
| Jumat, 21 November 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Pesantren dan Madrasah Perlu Tambah Pelajaran KeterampilanSANTRI yang belajar di pondok pesantren dan madrasah perlu mendapat tambahan pelajaran keterampilan. Hal itu untuk menciptakan santri yang cerdas, terampil, dan berakhlakul karimah. Selain itu, juga agar mereka siap kerja bila tidak meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi atau telah menamatkan pendidikan. Keterampilan yang diajarkan tidak usah muluk-muluk, tapi yang ringan-ringan saja. Misalnya, pertukangan, menjahit, perbengkelan, elektronik dan lain-lain. Kepandaian seperti itu sangat dibutuhkan di lingkungan masyarakat. Gagasan itu dilontarkan Kepala Depag Kabupaten Pekalongan Drs H Masduki seusai mengikuti tarawih keliling bersama Bupati belum lama ini. Dia menyebutkan, selama ini banyak pesantren dan madrasah yang terjebak hanya memberikan pelajaran pokok. Misalnya, di pesantren dan madrasah para siswa hanya mempelajari masalah agama dan beberapa pelajaran lain sebagaimana kurikulum yang diterapkan di sekolah umum. Padahal, pasar kerja sekarang sangat membutuhkan tenaga kerja siap pakai. ''Hal seperti itu merupakan tantangan yang perlu dicarikan solusinya,'' ujar sarjana IAIN Walisongo Semarang lulusan 1987 tersebut. Karena itu, lanjut dia, pengurus yayasan pesantren atau madrsah harus jeli membaca situasi sekarang. Dengan demikian, anak didiknya memiliki keterampilan sebagai modal bekerja bila tidak mampu melanjutkan pendidikan. Menurut pemantauanya, dalam situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang banyak orang tua yang bingung memikirkan anaknya yang sudah menyelesaikan pendidikan madrasah. Mau terus belajar orang tua tak mampu membiayai, anaknya mau bekerja tidak memiliki keterampilan khusus. ''Problem ini terjadi pada setiap keluarga tidak mampu,'' ujarnya. Namun, bila mereka memiliki keterampilan khusus setidaknya bisa menjadi wiraswastawan. Misalnya, yang punya keterampilan menjahit, montir, atau tukang kayu bila tidak bekerja pada orang lain atau bisa membuka usaha kecil-kecilan dirumah. Dengan demikian, santri yang drop out tidak sampai menganggur. Bahkan, mereka bisa meneruskan memperdalam ilmu agama dengan biaya dari hasil usaha sendiri. Dia berpendapat, siswa lulusan madrasah atau pesantren termasuk sudah cukup umur (dewasa) sehingga tidak bisa dibiarkan lama menganggur. Sebagaimana ajaran agama yang tertuang dalam kitab Al-Mughni halaman 17 yang menyebutkan, dewasa adalah orang yang menguasai agama dan harta. ''Karena itu, selain belajar agama, para siswa di madrasah atau pesantren juga diberi bekal keterampilan,'' tuturnya. Soal sarana pendidikan di pesantren, dia berpendapat, yayasan selaku pengelola mestinya menciptakan daya tarik agar para santri betah belajar di pondok. Misalnya, pondok dibangun megah dilengkapi sarana pendingin ruangan, sehingga mereka betah dalam asrama. Pondok dilengkapi peralatan keterampilan seperti mesin jahit, alat pertukangan, montir dan peralatan keterampilan lain serta ustad khusus keterampilan. Suasana ruangan belajar yang nyaman bisa menumbuhkan kreativitas para santri. Dengan demikian, mereka betul-betul bisa menjadi orang dewasa yang sarat ilmu agama guna bekal di akhirat dan memiliki keterampilan bekal hidup di dunia. (Syam Dakrita-34e) |