logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 21 November 2003 Berita Utama  
Line

TNI Ingin Manfaatkan Texmaco

JAKARTA-Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan keinginannya agar PT Texmaco yang kini berada di tangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dimanfaatkan sebagai industri pendukung militer.

Seperti pabrik senjata dan kendaaraan pengangkut. Hal ini dinilai lebih menguntungkan daripada dijual dengan harga jauh di bawah nilai asetnya.

Endriartono mengungkapkan ha itu usai menyaksikan pelantikan duta besar oleh Presiden Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Kamis (20/11). Panglima TNI mengaku keinginannya itu sudah disampaikan kepada Presiden dalam rapat kabinet terbatas beberapa hari lalu.

''Kami masih menunggu tanggapan resmi pemerintah. Tapi sampai kini belum ada keputusan pemerintah soal ini,'' katanya.

Menurut dia, saat ini pemerintah sedang melakukan audit teknologi atas mesin-mesin yang dimiliki PT Texmaco Perkasa, anak perusahaan Texmaco. Selaun audit manajemen yang dilakukan BPPN.

Kewajiban

Panglima mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya Texmaco saat ini memiliki kewajiban sebesar Rp 18 triliun kepada pemerintah. Namun Marimutu Sinivasan sebagai pemilik perusahaan sudah tidak mampu melunasi utang itu. Sedangkan dari seluruh asetnya hanya 5 persen atau Rp 800 miliar yang laku dijual. Sisanya Rp 17,2 triliun tidak pernah lagi kembali kepada pemerintah.

''Saya ini bukan orang ekonomi. Saya hanya melihat sebagai orang awam. Saya lihat ada suatu potensi yang sangat besar. Daripada yang idle (menganggur) itu hanya bernilai Rp 800 miliar dari Rp 18 triliun uang yang dikeluarkan, lebih baik dimanfaatkan,'' katanya.

Daripada pemerintah menjual Texmaco dan hanya mendapatkan Rp 800 miliar, sedang yang Rp 17,2 triliun hilang, menurut Endriartono akan lebih bermanfaat jika perusahaan itu dikembangan untuk mendukung kebutuhan TNI. Ia melihat Texmaco memiliki kemampuan membuat panser, meriam, tank, dan beberapa peralatan militer lain.

''Tidak hanya untuk kebutuhan persenjataan, tapi juga kemampuan Texmaco membuat truk, bus, dan kendaraan sejenis, yang tentu dapat dimanfaatkan. Malah bila kualitasnya bagus bisa diekspor,'' tambahnya.

Jika hal ini terlaksana, setidaknya bisa mengurangi ketergantungan TNI pada pasokan persenjataan dari negara lain, seperti terjadi sekarang.

Panglima berharap dengan adanya restrukturisasi seperti itu kondisi Texmaco secara bertahap bisa disehatkan kembali. Bahkan bukan tidak mungkin pinjaman yang sebesar Rp 18 triliun itu bisa kembali masuk ke kas negara.

''Yang penting sekarang ada political will dari pemerintah. Katakanlah semua barang kebutuhan pemerintah itu dibuat oleh Perkasa atau Texmaco, kan akhirnya bisa jadi sehat, dan Rp 18 triliun bisa kembali,'' imbuhnya. (A20-64)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA