logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 21 November 2003 Berita Utama  
Line

Istanbul Dibom Lagi, 25 Tewas

  • Termasuk Konsul Jenderal Inggris
HANCUR: Menara kantor pusat HSBC Bank di Istanbul, Turki, hancur terkena ledakan bom. Sedikitnya 25 orang tewas dan ratusan luka-luka. Kondisi gedung itu rusak berat, puing-puing dan mayat berserakan di luar menara tersebut.(55j) - SM/AFP

ISTANBUL - Istanbul kembali dibom. Paling tidak 25 orang tewas dan 390 lainnya terluka, ketika tiga ledakan mengguncang ibu kota perdagangan Turki itu, Kamis kemarin.

Satu ledakan menghancurkan menara kantor pusat HSBC Bank, dan ledakan kedua menghantam gedung Konsulat Jenderal Inggris. Menurut CNN semalam, Konsul Jenderal Robert Short tewas.

"Dengan rasa duka kami kabarkan, Konsul Jenderal Inggris tewas dalam ledakan tersebut," kata Ian Sherwood, seorang pejabat Konsulat Jenderal Inggris di Istanbul.

Ledakan, yang terjadi bersamaan dengan kunjungan Presiden AS George W Bush ke Inggris itu, merupakan yang kedua di Turki dalam lima hari. Menteri Dalam Negeri Turki mengatakan, dia melihat adanya kaitan antara ledakan kemarin itu dengan serangan akhir pekan lalu di dua sinagog Istanbul yang menewaskan 25 orang.

Kaum pria dan wanita menangis di jalan itu, sambil merawat luka yang mereka derita. Mayat-mayat terserak di antara puing-puing di luar menara gedung HSBC, bank global yang berpusat di London.

Para petugas pemadam berjuang memadamkan api di dalam gedung 12 lantai itu, yang menjadi arang akibat ledakan tersebut. Potongan-potongan mobil dan pecahan kaca berserakan di sepanjang jalan di luar gedung tersebut.

Televisi CNN-Turki melaporkan, banyak orang mengalami luka parah dalam ledakan di konsulat Inggris. Seorang petugas keamanan mengatakan sejumlah orang tewas di gedung HSBC. Ledakan ketiga terjadi di satu daerah permukiman.

Sangat Dahsyat

Sejumlah ambulans terlihat membawa korban luka-luka kemarin. Di depan gedung HSBC, satu bangunan menara warna putih di distrik komersial itu, tampak hancur.

"Ledakan itu tampaknya sangat dahsyat," kata juru bicara Kedubes Inggris. Salah satu ledakan menyebabkan kerusakan serius di konsulat Inggris di Istanbul, jelas juru bicara tadi.

Chris Kitrinos, seorang guru bahasa Inggris, mengatakan kepada televisi CNN kemarin: "Kerusakan yang ditimbulkannya sangat parah. Saya diberitahu bahwa ada orang-orang yang tergeletak dan saya melihat orang-orang tergeletak di tanah."

Penduduk membawa orang-orang yang menjadi korban keluar dari tempat kejadian. Terdapat puing-puing dan mayat berserakan.

Menteri Luar Negeri Turki, Abdullah Gul, mengatakan Turki tidak akan "tunduk pada teror".

Gul, yang menyampaikan komentarnya selama satu kunjungan ke Stockholm, juga mengatakan ledakan tersebut tampaknya terorganisasi, namun dia tidak memberikan perincian lebih lanjut. "Semua orang harus tahu bahwa kami tidak akan menyerah pada terorisme," katanya, seperti dikutip kantor berita Anatolian.

Peringatan Perjalanan

Di London, Menlu Inggris Jack Straw, kemarin, mengatakan sejumlah orang Inggris, Turki, dan warga negara lain tewas dalam ledakan di Istanbul, kemarin.

Straw juga mengatakan kepada Parlemen, Inggris sedang merevisi peringatan perjalanan dan akan mengeluarkan peringatan lagi terhadap "semua kecuali perjalanan sangat penting" ke Turki. Menurutnya, serangan di konsulat Inggris dan sasaran-sasaran lain di Istanbul itu membawa tanda Al Qaedah.

Meski tidak ada indikasi jelas tentang siapa yang bertanggung jawab, serangan-serangan itu "semuanya membawa tanda operasi terorisme internasional yang dilakukan Al Qaedah dan organisasi-organisasi rekannya," katanya kepada wartawan. Dia menjelaskan, Inggris tengah mengecek keberadaan tiga atau empat staf di konsulat itu.

Juru bicara Gedung Putih, yang ikut rombongan Presiden George W Bush di Inggris, menyatakan AS tengah memantau serangkaian ledakan yang menguncang Istanbul itu.

"Kami tengah memantau situasi setelah serangan teroris itu," kata juru bicara Gedung Putih, Sean McCormack, kepada wartawan.

Sementara itu, persekutuan George W Bush dan Tony Blair makin kuat kemarin. Mereka mengatakan ledakan di Istanbul membuktikan perlunya melanjutkan perang melawan terorisme dan membenarkan perang di Irak.

"Inggris dan Amerika serta negara-negara bebas lainnya saat ini bersatu dalam kesedihan kami dan tekad kami untuk memerangi dan mengalahkan kejahatan ini di mana pun berada," kata Bush.

"Misi kami di Irak mulia dan perlu dilakukan, dan tidak ada tindakan kejam atau pembunuhan yang bisa mengubah keputusan kami atau mengubah nasib mereka. Kami akan mengakhiri tugas yang telah kami mulai."

"Serangan teroris terbaru ini menunjukkan kepada kita bahwa ini perang. Medan tempur utamanya adalah Irak," kata Blair.(rtr-niek-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA