
| Jumat, 21 November 2003 | Sala |
Sinuhun pun Bagi-bagi KekucahKERATON SURAKARTA-Sinuhun Paku Buwono XII memberikan tali asih atau kekucah kepada kurang lebih 400 abdi dalem-nya, sebagai ungkapan rasa terima kasih atas kesetiaan pengabdian mereka. Kekucah berupa sejumlah uang dalam amplop dan sepaket bahan pangan itu bukan zakat dan fitrah, sekalipun diserahkan mengambil momentum menjelang Lebaran. "Kalau zakat dan fitrah ada sendiri, diserahkan keraton lewat pengurus Masjid Agung. Ini kekucah dari Sinuhun. Penyerahannya hanya mengambil momentum menjelang Lebaran agar bisa dimanfaatkan untuk bakdan (berlebaran-Red)," kata Pengageng Parentah Keraton, GPH Dipokusumo, kepada Suara Merdeka di Pendapa Sasanamulya, kompleks keraton, kemarin. Dia mengatakan, para abdi dalem itu terdiri atas yang bertugas sehari-hari di Kantor Pengageng Parentah Keraton, Keparak Mandra Budaya, Sasana Prabu, Pengageng Keputren di lingkungan keraton serta para juru kunci di berbagai daerah, misalnya dari Imogiri (DIY). Kalau secara keseluruhan ada 946 abdi dalem, dari luar kota hanya datang perwakilan ditambah dari internal keraton ada kurang lebih 400 orang. Pembagian kekucah yang tidak terpancang waktunya dan tidak terbatas frekuensinya dalam setahun itu, kemarin dilangsungkan di Pendapa Sasanamulyo, dari kebiasaan bertahun-tahun di Bangsal Smarakata dan Bangsal Kasentanan. Di situ, para abdi dalem yang rata-rata mengenakan penutup kepala blangkon duduk lesehan, menghadap petugas yang membawa daftar nama dan tumpukan amplop berisi uang. Terima Amplop Sesudah menjawab nun kula dan sendika ketika dipanggil, mereka dipersilakan maju satu per satu mendekat lalu tanda tangan dan menerima selembar amplop dan kartu. Mereka bergeser sedikit dan menyerahkan kartu kepada petugas pembagi paket bahan pangan yang dibungkus tas plastik kresek, lalu meninggalkan tempat. "Di tempat itu lebih luas. Dan lagi, tidak mengganggu kalau ada tamu. Yang jelas, di sini bisa disambi dengan pekerjaan lain. Selain itu, njagani (berjaga-jaga-Red) kalau ada yang datang belakangan. Sebab banyak yang masih bertugas," kata putra dalem yang akrab disapa Gusti Dipo itu. Selain sejumlah uang, setiap abdi dalem menerima sepaket bahan pangan antara lain berisi gula, kecap, mi, dan minyak goreng. Di tempat itu pula, istri Gusti Dipo, RAy Febri Hapsari, menggelar pakaian murah sisa ekspor dengan harga yang sangat jauh dari harga pabrik. Menurut Gusti Dipo, sekalipun kondisi keraton tidak lagi menerima asok bulu bekti glondong pengareng-areng atau upeti, kapan saja Sinuhun masih berkewajiban memberikan kekucah. Upeti itu sudah dihapus Sri Susuhunan Paku Buwono X dan diganti dengan uang dengan sistem target, karena Belanda menghendaki demikian. "Dalam kondisi sekarang ini, memang bisa dikatakan tidak seimbang karena Sinuhun sudah tidak mendapatkan upeti atau pajak. Harta keraton pun sudah tiada. Tetapi, Sinuhun merasa kekucah itu tidak harus ditiadakan. Karena ungkapan rasa terima kasih, kapan saja bisa datang," jelasnya lagi.(won-17s) |