
| Sabtu, 22 November 2003 | Berita Utama |
Kolom Nurcholish MadjidKembali kepada Kewajaran
Idul Fitri sebenarnya dapat berfungsi mengingatkan kembali manusia akan perjanjian dengan Tuhannya di alam rohani. BULAN Ramadan tahun ini telah sampai di pengujung. Sebentar lagi kita akan berpisah dan merindukannya. Selama sebulan yang penuh rahmat dan ampunan itu, kita telah belajar untuk menegasi diri dengan cara tidak memenuhi kebutuhan jasmaniah dalam kurun waktu tertentu untuk meningkatkan kepekaan kita akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Menyadari hadirnya Tuhan itulah yang disebut takwa, yang dalam QS Al-Baqarah 2:183 diterangkan sebagai tujuan dari perintah berpuasa. Kemudian kita akan melangkah ke Idul Fitri, hari raya agama Islam yang di Indoneisa secara tradisi dirayakan secara gegap-gempita. Keinginan merayakan itu mungkin berhubungan dengan pemaknaan Idul Fitri sebagai "kemenangan" atau "keberhasilan" menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan. Idul Fitri sebenarnya dapat berfungsi mengingatkan kembali manusia akan perjanjian dengan Tuhannya di alam rohani, yaitu kesediaannya untuk mengakui Tuhan yang Esa. Perjanjian itu diterangkan dalam Al Quran Al-A'r,f 7:172 yang membawa implikasi kepatuhan dan sikap berserah diri (Islam-Red) yang sempurna. Karena setiap jiwa manusia menerima perjanjian persaksian itu, maka setiap orang dilahirkan dengan pembawaan alami untuk "menemukan kembali" Tuhan dengan hasrat berbakti dan berserah diri kepada-Nya. Jika dilihat dari segi kebahasaan, makna Idul Fitri dapat dipahami dengan melihat makna asal ungkapan "Id Al-Fithr". Kata "Id" berasal dari akar yang sama dengan kata-kata awdah atau awdatun, ',dah atau ',dat-un dan ist',datun. Semua perkataan itu mengandung makna asal "kembali". Makna asal kata fitri satu akar dengan "fitrah" (fithrah) yaitu "kejadian asal yang suci" atau "kesucian asali". Secara kebahasaan, fithrah memiliki pengertian yang sama dengan khilqah yang artinya "ciptaan" atau "penciptaan". Tuhan yang Maha Pencipta disebut Al-Kh,liq atau Al-F,thir. Secara peristilahan, fithrah kemudian berarti "penciptaan yang suci". Dalam pengertian itu, semua segi kehidupan, seperti makan, minum, tidur, menikah, dan apa saja yang wajar pada manusia dan kemanusiaan adalah fithrah, yang bernilai kebaikan dan kesucian karena semuanya berasal dari desain Tuhan. Hasrat untuk kembali yang paling hakiki adalah hasrat untuk kembali pada Tuhan, asal segala asal hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Maka salah satu wujud gerak kembali kepada Tuhan itu adalah memohon ampun atas segala dosa yang terjadi disertai tekad untuk tidak mengulanginya, suatu gerak rohani yang disebut "tobat" (dari kata tawbah) yang secara harfiah berarti "kembali". Jadi, Idul Fitri memancarkan kebahagiaan rohani manusia karena berhasil kembali kepada Tuhan, memenuhi perjanjian asalinya atau "fitrah" (fithrah)-"kejadian asal yang suci" atau "kesucian asali". Karena itu, berbuka puasa atau "kembali makan dan minum" disebut ifth,r, yang secara harfiah dapat diartikan "memenuhi fitrah" yang suci dan baik. Di hari Idul Fitri terkandung makna kembali kepada hakikat yang wajar dari manusia dan kemanusiaan. Dengan hari raya itu manusia diharapkan kembali menjadi suci. Dan menyadari bahwa kesucian adalah pembawaan alamiah diri dan manusia sesamanya. Konsekuensinya, ia harus menghormati sesamanya seperti menghormati dirinya sendiri dan menjaga kesucian sesamanya, seperti menjaga kesucian dirinya sendiri. Mari kita berusaha untuk kembali ke kewajaran itu dengan menjalankan hidup yang wajar, tidak berlebih-lebihan, dan menghargai sesama manusia. Itulah makna ungkapan populer "minal aidin walfaizin" yang berarti "semoga kita semua tergolong mereka yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam latihan menahan diri)". Perkenankan saya menyampaikan kepada pembaca sekalian: Kupat banyune santen, yen wonten lepat nyuwun pangapunten. Sugeng Riyadi.(69t) |