
| Rabu, 3 Desember 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Perhutani Tak Merasa Kehilangan
KENDAL - Puluhan kayu jati yang terpendam di area persawahan di Dukuh Kedungwungu dan Tapakbarat Desa Kedunggading Kecamatan Ringinarum, Kendal saat ditemukan masih berbentuk pohon, lengkap dengan tonggak atau bagian akar. Adapun bagian ranting dan dahan sudah hilang. Kayu-kayu jati yang terpendam di dalam tanah dengan kedalaman 3 hingga 4 meter tersebut ditemukan di area persawahan dan di luar kawasan hutan negara. Perum Perhutani KPH Kendal tidak merasa kehilangan kayu jati di kawasan hutan yang menjadi tanggung jawabnya. "Dari arsip kami, sejak zaman Belanda area persawahan di Dukuh Tapakbarat dan Kedungwungu bukan termasuk kawasan hutan negara. Lokasi penemuan kayu berada sekitar dua kilometer dari kawasan hutan BKPH Sojomerto KPH Kendal," tandas Ajun Adm/ KSPH Perum Perhutani KPH Kendal Sudjarwo didampingi Asper Sojomerto dalam acara open house Adm Ir Bambang Iswanto, kemarin. Dia menambahkan, pihaknya telah melakukan pengecekan ke lapangan. "Tampaknya kayu-kayu hasil temuan tersebut adalah hasil galian murni. Kami tidak merasa kehilangan kayu jati di kawasan hutan negara sehubungan dengan penemuan itu."
Batang dan Tunggak Dia memperkirakan kayu-kayu itu dulu adalah kayu jati kebun warga yang tumbang dan tertimbun tanah selama puluhan tahun. Senada dengan Disbunhut, Sudjarwo menjelaskan antara lain ciri-ciri fisik kayu temuan berwarna cokelat tua cenderung seperti warna tanah dan kadar minyak hilang. "Berbeda dari kayu hasil hutan, meski telah ditimbun beberapa tahun masih terlihat semburat warna kuningnya. Terlebih lagi, kayu temuan itu sebagian besar telah berlubang yang menandakan sudah puluhan tahun tertimbun tanah," ujarnya. Meski demikian, lanjutnya, pihak Perhutani hendaknya tetap dilibatkan jika ada penemuan kayu jati. "Keberadaan kayu-kayu itu akibat terhanyut arus sungai, saya kira itu kemungkinan sangat kecil. Selain tidak ada sungai besar di sekitar lokasi, menurut catatan kami tidak ada pohon di hutan yang tumbang terbawa banjir. Kayu-kayu jati itu saat ditemukan masih utuh berupa batang utama dan akar atau tonggak." (G15-84k) |