona dan penasaran. Dan itu membuat bioskop yang memutar film tersebut diserbu penonton. Kini, sejak peluncuran serentak kali pertama 21 November di 45 kota Indonesia, film dengan jenis serupa berjudul Eiffel, I'm in Love pun meledak, hampir serupa dengan Ada Apa dengan Cinta? Informasi mengenai adegan ciuman tokoh Tita yang diperankan seorang ABG cantik berusia 16 tahun, Shandy Aulia, dan tokoh Adit (Samuel Rizal) memunculkan penasaran di kalangan publik. Ya, sejak diputar film itu tak pernah sepi penonton. Cerita dari bioskop-bioskop di Jakarta memberikan bukti. Kenyataan serupa di Semarang juga terjumpai. Tiga gedung bioskop yang memutar film itu selalu diserbu penonton yang rata-rata remaja atau mahasiswa. Meski dua dari tiga gedung itu memutar di dua theater, antrean calon penonton hampir selalu terjadi. Bahkan, berdasar pengamatan Suara Merdeka di bioskop Plaza 21 dan Citra, 15 menit sebelum film diputar di kabin tiket selalu ada tulisan ''Tutup''. Itu berarti tiket habis terjual. Padahal pembeli tiket film lain yang diputar di gedung yang sama rata-rata tak pernah lebih dari 20 orang. Bahkan, kata Manajer Plaza 21 Terjun Pamudjo, penonton yang ingin menyaksikan harus memesan. ''Bisa pesan tiket sehari sebelumnya. Kalau ingin menonton pada waktu putar kedua, Anda harus pesan pada waktu putar pertama. Kalau tidak, wah...'' Ingin Buktikan Motivasi penonton menyerbu film yang disutradari Nasri Cheppy itu cukup beragam. Namun sebagian besar menonton karena penasaran dan ingin membuktikan. ''Informasi dari televisi dan koran kayaknya seru. Jadi ingin lihatlah,'' ujar Ratna (20) yang mengaku mahasiswa sebuah perguruan tinggi Semarang. Beberapa teman dia mengiyakan komentar itu. Ada juga yang tertarik ingin melihat akting Shandy yang dikenal lebih dahulu melalui iklan produk deodoran yang menggaungkan istilah ''burket''. ''Aku suka banget iklan Shandy itu. Imut abis. Jadi ya pengin liat akting dia gimana gitu. Lagian informasinya seru abis. Katanya ada adegan ciuman seru,'' ujar Nanti dengan bahasa khas ABG, sembari tersenyum malu-malu. Pacarnya, Arif, berkomentar ingin membandingkan film ini dengan Ada Apa dengan Cinta? ''Ingin lihat bagus mana akting dia dan Dian Sastro. Adegan yang berlangsung di Paris juga menarik,'' ujar dia. Jadi memang pada awalnya adalah rasa penasaran. Sebab, bagi orang yang telah menonton, cerita film dari cerita tulisan seorang remaja bernama Rahmania Arunita itu begitu bersahaja. Kisah bermula dari remaja Tita yang hidup dalam keluarga harmonis. Dia punya pacar yang lembut dan penyabar, Ergi. Namun kedatangan tokoh Adit, yang digambarkan berperangai angkuh dan cuek, membuat Tita berubah: dari benci menjadi cinta. Anehnya, pemantik cinta berasal dari kisah pacaran Adit dan seorang sahabat Tita. Di luar itu semua, menarik pula membayangkan apakah film ini akan menciptakan identifikasi sedahsyat Ada Apa ddengan Cinta?, paling tidak terbuktikan oleh betapa laris buku skenario karya Djaduk Sumandjaja berjudul Aku yang menjadi perekat kisah kasih Cinta dan Rangga. Bukankah remaja atau ABG adalah kalangan yang masih mencari identifikasi diri? (Saroni Asikin,Irawan Aryanto-84g) |