
| Jumat, 21 November 2003 | Tajuk Rencana |
Mewaspadai Bus Komplotan Penipu- Pengalaman pahit Bagi Zainudin (46) seharusnya menjadi pelajaran banyak pihak. Yakni para pemudik, pemilik bus PO Putri Jaya, Departemen Perhubungan, Dinas LLAJR, dan jajaran kepolisian. Rabu dini hari lalu, Bagi yang sedang dalam perjalanan mudik dari Jakarta ke Baturetno, Wonogiri dipaksa turun oleh kru bus di ujung jalan Tol Muktiharjo, mulut Jalan Raya Kaligawe Semarang. Tempat itu sekitar dua kilometer dari Terminal Terboyo. Protes ditolak oleh kondektur tanpa alasan pasti. Dia tetap dipaksa turun di pinggir jalan tol tersebut. Padahal, dia mempunyai bukti sebuah tiket seharga Rp90.000 yang berarti mempunyai hak diantar sampai tujuan, kota Solo.
- Itu baru salah satu peristiwa. Rabu pagi esoknya, sekitar pukul 09.00, hal yang sama terjadi di daerah tersebut. Sebuah bus menurunkan penumpang dengan paksa juga. Seorang warga yang menyaksikan kejadian itu mengemukakan, puluhan orang dengan berbagai jenis barang bawaan, ada yang digendong, dipanggul, dan lain-lain terpaksa berjalan kaki menuju pemberhentian bus di Jalan Kaligawe untuk mencari bus ke kota tujuan. Melihat barang-barang yang dibawa, tampaknya mereka juga para pemudik. Apalagi banyak di antara mereka disertai istri dan anak-anak kecil. Meskipun dirugikan, itu masih mendingan karena terjadi sudah agak siang. Bagi dan rombongan dipaksa turun pukul 01.45 dini hari.
- Peristiwa itu harus menjadi perhatian banyak pihak, karena nyaris terjadi tiap tahun pada pekan mudik. Bisa diduga kejadian memprihatinkan itu masih akan menimpa rombongan pemudik lain. Khususnya yang menggunakan bus. Dalam pekan mudik tahun lalu ada rombongan dari berbagai kota Jateng yang mengalami nasib lebih menyedihkan. Mereka dipaksa turun di pinggir jalan menjelang masuk Kota Cirebon. Debat dan protes diajukan oleh puluhan penumpang di tengah malam itu. Namun dengan alasan mesin rusak, mereka dipaksa menerima nasib. Mereka tak tahu benarkah mesin rusak atau karena faktor lain penumpang dipaksa menerima keputusan menyengsarakan itu. - Berbagai keterangan kemudian menyebutkan, bus-bus semacam itu ditengarai memang dijalankan oleh kelompok penipu. Di Jakarta, untuk mencari penumpang, bus itu biasanya parkir di luar terminal. Kaki tangan komplotan mencari calon penumpang ke dalam terminal. Yang memungut uang tiket pun bukan kondektur yang sebenarnya, melainkan anggota komplotan. Mereka sengaja menurunkan penumpang di pinggir jalan karena tidak memiliki izin trayek sampai kota tertentu. Yang menelantarkan Bagi dan rombongannya sangat mungkin tidak memiliki izin trayek sampai kota Semarang dan Solo.
- Sangat disayangkan, penumpang banyak yang tidak teliti ketika memilih bus. Bagi Zainudin, misalnya, tidak mencatat nomor polisi bus yang menelantarkannya. Jika ia memiliki data itu, tentu akan sangat membantu polisi atau petugas LLAJR untuk cepat bertindak. Pada saat mudik, karena berbagai sebab, misalnya kerepotan perjalanan bersama keluarga, banyak bawaan dan lain-lain, mereka menjadi kurang waspada. Apalagi pada hari-hari makin mendekati Idul Fitri. Semua calon penumpang supersibuk, tergesa-gesa, diburu nafsu harus bisa pulang secepatnya sehingga tidak cermat dalam memilih bus.
- Harus ada usaha untuk mencegah penipuan itu. Pertama, penumpang diimbau untuk mencatat dengan cermat identitas bus yang ditumpangi. Hal itu akan sangat membantu polisi atau petugas lain untuk bertindak. Aparat yang terkait dengan masalah itu ada baiknya meningkatkan kewaspadaan. Misalnya melakukan patroli lebih sering. Daerah-daerah rawan seperti mulut tol Kaligawe dan sepanjang jalan raya sampai Terminal Terboyo perlu lebih diwaspadai. Demikian juga kota-kota tujuan mudik yang lain. Ditelantarkan di jalan baru salah satu gangguan. Namun kalau hal itu teratasi, tentu akan sangat membantu pemudik. |