logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 21 November 2003 Sala  
Line

Parah, Endapan Lumpur di Waduk Gajahmungkur

WONOGIRI-Dalam kondisi air surut drastis seperti sekarang ini, ketebalan sedimentasi lumpur Waduk Gajahmungkur terlihat sangat parah. Persis di depan bendung utama, ketebalan sedimentasi mencapai sekitar 10 meter atau hampir sepertiga dari total ketinggian bendung yang mencapai 30 meter dari dasar sungai.

Sedimentasi lumpur Waduk Gajahmungkur tersebut menguruk jembatan Somohulun, yang dulu ketika air surut masih terlihat kerangka jembatannya.

''Kali ini, jembatan kereta api Somohulun tidak lagi terlihat karena telah terkubur lumpur waduk,'' kata salah seorang penduduk Jenggrik yang perkampungannya terletak di utara bendung.

Melihat sedimentasi lumpur Waduk Gajahmungkur makin parah, warga sekitar mempertanyakan efektivitas pengerukan dengan kapal keruk yang sudah dua kali dilakukan dalam dua tahun berturut-turut belakangan ini.

Tahun pertama, oleh pihak Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumber Air Bengawan Solo, dikeruk endapan lumpur 65 m3. Pada tahun kedua pengerukan oleh kontraktor Kumagai Gumi Co Ltd yang sampai sekarang masih berlanjut, yang dananya mencapai 600 juta Yen (Rp 71 miliar), ditargetkan mengeruk lumpur paling tidak 239.930 m3.

''Wajar kalau sampai ada yang mempertanyakan seperti itu. Sebab menurut Bupati, ketika kapasitas pengerukan yang dicapai sekarang baru bervolume sekitar 200.000 m3, laju sedimentasi yang sekali datang di musim penghujan berjumlah berlipat mencapai sekitar dua juta meter kubik,'' kata Kabag Humas Pemkab Wonogiri Drs Bambang Eko Sarwono MM, kemarin saat meninjau langsung ke Waduk Gajahmungkur.

Saat meninjau, ada kegiatan pembersihan mulut terowong air yang tersumbat sampah. Upaya pembersihan dilakukan petugas setempat, untuk memperlancar pelepasan air yang disalurkan lewat pintu helowjet, yakni pintu pelepasannya tidak melewati terowong turbin Pembangkit ListrikTenaga Air (PLTA).

Menurut petugas Waduk Gajahmungkur, pelepasan air terpaksa dilakukan untuk menurunkan ketinggian (elevasi permukaan), dari semula + 127,4 M menjadi di bawah + 127 M, agar belalai penyedot lumpur dari kapal keruk yang panjang maksimalnya hanya 11 meter, dapat menjangkau ke dasar waduk di elevasi + 116 M. Untuk kepentingan penurunan elevasi itu, dibutuhkan pelasan air berdebit sekitar 20 m3/detik.

Pihak Kantor Waduk Gajahmungkur menjelaskan, pekerjaan kontraktor Kumigai dari Jepang, saat ini menyelesaikan pengerukan dengan volume sekitar 206.000 m3 dari total target pengerukan endapan lumpur sekitar 240.000 m3.

Sisa pengerukan sekitar 44.0000 m3 endapan lumpur ditargetkan akan selesai sampai Januari 2004 mendatang, selagi elevasi air permukaan belum meninggi bersamaan dengan turunnya hujan di musim rendengan sekarang ini.(P27-14s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA