
| Sabtu, 22 November 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Di Balik Kematian Sunaryo (2-Habis)Penyerahan Jenazahnya Tanpa Berita AcaraSEMUA keluarga dan keturunan Mbah Narsem (68), ibu kandung almarhum Sunaryo alias Yoyok (38), mengaku masih belum bisa menerima kematian almarhum. Alasannya, mereka merasa selama hidupnya almarhum tidak pernah mempunyai musuh. Tetapi kenapa almarhum ditembak secara sadis begitu? ''Kulo sampun ikhlas, amargi putro kulo nyatanipun nggih sampun sedo. Nanging dumugi sameniko ati kulo dereng tentrem. Amargi sedonipun putro kulo, kulo wastani mboten wajar. Kenging menopo kok putra kulo ngantos ditembak. Niki sing mboten saged kulo tampi. Kulo sakeluwarga tetep mboten trima,'' kata Mbah Narsem. Sebagai seorang ibu, lanjut Mbah Narsem, dirinya berkeyakinan jika almarhum tidak mempunyai kesalahan yang berat. Sebab, almarhum adalah orang yang selalu bersikap nrima. Dia tidak pernah berbuat yang neko-neko. Selain itu, almarhum semenjak kecil sudah pandai bergaul. Buktinya, dia punya banyak teman. Di tempat kerja pun, yakni Puskesmas Ngombol, Purworejo, dia bisa bergaul dengan baik, sehingga dapat diterima oleh karyawan atau pegawai yang lain. Setelah hidup berumah tangga dengan Muriah dan tinggal di lingkungan RT 1 R W 1 Pejagraan, Ngombol, Purworejo, masyarakat setempat pun dapat menerima keberadaan almarhum dengan baik. Yoyok tidak pernah mempunyai masalah dengan tetangga sekitar. ''Selama bekerja dan hidup berumah tangga di Purworejo, almarhum setiap ada waktu senggang selalu meluangkan waktu untuk menengok saya di Glempangpasir. Dia pulang dua bulan atau tiga bulan sekali. Yang pasti, setiap Lebaran dia bersama istri selalu pulang ke sini (Glempangpasir-Red),'' tutur Mbah Narsem. Adik kandung almarhum, Sunarti menuturkan, semua keluarga percaya bahwa kematian almarhum sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Namun sampai saat ini mereka masih belum bisa menerima penyebab kematian almarhum. Kalau dia meninggal karena kecelakaan, seluruh keluarga pasti ikhlas menerima kenyataan tersebut. Tetapi kalau mati karena ditembak, rasanya kami sulit untuk menerima kenyataan itu. ''Saya percaya apa yang menimpa Yoyok memang sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa. Tetapi kenapa dia meninggal dengan cara ditembak. Terus terang, saya dan keluarga yang lain tidak bisa menerima kenyataan ini. Apa kesalahan almarhum, sehingga dia harus ditembak?'' tanya Sunarti berkali-kali. Lebih lanjut adik kandung almarhum itu mengatakan, kematian almarhum disebabkan oleh dua tembakan di bagian dada. Satu peluru tembus hingga ke punggung, sedangkan yang satu lagi bersarang di dalam tubuh almarhum. Peristiwa penembakan tersebut merupakan kriminal murni. Untuk itu, seluruh keluarga almarhum di Desa Glempangpasir, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, menuntut agar pihak Kepolisian (Poltabes Semarang) mengusut tuntas kasus penembakan itu dan menangkap pelakunya. Pihak keluarga juga berharap kasus penembakan itu segera terungkap secara tuntas. Mereka ingin mengetahui secara pasti apa sebenarnya motif yang melatarbelakangi penembakan tersebut. ''Kalau dilatarbelakangi masalah asmara, saya rasa tidak mungkin. Sebab, selama ini kehidupan rumah tangga almarhum cukup harmonis. Soal wanita bernama Titin Haryanti yang disebut-sebut sebagai pacar, apa memang betul dia itu pacarnya?'' ujarnya. Terlepas dari permasalahan yang diduga melatarbelakangi penembakan itu, yang jelas seluruh keluarga Yoyok di Glempangpasir minta agar kasus kriminal ini diusut sampai tuntas. Jangan sampai pelakunya lolos dari jeratan hukum. Menurut Sunarti, sebagai korban tindak kriminal murni semestinya pada saat jenazah almarhum dikirim ke Glempangpasir disertai berita acara penyerahan jenazah. Namun berita acara itu tidak ada. Pihak keluarga menerima begitu saja jenazah almarhum. Bahkan pada saat pemakaman, tidak ada seorang pun anggota Polri yang ikut menyaksikan. ''Memang jenazah almarhum sudah diautopsi di Semarang dan itu dilakukan setelah ada persetujuan dari istri almarhum. Tetapi bagaimana pun, penyerahkan jenazah seharusnya disertai berita acara penyerahan dan dilampiri hasil visum dokter yang menjelaskan penyebab kematian almarhum secara medis,'' kata Sunarti.(Agus Sukaryanto-73) |