logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 22 November 2003 Jawa Tengah - Muria  
Line

Pengidap HIV Meninggal

PATI - Seorang wanita pengidap HIV asal Dukuhseti, beberapa waktu lalu meninggal dunia. Keadaan ini menjadikan semua pihak harus mulai memperhatikan bahaya penyakit tersebut.

Padahal, kata Kepala Subdinas Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyakit Lingkungan Permukiman (P2MPLP) Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, dr Edi Sulistyono, pengidap penyakit akibat virus yang menyebabkan hilangnya kekebalan tubuh tersebut, di daerahnya belum berkembang ke AIDS. Namun, sudah meminta korban, satu pengidapnya meninggal.

Hal itu mengisyaratkan, keharusan waspada dan terus berupaya mencegah penularannya melalui penyuluhan. Demikian juga pemutusan mata rantai, yakni dengan pendeteksian pada objek yang selama ini dinilai rentan terhadap penularan penyakit tersebut, misalnya para pelacur.

Sebab, lanjut dia, penularan HIV terjadi akibat kontak langsung melalui hubungan seksual, sehingga lelaki atau perempuan yang sering berganti-ganti pasangan akan mudah tertular. Karena itu, daerah yang paling rawan penularan adalah di Kecamatan Batangan, karena terdapat warung yang dihuni pelacur. Sementara lainnya terdapat di Kecamatan Margorejo.

"Yang disebut terakhir mempunyai sebuah kompleks pelacuran yang dikenal dengan sebutan Lorong Indah (LI)," ujarnya.

Adapun upaya pencegahan lainnya, siapa saja terutama kaum laki-laki yang selama ini sering melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, baik dengan lawan jenis atau sesama jenis, seharusnya mengunakan kondom. Selain aman bagi diri sendiri, juga aman bagi pasangannya.

Namun yang paling tepat adalah menjauhkan dan menghindarkan diri dari keinginan/nafsu untuk berhubungan seks secara berganti-ganti pasangan. Meskipun untuk pengidap HIV sudah ada obatnya, tapi harga tebusnya masih terlalu mahal, sehingga lebih tepat adalah menerapkan sebuah prinsip hidup sehat. Lebih baik mencegah dari pada mengobati.

Ditanya berapa jumlah warga di daerahnya yang mengidap HIV? Edi Sulistyono mengatakan, sejak berhasil dideteksi pada 1997 hingga sekarang (2003), semuanya 14 orang. Karena seorang meninggal, kini masih ada 13 orang. Satu pengidap, kini tengah menjalani parawatan intensif di sebuah rumah sakit di Yogyakarta.

Akibat keterbukaan dan kemauannya untuk sehat kembali, oleh pihak rumah sakit yang merawatnya, penderita tersebut justru diberi kepercayaan dan dilibatkan dalam pengelolaan klinik Paguyuban Keluarga Berencana (PKB). "Kesulitan pendeteksian HIV, karena warga yang diduga mengidap belum mau terbuka."(ad-58i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA