
| Jumat, 21 November 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
Ramadan Ya RamadanPesanan Jahitan Kalah dari Pasar TibanPURBALINGGA- Lebaran tahun ini beberapa penjahit di Purbalingga agak prihatin. Sebab, order mereka berkurang dibandingkan dengan tahun lalu. Salah satu penyebab, ada pasar tiban sandang di alun-alun setiap malam Minggu dan malam Senin satu-dua bulan sebelum Ramadan. Menjelang Lebaran para pedagang itu bergabung ke pasar murah. Harga yang ditawarkan para pedagang pasar tiban jauh di bawah harga toko. Sandang yang dijual pun beraneka macam. Ada berbagai baju, celana, jaket, rok, jins, dan kerudung. Meski murah, pembeli harus cermat memeriksa busana yang hendak dibeli agar tak kecewa setiba di rumah. ''Memang tahun ini lebih sepi. Saya tanya teman-teman sesama penjahit juga sama, sepi. Kami menduga penyebabnya masyarakat lebih suka membeli pakaian jadi yang dijual murah di alun-alun. Bagaimana tidak murah? Uang Rp 20.000 sudah mendapat baju bagus,'' kata Nurwanto (36), pemilik usaha jahit Setyawan, kemarin. Penjahit yang membuka usaha di Jalan Letkol Isdiman ini mengaku heran atas harga di pasar tiban. ''Jika harga baju saja Rp 20.000, berapa harga bahannya? Dapat bahan dari mana? Saya saja pasang tarif Rp 45.000 untuk satu setel baju lengan pendek,'' ujar bapak dua anak yang biasa dipanggil Nur ini. Karena itulah dia menilai penjahit yang tak memiliki pelanggan kalangan pegawai akan kesulitan mempertahankan usaha. Pegawai biasanya memesan banyak seragam untuk rekan sekantor. Nur baru saja menyelesaikan order 20 setel pakaian seragam untuk sebuah kantor yang akan dipakai pada saat halalbihalal kelak. Namun Nur bersyukur. Sedikit order membuat dia bisa beribadah selama Ramadan lebih intensif. Bila order banyak dia harus lebih banyak bekerja agar pesanan rampung tergarap sebelum Lebaran. (F10-80g) |