logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 22 November 2003 Sala  
Line

Mudik dan "Ujung" Tak Dapat Dipisahkan

MENJELANG Lebaran, ribuan masyarakat mudik ke kampung halaman masing-masing. Ada satu tradisi yang tidak dapat dipisahkan dalam mudik, yakni tradisi ujung (sungkem-Red). Tradisi ini sepertinya merupakan kebutuhan masyarakat yang sulit ditinggalkan. Hal itu antara lain merupakan hasil penelitian dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Drs Sigit Haryanto MHum.

"Ujung, mudik Lebaran, dan Idul Fitri merupakan tiga hal yang berbeda tetapi memiliki kaitan peristiwa dan waktu yang erat satu sama lain. Ujung merupakan ngebekti ngambung dengkul, maksudnya berbakti pada orang tua atau orang yang lebih tua usianya dengan tuturan kata halus sambil duduk atau jongkok, memegang tangan, dan mencium lutut. Di sini ada keharuan luar biasa yang tidak bisa diganti oleh apa pun," jelas Sigit.

Dia juga menjelaskan, tradisi ujung yang penuh keharuan merupakan suatu kebutuhan untuk melepaskan rasa berdosa dan beban selama satu tahun. Tradisi itu, kata dia, merupakan tradisi Jawa yang bernapaskan Islam.

Dia melihat ada dua versi pemikiran masyarakat dalam memandang tradisi ujung. Pertama, ujung merupakan tradisi yang menjembatani antara ajaran Islam dan budaya Jawa. Versi kedua, ada yang menganggap tradisi itu bukan ajaran Islam, sehingga tidak perlu dilaksanakan.

"Penelitian ini memang tidak melihat perbedaan pemikiran ini, tetapi lebih pada mendeskripsikan wacana budaya ini masih dilakukan oleh masyarakat Surakarta dan sekitarnya," jelas dia.

Perlu Dilestarikan

Dia mengatakan, sebenarnya sekarang terdapat pergeseran budaya dengan semakin banyaknya kesibukan masyarakat. Namun, tradisi tersbut perlu dilestarikan. "Dalam tradisi ini ada ungkapan berbakti pada orang tua, silaturahmi keluarga, kerukunan masyarakat, dan banyak hal lain yang positif. Karena itu, tradisi ini sangat baik untuk dilestarikan," katanya.

Dalam tradisi itu, lanjut dia, ada variasi kebahasaan yang digunakan. Kepada mereka yang lebih tua digunakan bahasa Jawa krama, sedangkan antarteman biasanya digunakan bahasa Jawa ngoko.

Pada bagian lain dia juga mengatakan sedikit berbeda dari ujung, halalbihalal juga merupakan tradisi saling bermaafan. Hanya, ujung biasanya lebih bersifat individual dan informal. Adapun halalbihalal merupakan tradisi berkumpulnya sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk saling bersalaman sebagai ungkapan saling minta maaf. Halalbihalal lebih bersifat formal dan tidak ada acara kunjung-mengunjungi antarkeluarga seperti dalam ujung. (Sri Syamsiyah LS-74e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA