
| Jumat, 21 November 2003 | Sala |
Ketika Para Buruh Mendapat Bantuan PanganSEJAK pagi hingga siang iring-iringan orang keluar dari pintu utara Lapangan Kotta Barat, kemarin, seperti tak habis-habis. Meski sudah tak terhitung lagi, orang yang keluar terus mengalir. Setiap orang yang keluar berwajah ceria. Itulah sekelompok warga yang sehari-hari menjadi tukang sapu, pengangkut sampah, penjaga palang pintu kereta api, serta buruh gendong di pasar. Mereka memanggul atau menggendong sebungkus kardus menyusuri rumput lapangan dan melewati jajaran petugas yang menjaga pintu keluar. Senyum hampir tak pernah lepas dari bibir mereka. Jelas kegembiraan baru saja mereka rasakan. "Rasane nggih remen sanget, angsal bantuan sembako pas riyaya mpun nyedaki (Senang sekali mendapat bantuan bahan pangan saat Lebaran sudah dekat)," kata Karlan, pengangkut sampah. Lelaki yang mengaku berasal dari Banjarsari itu senang karena bantuan tersebut sangat berarti bagi keluarganya. Paling tidak bisa mengurangi pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan Lebaran tahun ini. "Saged kangge jagan dinten riyaya (Bisa untuk persiapan merayakan Lebaran," ujar dia. Lumayan Sekali Dalmi, buruh gendong di Pasar Gede Solo, juga tak kuasa menyembunyikan kegembiraan. Itu terlihat di wajahnya saat keluar dari lapangan. Ketika diberi tahu isi kardus yang digendongnya kegembiraan makin terpancar dari wajahnya. "Wah, nek ngoten nggih lumayan sanget, bantuan sembako niki (Wah, kalau begitu lumayan sekali bantuan pangan ini)," ujar dia. Wanita setengah baya itu mengucapkan terima kasih. Dia berharap bantuan itu diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan seperti dia. "Matur suwun sanget sampun dipun paringi bantuan. Mboten nyana saderengipun menawi tiyang kados kula kok nggih tasih wonten ingkang nggatosaken (Terima kasih sekali diberi bantuan. Saya tak menyangka sama sekali masih ada yang memperhatikan orang-orang seperti saya)," ucap dia. (Wisnu Kisawa-17g) |