
| Kamis, 13 November 2003 | Olahraga |
Tim Pra-PON Jateng Harus Persiapkan Masalah NonteknisSEMARANG-Ketua Pengda PSSI Jateng Drs H Sumaryoto khawatir merebaknya masalah-masalah nonteknis dalam sepakbola. Kalau kenyataan itu tidak disadari, dikawatirkan tim Pra-PON Jateng tidak lolos dalam babak kualifikasi, yang akan berlangsung di Yogyakarta, minggu ketiga bulan Januari 2004. ''Sepak bola di Indoensia tidak mengutamakan prestasi, tetapi sekarang yang ada hanya prestise. Makanya, untuk bersaing dengan negara tetangga saja kelihatan berat sekali,'' ujarnya, ketika berbuka puasa bersama dengan pemain Pra-PON Jateng, di RM Nusantara petang kemarin. Kalau hanya prestise yang diutamakan, maka yang lebih mendominasi adalah masalah-masalah nonteknis. Pasalnya, dalam membina klub yang ditonjolkan gengsi atau kehormatan, bukan prestasi. Maka, lanjutnya, klub-klub bagus tidak jaminan bisa berprestasi kalau tidak diimbangi dengan masalah nonteknis. Masalah teknis disebutnya hanya 40 persen, selebihnya ditentukan oleh masalah nonteknis. ''Dalam menggarap tim Pra-PON ini, segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan baik, termasuk masalah nonteknis,'' tandasnya. Wasit Menyangkut aspek nonteknis, dalam hal ini yang lebih berperan adalah wasit pertandingan. Karena itu, dia berharap masalah ini supaya segera dibahas kalau sepak bola di Indonesia ingin maju. ''Kalau seperti ini terus, kapan sepak bola Indonesia bisa maju,'' tambahnya. Dia tidak yakin KLI X bakal dimulai 21 Desember, karena sampai sekarang ''kabinet'' Ketua Umum PSSI Nurdin Halid masih belum terbentuk. Kalau jadwal itu tetap digulirkan, tentunya akan mempersulit persiapan Pra-PON disemua provinsi, karena pemain-pemainnya juga ada yang bergabung dengan klub-klub Divisi Utama. ''Dari pertimbangan itu, kami belum yakin kalau KLI X diputar pada tanggal itu. Sudah jelas akan terjadi perebutan pemain, antara tim PON dan klub yang merasa memiliki pemain,'' tandasnya. Sampai saat ini dirinya masih belum tahu kekuatan tim - tim di Pra-PON, sehingga dianggap merata., ''DIY sebagai tuan rumah, juga tidak bisa dijadikan ukuran bakal lolos. Nyatanya, sudah berapa kali DIY menjadi tuan rumah, tetapi timnya tidak bisa lolos.'' (C16-22) |