
| Jumat, 21 November 2003 | Berita Utama |
Defisit PLN Rp 4 Triliun, DitekanSURABAYA-Manajemen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) berusaha terus-menerus mengefisienkan kinerjanya. Caranya, selain konsolidasi internal perusahaan, juga memberantas angka pencurian dan kehilangan listrik. Sehingga, defisit (rugi) PLN sebesar Rp 4 triliun pada tahun 2004 mampu ditekan. ''Kalau bisa jangan sampai rugi sebesar Rp 4 triliun sesuai perencanaan, tapi kita mampu mencapai break event point (BEP),'' kata Dirut PT PLN Eddie Widiono kepada wartawan di Surabaya, Kamis (20/11). Orang pertama di PT PLN ini datang ke Surabaya untuk menghadiri acara serah terima jabatan GM PT PLN (Persero) Distribusi Jatim dari Ir Fahmi Mochtar MM kepada Ir Hariadi Sadono MM. Eddie menambahkan, tindakan tegas terhadap pelaku pencurian listrik dilakukan untuk menegakkan citra perusahaan. Selain itu untuk merealisir keputusan direksi yang akan mempercepat target BEP perusahaan dari tahun 2006 menjadi tahun 2004. ''Kita terus berusaha agar pelanggan mengetahui kalau PLN telah berupaya secara maksimal mencukupi kebutuhan listrik. Makanya, angka pencurian listrik mesti kita tekan, sehingga target strategisnya tercapai,'' tandasnya. Pencurian listrik salah satu faktor kerugian besar yang dialami manajemen PT PLN. Karena itu, usaha pemberantasannya tak boleh setengah-setengah. Selain itu angka kehilangan energi listrik, karena alasan teknis dan nonteknis juga tetap tinggi. ''Kami juga akan mengefisienkan biaya-biaya operasional. Kami bertekad menghasilkan sesuatu lebih baik tahun 2004 mendatang. Kalau dalam perencanaan dicantumkan kerugian PLN diperkirakan sebesar Rp 4 triliun, kami berharap realisasinya tak demikian. Mungkin bisa mencapai BEP,'' tegasnya. Langkah efisiensi dan percepatan pencapaian BEP PT PLN, kata Eddie, tak identik dengan kenaikan tarif listrik yang ditanggung pelanggan. ''Kami mesti hati-hati dalam melihat masalah ini,'' tuturnya. Sebab, tambahnya, kalau penawaran dan permintaan listrik di pasar dalam posisi angka penawaran lebih tinggi dibanding permintaan, otomatis pelanggan akan mendapat harga listrik lebih murah. Namun, jika sebaliknya, maka harga listrik lebih mahal dan perusahaan listrik swasta maupun negara diuntungkan. Karena itu, menurut Eddie, dalam perspektif ke depan, pemerintah harus mampu menciptakan iklim kondusif dan mendorong masuknya investor swasta di bidang kelistrikan. Sehingga, iklim persaingan bisnis kelistrikan berjalan normal dan sehat. ''Kalau tak ada investor swasta yang masuk ke dunia kelistrikan, kita justru khawatir terjadi kenaikan tarif listrik. Sebab, supply terbatas dan demand tinggi. Padahal, syarat masuknya investor harus ada kepastian keuntungan. Kita sekarang susah menarik investor,'' ungkapnya. (G14-64) |