logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 21 November 2003 Sala  
Line

"Tertib kalau Ada Petugas"

KEPALA Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Perparkiran Surakarta, Moedjianto SH, membantah dikatakan membiarkan praktik pungutan parkir gila-gilaan menjelang Lebaran ini. Berikut petikan wawancara dengan dia.

Bagaimana pungutan uang parkir sedemikian mahal bisa terjadi?

Mungkin karena sekarang mendekati Lebaran, para juru parkir yang nakal menggunakan kesempatan mencari uang sebanyak-banyaknya. Hal itu memang melanggar Perda Nomor 7 Tahun 2001 tentang Parkir di Tepi Jalan Umum dan Perda Nomor 8 Tahun 2001 tentang Parkir di Tempat Khusus. Kami sudah berkali-kali mengultimatum, tetapi praktik itu tetap berlangsung.

Apakah tak ada penertiban oleh UPTD Perparkiran?

Lo, jangan dikira kami diam saja mengetahui pungutan parkir tak keruan itu. Setiap hari kami menurunkan tim dibantu petugas Denpom (Detasemen Polisi Militer-Red) untuk menertibkan. Kami berpindah-pindah, misalnya di Matahari Departmen Store, Sami Luwes dan Ratu Luwes. Kami juga mengimbau masyarakat menolak ditarik uang parkir melebihi ketentuan.

Namun praktik itu terus berlangsung?

Ya, itulah. Kalau ada petugas kami yang berjaga di tempat parkir, para juru parkir tidak berani mengutip melebihi aturan. Jadi mereka tertib kalau ada petugas. Apalagi kami umumkan pengunjung yang dikenai uang parkir melebihi aturan langsung lapor ke petugas agar pemungut kami tangkap. Namun begitu petugas pergi mereka mengutip uang parkir lagi.

Apakah tidak ada penertiban secara tegas?

Situasi sosial politik baru seperti ini. Kalau kami saat ini bertindak keras, bisa muncul gejolak dengan para juru parkir itu. Maka perlu penanganan dengan mempertahankan suasana kondusif. Misalnya, karcis parkir yang melebihi ketentuan atau karcis liar kami sita.

Ada lontaran untuk mengaji ulang tarif parkir.

Betul. Saat ini kami mempersiapkan draf untuk merevisi perda masalah perparkiran. Kami juga berencana meminta pendapat masyarakat, misalnya lewat jajak pendapat, berapa layaknya tarif parkir di Solo. Tentu perlu pembicaraan dengan banyak pihak.(Setyo Wiyono-17g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA