
| Rabu, 3 Desember 2003 | Internasional |
Rencana Damai Tandingan DipujiJERUSALEM - Israel mendesak Menlu AS Colin Powell agar tidak bertemu dengan para arsitek '' rencana damai tandingan'' Timur Tengah. Diingatkan, adalah keliru bagi AS bila memberikan persetujuan tidak resmi terhadap rencana damai tersebut. Selasa kemarin, dalam perselisihan yang jarang teradi antara AS dan Israel, Wakil PM Israel Ehud Olmert mengisyaratkan ketidaksukaan negara Yahudi tersebutl pada pujian Washington terhadap Kesepakatan Jenewa. Kesepakatan itu diluncurkan Senin lalu oleh para politikus dan intelektual oposisi Israel dan Palestina, dalam suatu acara yang meriah di Swiss. Pemerintah Israel yang berhaluan kanan, maupun militan Palestina yang mengobarkan intifada (pemberontakan) selama tiga tahun terakhir, mencela Kesepakatan Jenewa itu. Mereka menyebut kesepakatan itu sebagai ''sikap menyerah''. Kesepakatan tersebut dirancang oleh tokoh-tokoh moderat dari kedua belah pihak. Para pejabat AS mengatakan, Powell ingin bertemu dengan para penyusun rencana damai tersebut di Washington, pekan ini. Keinginan Powell itu menjadi isyarat ketidaksabaran AS terhadap langkah PM Israel Ariel Sharon yang terseok-seok, dalam mengatasi kemacetan ''peta jalan'' damai internasional. Dinilai Keliru ''Saya kira, dia melakukan kekeliruan,'' kata Olmert kepada Radio Israel, mengenai kemungkinan pembicaraan Washington tersebut. ''Saya kira, dia tidak membantu proses tersebut. Menurut saya, ini langkah keliru yang dibuat oleh wakil Pemerintah Amerika.'' Menegaskan hambatan-hambatan yang dihadapi langkah perdamaian baru, pasukan Israel menembak hingga tewas seorang militan yang terkait dengan faksi Presiden Palestina Yasser Arafat. Penembakan tersebut dilakukan Selasa kemarin, dalam aksi penyerbuan sebuah tank Israel di kota Jenin di wilayah Tepi Barat, kata sumber-sumber keamanan Israel. Senin lalu, Israel melakukan penyerbuan yang menewaskan tiga militan Palestina dan seorang bocah lelaki berusia enam tahun di Ramallah. Palestina mengatakan, penyerbuan-penyerbuan seperti itu dapat memancing para militan melakukan lagi aksi bom jibaku di negara Yahudi tersebut, setelah mereda sebulan lamanya. Di tengah ketegangan yang meninggi, pembicaraan gencatan senjata dengan perantara Mesir - yang direncanakan para militan diselenggarakan di Kairo kemarin - ditunda. Para peserta perundingan gencatan senjata tersebut mengatakan, mereka kemungkinan kecil mendeklarasikan gencatan senjata, kecuali jika Israel membalasnya. Tekanan Publik Serbuan-serbuan terbaru militer Israel itu sangat bertolak belakang dengan pesta meriah menyambut Kesepakatan Jenewa, Senin lalu, yang mendapat pujian dari para pemimpin dunia. Rencana damai alternatif tersebut, yang disetujui oleh oposisi Israel dan para politikus Palestina, telah menimbulkan tekanan publik di kedua pihak untuk memulai pembicaraan secara sungguh-sungguh. Menurut Olmert, ada ''unsur subversi'' partisipasi Israel dalam Kesepakatan Jenewa. Sebab, para perunding menerima dana dari Pemerintah Swiss. Seperti rencana peta jalan damai yang didukung AS, Kesepakatan Jenewa mengusulkan pembentukan negara Palestina di wilayah yang diduduki Israel. Namun, kesepakatan tersebut melampaui peta jalan, karena menyerukan pembongkaran permukiman-permukiman Yahudi, pembagian Jerusalem menjadi dua ibu kota, dan hak Israel untuk memutuskan berapa banyak pengungsi Palestina dibolehkan pulang. Sebuah jajak pendapat menunjukkan, cukup banyak rakyat Israel yang menyambut hangat kesepakatan alternatif tersebut, dengan 31 persen setuju dan 37 menentang. Padahal, Oktober lalu, jajak pendapat memperlihatkan hanya 25 persen setuju dan 54 persen menolak. Perubahan itu mengisyaratkan ketidakpuasan yang meningkat terhadap kebijakan garis keras Sharon. Arafat dan PM Palestina Ahmed Korei secara prinsip menyetujui inisiatif Jenewa tersebut, tetapi keduanya belum menyetujui poin demi poin kesepakatan itu.(rtr-ben-30) |