
| Sabtu, 22 November 2003 | Berita Utama |
PDI-P Bantah Depak Politikus Kritis
JAKARTA - DPP PDI-P membantah telah mencoret nama politikus kritis dalam pemilihan calon legislatif 2004. Nama mereka tidak muncul karena tidak mencalonkan diri dan tidak mendapat basis dukungan. "Tidak pernah mencoret nama-nama itu," kata Ketua DPP PDI-P Roy BB Janis, usai rapat DPP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (21/11). Seperti diberitakan, nama-nama politikus kritis seperti Arifin Panigoro, Meilono Soewondo, dan Haryanto Taslam tidak masuk dalam daftar caleg partai itu untuk Pemilu 2004. Nama Taufiq Kiemas masuk dalam daftar caleg yang mendapat dukungan dari Lampung, Sumatera Selatan, Bali, dan Jawa Tengah, sedangkan Guruh Soekarnoputra mendapat dukungan dari Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Dia menjelaskan, tidak munculnya nama tersebut karena kebijakan PDI-P dalam menjaring caleg menggunakan mekanisme dari bawah. "Kalau ada nama yang tidak muncul itu ada dua kemungkinan. Pertama, tidak mencalonkan diri dan kedua, tidak mendapat basis dukungan dari bawah," ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Wasekjen Pramono Anung menilai, tidak munculnya politikus kritis dalam caleg PDI-P merupakan hal biasa. "Ini menunjukkan, yang bersangkutan tidak pernah membina daerah yang selama ini mendukungnya," kata dia. Tak Ada Dukungan Pramono mencontohkan, Arifin Panigoro dan Meilono Soewondo tidak mencalonkan diri sehingga tidak ada dukungan dari bawah. Hak prerogatif Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dalam penunjukan caleg kecil kemungkinan dipakai. Hak itu hanya dipakai jika ada pelanggaran. "Hak prerogatif hanya digunakan jika ada pelanggaran dari proses pencalegan misalnya pemalsuan dokumen dan pelanggaran yang bersifat administratif. Di luar itu, hak prerogatif kemungkinan kecil digunakan," ungkap Pramono. Dia mengatakan, pemberian hak prerogatif sudah disepakati bersama dalam kongres PDI-P di Bali. Lebih lanjut, Pramono menambahkan, nama-nama caleg PDI-P akan diumumkan 7 Desember mendatang. "Jumlahnya 660 caleg yang terdiri atas 40% memiliki background ekonomi, 25% politik dan keamanan, 7% - 10% seni budaya, dan sisanya bidang lain," kata dia. (dtc-78n) |