logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 21 November 2003 Sala  
Line

Pos UKK Terminal Siap Tangani Korban Pembiusan

PENUMPANG bus dibius? Ya, tiga tahun terakhir kejahatan itu merebak di berbagai tempat. Korban adalah para pemudik yang naik bus malam dari Jakarta, Bogor, Bandung, atau lintas Sumatera. Mereka baru diketahui sebagai korban pembiusan karena tak sadar setiba di Terminal Bus Induk Tirtonadi.

Umumnya korban pemudik yang hendak melanjutkan perjalanan ke daerah asal. Namun karena ketika di terminal mereka belum sadar juga, awak bus menurunkan di terminal. Setelah siuman para korban menceritakan musibah yang mereka alami.

Beragam cara digunakan pembius sehingga korban tak sadar. Para penjahat itu pun leluasa membawa kabur barang para korban. Barang itu umumnya uang di kantong baju dan celana atau jam tangan dan perhiasan. Selama ini hampir semua korban adalah laki-laki.

Siapa yang merawat para korban pembiusan di terminal? Merekalah petugas Unit Kesehatan Kerja (UKK) Cabang Pembantu Puskesmas Gilingan di terminal. Merekalah memberikan pertolongan pertama setelah korban diturunkan dari bus. Petugas terminal bekerja sama dengan aparat DLLAJ, polisi, dan karyawan UKK mengurusi para korban.

"Kalau diturunkan dari bus sudah siuman kami tinggal memulihkan kesehatannya. Namun yang belum sadar kami tunggu hingga siuman. Jika beberapa hari tidak sadar terpaksa kami bawa ke rumah sakit," ujar dr Retno Widyawati, koordinator pembantu puskesmas didampingi ketua program Didik Subagyo.

Korban Pembiusan

Lebaran beberapa tahun lalu setiap pagi mereka selalu sibuk merawat korban pembiusan. Tidak ada hari tanpa korban bius. Korban tidak hanya satu. Bisa jadi satu-hari dua ada tiga orang.

"Korban pembiusan tidak hanya berada di terminal ini, tetapi hampir merata di beberapa kota. Ini saya ketahui dari rekan-rekan kepala terminal. Mereka menyebutkan di terminalnya juga sering ada korban pembiusan," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknik(UPTD) DLLAJ Terminal Tirtonadi, Bambang Tukowibowo ST.

Lama korban pingsan bervariasi. Ada korban begitu diturunkan dari bus langsung siuman. Ada pula sampai dirawat di ruang perawatan UKK atau ruang keamanan dan ketertiban terminal.

"Ada korban hampir tujuh hari belum siuman. Dalam kasus seperti itu korban kami bawa ke rumah sakit agar dirawat lebih intersif dan penyebabnya diteliti," kata dia.

Pada saat merawat korban, petugas UKK mendapat cerita bagaimana mereka pingsan. Umumnya mereka meminum minuman dalam kotak yang diberikan penumpang lain yang baru dikenal. Reaksi minuman beragam. Ada korban langsung pingsan, ada juga agak lama.

"Cepat dan lambat reaksi minuman itu tergantung pada kadar obat bius yang dimasukkan ke dalam kotak minuman. Kalau berkadar tinggi mempercepat korban tidak sadar," kata Didik.

Pos puskesmas terminal selama ini melayani masyarakat sekitar dan orang-orang yang berada di terminal. Unit kesehatan kerja itu dibentuk untuk melayani komponen pekerja di terminal, baik karyawan UPTD, pengemudi, agen bus, kuli angkut, maupun orang yang beraktivitas kerja di terminal.

Lebaran tahun ini para petugas kesehatan siap melayani orang yang membutuhkan perawatan, termasuk korban pembiusan. Jika penyebab penyakit diketahui dan obatnya ditemukan, penderita pasti bisa disembuhkan.

Namun tindak kejahatan, meski sudah diketahui pelaku dan caranya, belum tentu bisa sirna. "Semoga Lebaran kali ini tak ada korban pembiusan," ujar mereka. Dan memang sampai H-4 belum ada korban pembiusan. (Sri Wahjoedi-17g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA