
| Jumat, 21 November 2003 | Sala |
Minim, Sarana Antisipasi BanjirKOTA - Warga dua kecamatan yang dilanda banjir tahunan mengeluh. Karena, sarana penangkal banjir yang mereka miliki minim. Meski setiap tahun Solo dilanda banjir, sarana untuk menyelamatkan dan mengevakuasi warga tidak memadai. "Sarana posko bencana di kecamatan sangat minim dan berkesan seadanya. Sarana baru berupa kantung pasir dan ban karet untuk pelampung. Itu pun sangat sedikit dan kebanyakan berasal dari swadaya warga," ujar Camat Pasarkliwon, Drs Satrio Teguh Wibowo. Dia mengemukakan setidaknya tiga kelurahan, yaitu Sangkrah, Semanggi Joyosuran, dan Kedunglumbu, yang rawan banjir. Jika air meninggi ratusan keluarga perlu dievakuasi ke tempat aman. Namun pihaknya tak memiliki tenda pengungsian sehingga terpaksa menggunakan terpal seadanya dari swadaya masyarakat. Tenda itu kurang memadai dan dikawatirkan tidak aman bagi pengungsi. Hal senada dikemukakan Camat Jebres, Drs Subagiyo. Dia menuturkan sarana setiap posko di kelurahan dan kecamatan masih minim. Di wilayahnya ada enam kelurahan dilanda banjir tahunan. Yaitu, Sewu, Pucangsawit, Gandekan, Jagalan, Jebres, dan Sudiroprajan. Keluarga yang dilanda banjir sekitar 1.200 atau sekitar 6.000 jiwa. Kemungkinan bisa lebih jika daerah yang terkena luapan Bengawan Solo meluas. Pelampung Saat ini kecamatan sudah membagi beberapa pelampung ke kelurahan rawan banjir. Namun sarana penyelamatan kurang memadai. Subagiyo mengusulkan penambahan beberapa sarana penanggulangan bencana. Pengadaaan perahu karet, misalnya, sangat mendesak. "Perahu karet lebih mendesak daripada tenda. Karena untuk pengungsi kami menggunakan sarana umum yang aman seperti sekolah atau kantor kelurahan. Perahu karet bisa mempercepat evakuasi korban," ujar dia. Mereka menyatakan sudah ada bantuan logistik Dinas Kesejahteran Rakyat dan Pemberdayaan Perempuan (DKRPP) berupa beras, kecap, gula, dan mi instan. Di Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, telah disiapkan dapur umum untuk mengolah. "Saya prioritaskan yang memperoleh bantuan adalah orang tidak punya. Kalau kebanjiran tetapi mampu mungkin tak mendapat prioritas," kata Subagiyo. Dia juga menyiapkan petugas kesehatan di puskesmas pembantu untuk menolong masyarakat yang dilanda banjir. Pascabanjir biasanya warga masuk angin, gatal-gatal, dan diare. Itu memerlukan perhatian khusus.(G18-17g) |