
| Sabtu, 22 November 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Terminal Bahurekso Tak Disinggahi BusKENDAL- Di saat sebagian besar terminal disibukkan ''luberan'' penumpang dan kendaraan angkutan umum, sebaliknya terminal bus Bahurekso di Desa Jenarsari, Kecamatan Gemuh, Kendal, kemarin terlihat ''sunyi sepi.'' Kondisi semacam itu sudah berlangsung sejak terminal tipe B tersebut diresmikan penggunaannya 28 Agustus lalu. Jum'at (21/11) pukul 14.00, tidak ada satu pun bus antarkota dalam provinsi (AKDP) dan antarkota antarprovinsi (AKAP), angkudes, maupun angkota yang ngetem di terminal tersebut. terminal yang berlokasi sekitar 1,5 km arah timur kota Kecamatan Weleri, dan sekitar 12 km dari Kota Kendal itu seolah dibiarkan nganggur. Di terminal yang dibangunan dengan dana Rp 13,5 miliar lebih tersebut juga tak ditemui seorang penumpang pun. Bahkan, 24 kios dan delapan ruang untuk penjualan karcis tak ada yang difungsikan. Satu-satunya ''kehidupan'' di sana adalah aktivitas beberapa petugas Dinas Perhubungan (Dishub) yang menarik retribusi ke sejumlah angkutan umum yang hanya sekedar ''absen'' atau numpang lewat di terminal seluas 30 hektare itu. Sosialisasi Kepala Dinas Perhubungan Kendal Affandy SH MM mengatakan, pihaknya akan menutup arus lalulintas yang akan masuk kawasan perkotaan Weleri. ''Momen lebaran ini akan kami manfaatkan untuk sosialiasi terminal. Pada H-3 hingga H-1, seluruh kendaraan dialihkan melewati jalur lingkar, angkutan umum diwajibkan masuk terminal Bahurekso,'' katanya. Dia menambahkan, penutupan arus lalu lintas ke kawasan kota bertujuan untuk memindah konsentrasi keramaian. ''Kami berharap, keramaian berpindah ke terminal. Fasilitas di terminal sudah siap untuk menyambut keramaian itu, seperti wartel, warung, dan petugas.'' Bila Terminal Bahurekso sepi, suasana ramai terlihat di jalur Pantura. Puluhan mobil pemudik berpelat nomor B, E, F dan D, terlihat membludak melaju ke arah timur. Kendati volume kendaraan terus bertambah, tetapi arus lalu lintas masih lancar. Kendaraan dari arah timur umumnya dapat memacu kecepatan sekitar 70 km/jam, kondisi itu lebih lancar dibanding dari arah barat. Di sepanjang jalur Pantura, dari Weleri-Kaliwungu, konsentrasi kemacetan hanya terjadi di sekitar Pasar Cepiring. (G15-63) |