logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 22 November 2003 Berita Utama  
Line

Penukaran Uang Receh Ikut Meramaikan Mudik

SELAIN dipadati ribuan pemudik yang "menyemut" hingga nyaris tak ada ruang untuk sekadar berjongkok, kawasan Terminal Pulogadung juga diramaikan puluhan ibu-ibu yang menawarkan jasa penukaran uang receh. Para ibu yang umumnya bertopi atau memakai secarik kain penutup kepala membawa uang pecahan Rp 1.000, Rp 5.000, dan Rp 10.000 yang masih baru, bahkan nomor seri lembaran uang itu masih berurut.

Seorang penjualan jasa penukaran uang receh, Ny Charly Hutajulu, mengaku sudah lima tahun menjalani pekerjaan itu. Karena sudah terbiasa, dia tidak perlu lagi harus menghitung jumlah uang yang dikeluarkan dari kantung tasnya saat bertransaksi. Cukup hanya dengan melihat nomor seri uang tersebut, dia tahu berapa jumlah uang yang telah berpindah tangan.

Yang menjadi incaran mereka adalah calon penumpang bus yang hendak pulang ke kampung halaman. Karena itu, tidak heran apabila mereka pun harus mau bersaing dan berdesak-desakan dengan banyak pedagang asongan yang menawarkan berbagai barang suvenir, makanan, dan minuman di terminal tersebut.

Terhadap konsumen yang tertarik untuk menukar uangnya, mereka meminta bayaran 10% untuk setiap transaksi. "Tapi ya, banyak juga menawar. Kalau kurang-kurang sedikit ya kasihlah. Pembeli kan kebanyakan maunya juga murah terus," ujar Charly kepada Suara Merdeka.

Mereka mengungkapkan, Terminal Pulogadung sengaja dipilih karena merupakan terminal antarkota terbesar di timur Jakarta yang melayani penumpang ke berbagai kota di Jawa Barat bagian timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Bali dan Nusa Tenggara Barat. Menjelang Lebaran, penumpang bisa puluhan ribu orang yang berangkat dari terminal itu setiap harinya.

Transaksi mereka biasanya meningkat tajam menjelang Lebaran. Ny Simanungkalit umpamanya, menyatakan pada hari biasa dia hanya mendapat untung Rp 20.000/hari atau kadang tidak dapat untung sama sekali. Namun seminggu menjelang Lebaran, pendapatan mereka bisa naik lima sampai 10 kali lipat. "Biasanya seminggu sebelum Lebaran, sehari kami bisa dapat Rp 200.000 bahkan lebih," tutur Ny Simanungkalit.

Rupanya hari-hari besar selalu membawa sejumlah peluang yang bisa dimanfaatkan oleh setiap orang yang jeli. Fenomena pedagang kolak, korma, kismis, parsel, dan keranjang yang muncul setiap Ramadan menunjukkan adanya orang yang jeli melihat peluang itu.

Kejelian membaca peluang itu yang dimiliki ibu-ibu penjual jasa penukaran uang receh yang umumnya dari Sumatera Utara. Mereka tahu, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, memberi hadiah dalam bentuk uang sepertinya sudah menjadi tradisi dan mungkin karena lebih terjangkau dibandingkan dengan memberi hadiah dalam bentuk parsel.

Harga parsel berisi sarung, baju, suvenir, makanan, minuman, barang pecah belah, elektronik atau buku, biasanya mahal sehingga tidak terjangkau. Para penerima hadiah yang umumnya anak-anak, juga lebih suka bila hadiah itu dalam bentuk uang. Sebab, mereka bisa langsung membelanjakan uang tersebut saat Hari Raya dengan membeli jajanan kesukaannya.

"Kalau dalam bentuk uang pecahan Rp 1.000 seperti ini, saya bisa bagi-bagi ke banyak orang. Keluarga yang masih anak-anak kan senang bila dapat duit. Setiap orang cukup diberi Rp 1.000 sampai Rp 5.000. Jika harus dibeliin hadiah satu-satu, nggak sangguplah," tutur Wanti (27), pemudik asal Tayu, Pati. Dia terlihat menukarkan dua lembar uang kertas Rp 100.000 dengan 200 lembar uang Rp 1.000.

Saat ditanya, apakah ibu-ibu itu tidak merasa takut dengan situasi di Terminal Pulogadung yang dikenal tidak aman dan bahkan dibandingkan dengan terminal lain dianggap paling menyeramkan dan banyak terjadi tindak kriminal, Linda Hutagulung menjawab, mereka sudah terbiasa berada di kawasan terminal tersebut. "Jadi, kami sudah tidak merasa takut lagi. Bahkan kami hafal yang mana pencopet, penjambret, atau perampas," ujarnya.

Terhadap ibu-ibu penjual jasa penukaran uang receh tersebut, warga di kawasan Terminal Pulogadung menyebutnya sebagai sebagai inang-inang (ibu-ibu) penjual duit. Hanya, para ibu itu ternyata menolak julukan tersebut. "Habis, kami bukan penjual uang. Sebab, yang kami lakukan cuma sebatas menawarkan jasa penukaran. Kami pantas dong mendapat bayaran untuk itu," ungkap Linda.

Pada hari-hari biasa, sedikitnya ada 30 orang yang menawarkan jasa penukaran uang di Pulogadung. Namun menjelang Lebaran, biasanya jumlah mereka bertambah. Mereka memperoleh uang kertas baru dengan nomor seri yang masih berurut dari Bank Indonesia (BI).

Akan tetapi ketika kepada mereka ditanyakan dari mana mendapat uang recehan baru tersebut, secara serempak mereka menolak menjawab. Seorang inang yang menolak saat ditanya namanya, namun bila dilihat dari raut mukanya kira-kira berusia 50-an tahun mengatakan, "Saya dapat uang ini dari teman." (bn-69j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA