
| Jumat, 21 November 2003 | Sala |
TerasKembali ke Titik NolTAHUN depan, anggota Fraksi Pembaruan (FP) DPRD Drs Agus Djawari kembali akan menunaikan ibadah haji dalam kapasitasnya sebagai Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) Karanganyar. Berbekal pengalaman ibadah haji pertama yang dilaksanakan secara pribadi, apa yang akan ia lakukan nanti? Berikut wawancara Suara Merdeka dengan staf pengajar Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta itu. Apa yang Anda lakukan pada musim haji tahun depan? Pertama, dengan hormat saya mengucapkan terima kasih atas penunjukan saya selaku TPHD musim haji tahun depan. Berbekal pengalaman naik haji pada 2000 lalu, saya akan melayani semaksimal mungkin calon jamaah haji Karanganyar. Terutama dalam memenuhi syarat rukun dan sunah sebagai jamaah haji. Bagaimana teknisnya? Sebagai calon jamaah haji, terutama yang baru kali pertama tentu akan merasa asing sehingga kesulitan. Baik ketika berada di penginapan, akan melaksanakan ibadah, maupun dalam perjalanan menuju masjid atau saat melempar jumroh, dan lain-lain. Kadang-kadang ketika sedang berbelanja mereka lupa akan tujuan utamanya dalam menunaikan ibadah haji. Bagaimana dengan Ramadan tahun ini? Kami berharap Ramadan tahun ini tidak hanya memberikan pengalaman fisik pada umat Islam (khususnya yang menjalankan ibadah puasa) dengan berpuasa dan menahan lapar. Tapi dapat memberikan pengalaman batin yang baik bagi siapa saja, termasuk politisi dan anggota DPRD. Jangan hanya mempermasalahkan makan yang boleh atau tidak boleh masuk mulut, tapi juga perlu dipikirkan makanan batin yang masuk dalam hati dan pikiran kita. Artinya? Artinya, puasa dalam menahan lapar di bulan Ramadan ini tidak ada artinya jika tidak disertai perubahan sikap yang baik. Terutama para politisi dan anggota DPRD. Dengan puasa diharapkan bisa dijadikan momentum umat Islam untuk meningkatkan ibadah serta berbuat baik kepada siapa pun. Bagaimana dengan Idul Fitri? Saya kira tidak beda? Fitri artinya kembali ke awal, kembali ke titik nol. Dengan kembali ke titik nol, hati manusia bersih dari dosa dan masa lalu sehingga ke depan diharapkan selalu berbuat baik. (Langgeng Widodo-14s) |