logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 21 November 2003 Sala  
Line

Lima Persen Pohon Peneduh Lapuk

KOTA-Tumbangnya sejumlah pohon di beberapa tempat, disebabkan kurang tepatnya pemilihan pohon untuk peneduh di badan jalan. Selama ini, yang paling banyak diipilih Pemkot untuk penghijauan kota adalah tanaman angsana yang akar tunggangnya tidak kuat, sehingga rentan terhadap tiupan angin kencang.

"Seharusnya mulai dipertimbangkan pemilihan pohon untuk peneduh jalan, yaitu tanaman yang akar tumbangnya kuat sehingga tidak membahayakan pengguna jalan. Selama ini dari pantauan saya, yang banyak ditanam pohon angsana karena tumbuhnya cepat. Tetapi pohon itu gampang tumbang jika kena angin kencang," ujar Kepala Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BTPDAS), Ir Nugroho Sulistyo Priyono MSi, kepada Suara Merdeka, kemarin.

Dia memaparkan, selain angsana yang gampang roboh antara lain pohon palem raja atau cemara yang tidak ditanam dari awal. Kebanyakan pohon cemara yang ditanam di badan jalan merupakan pindahan dari tempat lain, sehingga akarnya tidak mencengkeram tanah dengan kuat.

Juga pohon lain yang perkembangbiakannya melalui stek yang tidak memiliki akar yang tumbuh vertikal. Akar pohon-pohon tersebut berkembang horisontal, sehingga mudah roboh dan jika berdekatan dengan bangunan akan merusak.

"Sebaiknya untuk peneduh dipilih pohon seperti mahoni, asem, dan ketapang, yang tidak gampang roboh. Kalau asem, mungkin tumbuhnya lama, tetapi kalau ketapang dan mahoni cukup cepat tumbuh," kata dia.

Lima Persen

Ditempat terpisah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surakarta, Drs Triyanto MM, mengatakan tumbangnya beberapa pohon Rabu (19/11) silam disebabkan angin kencang. Angin kencang tersebut biasa mengawali pergantian musim akibat perbedaan tekanan udara.

Disinggung mengenai pohon yang lapuk, Triyanto memaparkan hanya sedikit pohon yang dalam kondisi lapuk. Untuk pohon yang tua dan sudah lapuk, memang berada hampir di setiap ruas jalan. Namun berjumlah hanya sekitar lima persen.

Melihat hal itu, DKP sudah meregenerasikan di beberapa tempat, baik yang belum ada pohonnya atau yang bersifat tambal sulam yaitu mengganti yang sudah lapuk. Bahkan jika ada pohon yang diperkirakan membahayakan, DKP telah lebih dahulu menebangnya.

"Kami juga menyiagakan personel dan peralatan jika sewaktu-waktu ada pohon tumbang, melihat seringnya hujan disertai angin kencang akhir-akhir ini," ujar dia.

Nugroho menjelaskan, angin yang datang beberapa hari terakhir ini akan berkurang seiring semakin tingginya intensitas hujan. Jika setiap sore sudah hujan, angin kencang diperkirakan tak lagi bertiup.

"Semakin sering hujan, makin kecil kemungkinan angin ribut. Angin yang bertiup kencang itu hanya terjadi pada awal musim penghujan," jelas dia.(G18-17s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA