logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 21 November 2003 Karangan Khas  
Line

Menyantuni Anak Yatim Psikologis

Oleh: Sri Suhandjati Sukri

MENJELANG akhir Ramadan, banyak kaum muslimin yang meningkatkan amal salehnya, mulai dari ibadah yang bersifat vertikal sampai yang bersifat horizontal, di antaranya menyantuni anak yatim.

Menyantuni anak yatim merupakan bagian dari kebaktian seorang muslim kepada Allah, di samping ibadah mahdhoh sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqarah 177, "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. Juga memberikan harta kepada kerabatnya, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta......."

Adanya kaitan yang erat antara keimanan, ketakwaan dan kesalehan sosial ini mendorong pemeluk Islam memperhatikan kaum yang lemah termasuk anak yatim.

Anak yatim yang ditinggal mati ayah atau ibunya (piatu), membutuhkan perhatian, agar tidak kehilangan kasih sayang atau kebutuhan lainnya yang seharusnya diperoleh dari orang tua mereka. Selama ini telah banyak pemeluk Islam yang memberikan santunan dan perhatian kepada anak-anak yang ditinggal mati orang tuanya (yatim biologis), namun belum banyak yang peduli terhadap anak-anak yatim (psikologis).

Yatim psikologis yakni anak-anak yang tidak mendapat perhatian, kasih sayang maupun kebutuhan jasmani/rohani dari orang tuanya, meskipun ayah ibunya masih hidup. Mereka ini secara psikologis sama dengan anak yatim dan nasib mereka masih banyak yang terabaikan.

Karena selama ini pengertian yatim pada umumnya masih terbatas pada pemaknaan biologis, dan belum menyentuh aspek psikologis. Padahal kenyataan di masyarakat banyak ditemukan anak-anak telantar sebagaimana anak yatim karena berbagai sebab seperti anak-anak korban perceraian dan lain sebagainya.

Hak Anak Yatim

Anak-anak yatim mempunyai hak untuk mendapatkan pemeliharaan pendidikan serta perlindungan bagi kelangsungan hidupnya.

Konvensi PBB tentang Hak Hak Anak menegaskan setiap anak mempunyai hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, dan hak berpartisipasi dalam hal-hal yang menyangkut diri dan masa depannya. Bahkan sejak masih dalam kandungan, anak telah memiliki hak untuk hidup dan mendapatkan perawatan serta perlindungan dari orang tuanya. Pemenuhan hak-hak anak selanjutnya, tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab orang tua.

Tanggung jawab orang tua itu karena sesuatu hal tak dapat dipenuhi (meninggal atau sengaja meninggalkan atau tidak mampu), sehingga anak menjadi telantar.

Demikian pentingnya peranan orang tua, maka Islam menganjurkan adanya orang tua/lingkungan pengganti yang kondusif bagi anak-anak yatim.

Rasulullah memberitahukan bentuk kepedulian terhadap anak yatim tidak hanya berupa pemberian makanan atau kebutuhan jasmaniahnya tetapi juga kebutuhan psikologisnya sebagaimana tersebut dalam sabdanya, "Maukah kalian saya tunjukkan jalan untuk melunakkan hati dan mencapai hajatmu?

Maka sayanglah anak yatim dan asaplah kepalanya, serta berilah makanan dari (sebagian) makananmu." (HR Thabrani). Mengusap kepala adalah simbol kasih sayang dalam arti yang luas dan berkesinambungan. Karena anak-anak yatim "biologis" maupun yatim "psikologis" sangat membutuhkan kasih sa-yang, perhatian dan bimbingan.

Maka bentuk santunan yang ideal adalah tidak terputus di tengah dan tidak terbatas kebutuhan konsumtif, tetapi juga bimbingan agar produktif/pemberdayaan sehingga mereka dapat mandiri.

Sebagian besar pemberi zakat dan penyantun anak yatim lainnya, pada umumnya merasa telah cukup untuk menyerahkan bantuan finansial kepada panti asuhan, tanpa menyumbangkan pemikiran untuk penggunaan dana tersebut bagi pemberdayaan anak.

Hal ini disebabkan karena beberapa hal, di antaranya donatur telah mempercayakan sepenuhnya pengelolaan dana tersebut kepada pihak pengasuh. Sedangkan dari pihak pengasuh, karena keterbatasan tenaga pemikiran dan kemampuan lainnya sering tidak berpikir tentang program yang menyangkut pemberdayaan anak, yang sangat dibutuhkan untuk masa depannya. Akibatnya, dana itu lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konsumtif sehingga anak yatim tidak banyak mendapatkan bekal produktif yang dapat merubah nasibnya ke arah yang lebih baik. Faktor lain yang menyebabkan kurangnya upaya pemberdayaan adalah adanya persepsi masyarakat tentang pengertian penyantunan anak yatim, yang terbatas pada pemberian dana. Sehingga orang yang tidak memiliki kelebihan di bidang material, merasa tidak terpanggil untuk memberikan santunan. Padahal pengertian sedekah menurut ajaran Islam tidak terbatas dengan uang tetapi juga mengajarkan ilmu, keterampilan memberikan bimbingan dan konseling maupun membuka peluang kerja.

Dengan demikian banyak pihak yang sesungguhnya dapat menyantuni anak yatim, sesuai kemampuan masing-masing. Pemberian santunan yang holistik ini, sangat dibutuhkan bagi peningkatan pemberdayaan anak yatim mengingat pembinaan anak-anak yatim banyak yang belum menyentuh aspek pemberdayaan. Terlebih mereka yang berada di luar panti, mereka sering luput dari perhatian masyarakat.

Untuk itu, kiranya RT/ RW dapat melakukan pendataan mengenai anak yatim di wilayahnya.

Di antara faktor yang menyebabkan hasil pemberdayaan sering tidak optimal adalah upaya yang parsial dan tidak berkelanjutan. Seperti latihan keterampilan tetapi tidak disertai dengan bimbingan wira usaha dan peluang pemasarannya, sehingga keterampilan yang dimiliki anak tidak dapat mengantarkannya pada kemandirian ekonomi. Pembinaan anak yatim terpadu dan berkesinambungan tentu bukan tugas yang ringan. Karenanya memerlukan kerja sama antara berbagai pihak terutama pemerintah yang secara yuridis diberi amanah memelihara fakir miskin dan anak anak telantar.

Masa depan bangsa ditentukan oleh generasi mudanya saat ini. Maka membina anak-anak yatim "biologis" dan "psikologis" maupun anak telantar lainnya yang jumlahnya makin bertambah menjadi persoalan yang cukup signifikan untuk menentukan wajah umat/ bangsa di masa mendatang.(33)

-Dr Hj Sri Suhandjati Sukri, dosen Fakultas Ushuludin IAIN Walisongo dan Ketua Biro Peranan Wanita dan Remaja Yayasan Islamic Centre Jateng


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA