
| Jumat, 21 November 2003 | Karangan Khas |
Menjaga Spiritualitas RamadanOleh: Mahmudi Asyari & Zaenuddin Bukhori HISAB untuk daerah Jakarta (LS -6.11 dan BT 106.45) memuat data bahwa ijtima' akhir Ramadan 1424 H akan jatuh pada Senin 24 November 2003 pukul 05.57 WIB dan sore harinya pada saat matahari terbenam ketinggian hilal mencapai 5 derajat 38 detik. Berkaitan dengan itu, insya Allah, jika tidak ada faktor alam yang menghambat proses rukyah, umat Islam baik dari kalangan hisab seperti Muhammadiyah dan Persisi maupun kalangan hisab-rukyah seperti NU dan pemerintah akan melaksanakan shalat Idul Fitri secara bersama-sama. Namun, jika faktor alam seperti ketika akan dirukyah ternyata hilal terhalang awan, kemungkinan -meski itu sangat kecil- muncul perbedaan dalam merayakannya akan terulang. Umat Islam tidak perlu risau, apalagi menggalang massa (demo) untuk menekan pemerintah agar menafikan perbedaan itu. Anggap saja perbedaan itu sebagai rahmat dan keniscayaan sebagaimana umat sudah terbiasa dalam melihat perbedaan dalam persoalan qunut, tahlil, dan bilangan rakaat dalam shalat tarawih. Karena itu, sekali lagi, jika memang perbedaan harus terjadi dalam penentuan Idul Fitri, umat Islam tidak perlu menganggap sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Anggap saja sebagai rahmat Allah buat umat Islam. Terlepas dari persoalan itu, yang pasti ujung Ramadan sudah semakin dekat. Ini berarti semakin dekat pula titik akhir sebuah bulan yang penuh rahmat dan berkah serta ampunan Allah Swt. Seorang yang beriman dan meyakini betul limpahan berkah dan kasih sayang Allah dalam bulan itu tentu akan sangat bersedih, bahkan mungkin akan menangis pilu lantaran lautan rahmat dan berkah-Nya akan segera berlalu. Betapa tidak, gembira saja dengan kedatangan bulan suci sudah mendapatkan ampunan Allah. Apalagi orang-orang yang di samping gembira juga mengamalkan ibadah puasa secara sungguh-sungguh (ikhlas) serta memakmurkan malam harinya hanya untuk mendapat rida-Nya. Tentu rahmat, berkah, dan ampunan Allah lebih pantas bagi mereka. Menurut suatu riwayat, rasa sedih dan pilu itu tidak hanya dialami orang-orang yang saleh, malaikat pun yang tidak ikut merasakan nikmat dan berkah Allah selama Ramadan ikut bersedih dan menangis. Sebab, seiring dengan berakhirnya bulan kemuliaan itu, rahmat juga tidak akan semelimpah seperti pada bulan itu. Menurut sebuah riwayat dari Nabi Muhammad -memperhatikan akan lenyapnya lautan berkah dan rahmat pada bulan suci itu- para malaikat ikut mendoakan agar amalan orang yang berpuasa Ramadan diterima di sisi-Nya. Begitulah sikap orang saleh yang dalam menjalankan puasa betul-betul tulus mengharap rida-Nya. Namun, mungkin lain halnya tangisan orang-orang yang talih (lawan saleh). Tangisan mereka bisa berarti banyak hal mulai akan berkurangnya show, keuntungan bisnis, panggilan ceramah, bahkan mungkin bisa jadi karena tidak bisa pulang kampung. Alangkah semarak Ramadan di Indonesia, hingga mengesankan negara ini negara Islam. Kita bisa melihat betapa televisi berlomba-lomba menyiarkan acara Islam. Tidak ketinggalan artis wanita yang bertindak sebagai pemandu acara pun berbusana muslimah. Masjid-masjid dipenuhi jamaah dan pengajian-pengajian ramai pengunjung serta penceramah laris di mana-mana. Mudah-mudahan apa yang terlihat pada bulan Ramadan merupakan sesuatu yang berkelanjutan pada hari-hari sesudahnya. Paling tidak ada perubahan perilaku ke arah yang islami, sehingga andaikata mereka ikut sedih sebagaimana orang-orang yang saleh, bukan lantaran pintu rezekinya semakin menipis, melainkan karena kesadaran keagamaan yang mantap di hati mereka setelah diasah sebulan penuh untuk menghayati kehidupan keagamaan sehingga hatinya tercerahkan. Dengan begitu, selain ada peningkatan dalam ritual ibadah vertikalnya kepada Allah, ada peningkatan dalam ibadah sosialnya yang berupa rasa empati kepada sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. Kesemarakan Ramadan baangkali merupakan salah satu bentuk rahmat dan berkah Allah pada bulan suci Ramadan, sehingga siapa pun, baik saleh maupun yang talih, sama-sama mendapatkan serpihannya. Itu tidak terlepas dari Ramadan yang sudah terkondisikan sedemikian rupa, mulai dari citra bulan penuh rahmat, ampunan, pembebasan dari api neraka, sampai bulan penuh konsumerisme. Dalam konteks konsumerisme itu, ironis memang, karena pada saat penyiar agama getol menganjurkan hidup sederhana guna menumbuhkan sikap empati kepada sesama, perilaku konsumerisme justru meningkat. Lihat saja panennya pedagang, khususnya menjelang Idul Fitri. Hal ini disebabkan masih kuatnya citra -bagi banyak kalangan- bahwa puasa sebagai sebuah ritual yang hanya menunda kesenangan belaka. Bukan sebagai sebuah ritual yang membawa manusia untuk bersikap korelatif dengan nilai-nilai ibadah puasa serta konsisten dan berkesinambungan (istikamah). Di samping itu, perilaku tidak istikamah bisa jadi disebabkan oleh persepsi terhadap luapan anugerah yang sangat berlimpah dalam bulan suci Ramadan sebagaimana ditunjukkan oleh hadis: "Siapa saja yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadan akan diampuni dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menunaikan ibadah puasa semata-mata karena iman dan ikhlas kepada Allah, akan diampuni dosanya yang telah lalu, dan siapa saja yang memakmurkan malam Ramadan semata-mata karena iman dan ikhlas kepada Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu". Ditambah lagi dengan bunyi hadis yang mengatakan, siapa saja menambah puasa sebanyak enam hari sesudah Ramadan, maka seakan-akan melakukan puasa satu tahun. Hadis-hadis tersebut memang memotivasi orang untuk merasa bahwa ibadah puasa bukan beban. Akan tetapi, jika maksud hadis itu tidak diletakkan dalam konteks sebagai sebuah amalan yang harus dijaga konsistensinya akan melahirkan kesan betapa mudah dosa datang dan pergi dari umat Islam. Sebab, puasa yang mereka lakukan telah menghapus dosa-dosa yang lalu dan dosa-dosa yang akan datang akan dihapus oleh puasa berikutnya. Persepsi itu sungguh keliru, dan untuk itu perlu ditekankan bahwa puasa yang membebaskan adalah yang dijalani seseorang dengan penuh kesungguhan sembari berusaha agar apa yang dilakukan pada Ramadan tetap terjaga di hari-hari berikutnya. Motivasi keberagamaan seperti itu bisa terjadi, karena sikap formalisme dan tren, sehingga ajaran agama tidak menjadi sebagai sebuah nilai yang intrinsik. Akibatnya, pelakunya merasa tidak terbebani meskipun harus berganti wajah sekalipun. Jika memang sebatas itu keberagamaan yang dianut, apa bedanya dari pengenaan busana muslimah di Spanyol oleh wanita muslimah, ketika Islam jaya di sana, yang hanya dimotivasi oleh tren?
Ramadan sebagai bulan penuh ampunan seharusnya dijadikan momentum guna membangun kesadaran diri dengan secara sungguh-sungguh dalam rangka menjalankan prinsip-prinsip taubah nasuha (tobat sejati). Menurut Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah, seseorang dianggap telah melakukan taubah nasuha manakala ia telah melakukan tiga unsur, yaitu mengakui bahwa ia telah melakukan dosa di hadapan Allah, menyesali apa yang telah ia lakukan, dan berjanji untuk tidak lagi melakukan dosa (paling tidak yang sama). Tiga syarat itu menurutnya mutlak harus dipenuhi jika tobatnya ingin diterima Allah. Unsur terakhir dari tiga syarat taubah nasuha tersebut mengisyaratkan, seseorang harus konsisten dalam mengimplementasikan janjinya itu. Karena hal itu merupakan salah satu aspek penting dalam mengharap ampunan Allah. Untuk itu, bagi seorang muslim yang telah menunjukkan kesalehannya pada bulan penuh berkah ini, semestinya sikap itu berlanjut ke hari-hari sesudahnya. Sebab, bagaimanapun menciptakan situasi penuh ritual di bulan-bulan lain tentu akan lebih sulit dari Ramadan. Hal ini disebabkan Ramadan sudah tercitrakan sedemikian rupa sebagai bulan ibadah dan mengharap ampunan Allah, sedangkan pada bulan-bulan lain, yang kondisinya sudah sedemikian beda bahkan bisa jadi azan pun tidak terdengar, godaan untuk tidak konsisten itu sangat besar. Karena itu, orang-orang yang tadinya saleh menjadi talih dan larut dalam situasi yang serba tidak agamais. Dalam konteks ini, ada benarnya ungkapan bahwa usaha menggapai sesuatu lebih mudah ketimbang mempertahankannya, sehingga banyak orang -setelah merasa tercapai harapannya- larut dalam kelalaian yang membuat mereka terjerumus ke lembah kenistaan. Padahal, seorang muslim harus senantiasa berusaha agar mencapai tingkat keagamaan yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Bukankah ada pepatah Arab (oleh beberapa pihak disinyalir sebagai hadis Nabi) yang artinya: "Siapa saja yang kehidupan hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung, siapa saja yang kehidupan hari ini sama dengan kemarin, maka adalah orang yang merugi, dan siapa saja yang kehidupan hari ini lebih jelek dari kemarin, maka ia adalah orang terlaknat (mal'un)". Karena itu, sudah seharusnya setiap mukmin senantiasa berusaha agar kehidupan hari ini -dalam semua aspek- lebih dari hari kemarin. (18c) - Mahmud Asyari, mahasiswa S3 Universitas Islam Negeri Jakarta; Drs Zaenuddin Bukhori MAg, anggota DPRD Kota Semarang |