logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 Desember 2003 Ekonomi  
Line

Diragukan, 2004 Ekonomi Tumbuh 4,8%

JAKARTA-Kondisi ekonomi 2004 diperkirakan tidak akan berbeda dari tahun ini. Ramalan Bank Indonesia (BI) bahwa tahun depan ekonomi akan tumbuh 4,8% diragukan.

Umar Juoro, ekonom Cides menilai, terlalu berlebihan memprediksi ekonomi tahun 2004 akan tumbuh 4,8%. ''Saya tak melihat indikator yang akan membuat ekonomi nasional bisa tumbuh 4,8%. Mungkin hanya 3%-3,5% atau lebih rendah daripada 2003 yang diperkirakan 4%,'' tutur dia, kemarin.

Aviliani, ekonom Indef, juga mengungkapkan hal senada. Dia menilai, kondisi perekonomian 2004 tidak akan jauh berbeda dari tahun ini karena belum ada perubahan dari sisi eksternal.

Indikator moneter yang sangat bergantung pada faktor eksternal, kata dia, belum akan mengalami perbaikan signifikan. ''Gejolak nilai tukar hanya terjadi sesaat, sedangkan inflasi memang cenderung bakal tinggi,'' tambahnya.

Dia mengkhawatirkan bahaya dari tren peningkatan konsumsi yang akan menguras tabungan masyarakat. Di sisi lain, dana milik masyarakat kelas atas lebih banyak diinvestasikan di luar negeri.

Namun, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi 2004 bisa 4,8% atau lebih tinggi dari perkiraan 2003, meski tahun depan akan dilaksanakan pemilihan umum (pemilu) serta pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung.

Dia beralasan, pemilu 2004 diyakini akan berjalan baik karena saat itu tidak ada partai politik yang dominan sehingga terjadi koalisi. Kondisi itu memperkecil gesekan atau friksi antarpartai politik.

''Jika tidak ada friksi, berarti pemilu akan tertib dan aman. Kalaupun ada friksi, hanya kecil-kecil di dalam partai politik dan itu bisa dikuasasi oleh partai politik itu sendiri,'' tegasnya.

Pemilu Aman

Umar Juoro sependapat dengan Gubernur BI, andai terjadi bentrokan antarpendukung partai politik paling hanya terjadi di Jawa dan Bali.

Secara umum Pemilu diramalkan akan berjalan aman, tetapi soal pertumbuhan dinilai sebagai mimpi.

Dia mengatakan, pada saat pemilu 2004 konsumsi memang meningkat dan jumlah uang beredar naik. Namun, itu bersifat temporer dan tidak sustainable berkelanjutan. Sementara itu, inventasi baik PMDN maupun PMA diramalkan tak akan tumbuh. Investor akan melihat dulu pelaksanaan pemilu dan siapa yang akan memerintah negeri ini ke depan.

''Jika ada investasi baru, itu baru akan masuk pada tahun berikutnya dan pertumbuhan 4%-6% baru bisa terjadi pada 2005,'' tuturnya.

Pada tahun ini, lanjut dia, dari segi investasi sangat tidak menggembirakan walaupun sebenarnya kredit yang dikucurkan dunia perbankan cukup besar.

Aviliani menambahkan, tingkat konsumsi tahun depan banyak dipicu oleh politik uang. Masyarakat dipaksa memilih partai politik tertentu dengan iming-iming uang.

''Namun, itu hanya berlaku sesaat, sehingga dampaknya tidak terlalu besar. Konsumsi juga punya keterbatasan,'' tegas dia.

Bahaya lain, kata dia, yaitu terkait dengan pelarian uang ke sektor ritail. Sektor manufaktur di dalam negeri belum akan menyerap lebih banyak tenaga kerja (wa-53e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA