logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 21 November 2003 Berita Utama  
Line

Mudik Gratis Jadi Ajang Kangen-kangenan

MUDIK GRATIS: Artis Mayangsari menghibur para penjual jamu yang mengikuti mudik gratis bersama Sido Muncul. Ribuan pemudik itu diberangkatkan dengan 190 bus dari areal parkir Pekan Raya Jakarta Kemayoran, kemarin. (55j)

JAKARTA- Kendati terlihat kerepotan, karena rata-rata menenteng bawaan yang tampak berat dan dalam kemasan jumbo, seperti koper, dus, dan karung, wajah-wajah ceria terpancar dari ribuan orang yang mengalir ke area parkir Pekan Raya Kemayoran Jakarta, Kamis (20/11) pagi.

Mereka merupakan bagian dari sekitar 12 ribu keluarga penjual jamu gendong, jamu dorong, dan penjual jamu di kios yang mengikuti program mudik gratis yang disediakan perusahaan jamu PT Sido Muncul.

Sebanyak 190 bus siap mengantar mereka ke Cirebon, Kuningan, Banjarnegara, Tegal, Solo, dan Wonogiri. Perusahaan itu untuk kali ke-14 menggelar program mudik gratis bagi mitra kerjanya.

Pelepasan rombongan dilakukan Menhub Agum Gumelar didampingi dirut perusahaan jamu itu, Irwan Hidayat. Di tengah-tengah pelepasan terlihat sejumlah artis seperti Sophia Latjuba, Setiawan Djody, Mayangsari, dan Timbul.

"Selain menghemat, mudik gratis ini bisa menjadi ajang kumpul-kumpul dengan saudara atau teman sedaerah," tutur Kardi (42), penjual jamu asal Kampung Giribelah, Wonogiri, Jawa Tengah.

Bersama ratusan keluarga penjual jamu lainnya, Kardi, ayah dari dua anak, naik bus ke jurusan Wonogiri. "Nanti dari Wonogiri, saya masih harus naik angkot lagi, kemudian baru ngojek."

Dia yang berjualan jamu sejak 1975 di kompleks Sukatani, Mekarsari, Cimanggis, Jakarta tersebut sengaja memanfaatkan acara mudik gratis setiap kali Lebaran. "Kami bisa menghemat sedikitnya Rp 150.000 dengan mudik gratis ini," ujar dia sambil mengatakan, tarif umum ke Wonogiri pada hari biasa "cuma" Rp 50.000.

Surisman (47) asal Pracimatoro, Wonogiri yang berjualan jamu sejak 1978 di Gang Rahmat Pasar Kemiri, Depok, Jakarta mengaku sejak lama memanfaatkan program mudik gratis itu.

Soalnya, ada nilai tambah, yakni bisa kangen-kangenan dengan teman atau kerabat yang di Ibu Kota tinggalnya berjauhan seperti di Tangerang, Bekasi, Karawang, Bogor, bahkan Banten.

"Ya ketemunya di sini (saat mudik-Red). Di kampung sih sibuk dengan urusan masing-masing."

Selain Sido Muncul, sejumlah perusahaan yang mengadakan kegiatan serupa. Misalnya PT Indofood (produsen mi), PT Mustika Ratu (jamu/ kosmetika), PT Gudang Garam, PT Djarum, dan PT Bentoel (ketiganya rokok).

Seperti halnya "peserta" mudik gratis Sido Muncul, tujuan pemudik yang dikelola perusahaan rokok, mi, dan kosmetika itu adalah kota-kota di Jawa Tengah, dan bagian utara Jawa Barat seperti Kuningan, Majalengka, dan Cirebon.

Belakangan sejumlah partai politik pun seperti tak mau ketinggalan. Salah satunya adalah PDI-P.

Mudik, apalagi bareng-bareng, baik dengan keluarga maupun bukan, memang fenomena unik. Keunikannya mungkin lebih tepat penderitaannya adalah liku-liku untuk memperoleh angkutan.

Pemudik harus siap berjuang mendapatkan karcis bus atau kereta. Seperti halnya yang dialami Sakri asal Wiradesa, Pekalongan, calon penumpang KA Tawang Jaya.

"Wong saya sudah antre sejak subuh, karcis aja nggak dapet. Calonya keterlaluan lagi," kata penjual mi tektek itu yang berdagang di kawasan Plumpang, Jakarta Utara.

Yang membuat dia mendongkol adalah ketika muncul tawaran karcis harga selangit dari calo. Pengamatan Suara Merdeka di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, kemarin, gerak para calo makin rapi.

Mereka sangat selektif menawarkan jasanya. Orang yang terlihat gagal mendapatkan karcis pun tidak langsung mereka tawari. Istilahnya, liat-liat dulu. Jangan-jangan malah ditangkap petugas KA.

Belum Aman

Namun, dapat karcis pun belum tentu aman. Asih, salah seorang calon penumpang KA Matarmaja (jurusan Madiun, Blitar, Malang-Red) mengeluh diperas calo. Saat kereta datang, dia bergegas naik mencari kursi. Namun, kursi-kursi itu sudah "diboking" calo. Caranya, mereka, dalam jumlah banyak, menduduki kursi itu. Lantas, temannya yang mencari "pembeli kursi".

Para calo itu, yang praktiknya mirip preman, mengutip sedikitnya Rp 10.000/kursi untuk kereta kelas ekonomi.

Sulit Mengatur

Soal ingar-bingar seputar mudik, Menhub Agum Gumelar mengakui, sulit untuk mengatur pergerakan pengguna jasa transportasi dalam waktu bersamaan. "Sarana dan prasarana sudah optimal, meski dengan segala keterbatasan. Sekarang tinggal bagaimana mengatur penumpang agar bisa berangkat teratur. Namun ini sulit, kecuali bisa menerapkan kedisiplinan dalam satu rencana pemindahan yang direncanakan itu," papar dia ketika memantau kesiapan angkutan Lebaran 2003 di Stasiun Besar Bandung, semalam.

Sebelumnya, dia bersama Dirjen Hubdar Iskandar Abubakar dan jajaran direksi PT KA memantau di Cirebon dan Cikampek. Di Cikampek, rombongan meninjau kesiapan penggunaan jalur ganda antara Cikampek dan Haurgeulis yang akan diresmikan awal Desember.

Di Stasiun Bandung, Agum memergoki penumpang yang tidak mempunyai karcis. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala. Sementara itu, Dirjen Iskandar menjelaskan, hingga H-5 laporan tentang pelanggaran tarif angkutan Lebaran yang dilakukan awak bus masih nihil.

Dia memperkirakan, pelanggaran tarif bakal terjadi pada saat hari puncak antara H-3 dan H-2 seperti tahun-tahun sebelumnya pada saat penumpang benar-benar membutuhkan angkutan. (F4,bn,dwi-13j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA