logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 13 November 2003 Berita Utama  
Line

Anggota Sekte Kiamat Mulai Dibina

TUNGGU ISSAN: Issan (56), Ny Jasmi (50), istri, dan anak Try Handayanto (20), pengikut sekte kiamat, hingga Rabu petang belum sampai di rumahnya, RT 2/RW 08, Dukuh Puring, Desa Jerukwangi, Kecamatan Bangsri, Jepara. Keluarga dan kerabat dekat menunggu kepulangannya. Ny Masri (dua dari kanan), mertua Issan yang berusia 80 tahun, menanyakan kapan anak dan cucunya pulang. Inzet: Brosur yang dikirimkan Yanto (anak Issan) kepada kerabatnya di Dukuh Puring, Jerukwangi. Dia berharap keluarganya segera menyusul ke Pondok Nabi Baleendah, Bandung Selatan. (43)

BANDUNG - Ratusan anggota Sekte Kiamat, siang kemarin dipindahkan dari Gereja Bethel Tibernakel Lengkong di pusat kota ke timur Bandung di Grya Graha Sindanglaya Arcamanik, Bandung. Pemindahan itu dilakukan untuk pembinaan agar mereka terbebas dari pengaruh ajaran pimpinan sekte, Mangapin Sibuea.

Sebuah tim dibentuk untuk memberikan konseling terhadap mereka. Namun dibutuhkan waktu lama untuk itu. "Sebab otak mereka benar-benar sudah dicuci," kata Ketua Tim Pusat Krisis, Pendeta Simon Timorason.

Karena dikumpulkan terlebih dahulu, rencana kepulangan beberapa jemaat ditangguhkan, termasuk rencana kepulangan Issan (56) dan keluarganya ke Jepara. "Saya tidak tahu, Mas. Kata mereka (Tim Pusat Krisis), saya harus ikut dulu ke penampungan," kata Issan. "Saya sudah tidak sabar untuk pulang Mas," kata istrinya, Jasuni (50).

Anaknya, Tri Handayanto (19) juga menyimpan hasrat serupa. "Kami katanya harus menunggu barang dari pondok di Baleendah."

Handayanto sendiri siang itu sibuk membantu proses pindahan jemaat sekte yang diikutinya bersama anggota lain. Namun kebijakan itu sempat menimbulkan kesalahpahaman. Suasana evakuasi pun agak panas setelah seorang ibu berteriak-teriak mengecam sikap Tim Krisis.

Perempuan yang bernama Vandawati (70) itu bermaksud bertemu anaknya Vina (30) untuk kali terakhir.

"Saya sudah capai, harta di rumah dijualin untuk kegiatan ini. Saya hanya ingin tanya anak saya. Mau ikut saya, atau terus. Kalau nggak mau, ya sudah saya nggak mau ngurus lagi," katanya.

Berjalan Lancar

Tim Pusat Krisis hanya berharap keluarga yang mengambil anggota keluarganya yang tergabung di sekte ini dapat tertib administrasi. Kalau hanya berdasarkan pengakuan, tandas anggota bernama Jamilah, rasanya berat. Banyak risiko yang mesti dipertaruhkan.

Proses evakuasi berjalan lancar. Mereka diangkut dengan menggunakan tiga bus. Dari tua hingga muda tampak kuyu, kemungkinan karena mereka belum mendapatkan istirahat cukup setelah begadang menanti Hari Kiamat, Senin lalu. Sebagian ibu menggendong anak balita.

Penampilan mereka pun lusuh, banyak yang tidak menggunakan alas kaki. Sebagian masih menggunakan pakaian putih hitam, seragam yang dikenakan saat masa penantian itu. Seorang jemaat bernama Rini, sebelum proses pemindahan sempat mengatakan, dia harus mendengar suara dulu sebelum pindah. Sementara itu seorang ibu hanya menyatakan pasrah. "Kita ikuti saja."

Rini sebenarnya sudah dijemput keluarganya, kemarin. Orang tuanya, Viator Simarmata dan kerabat lain yang sengaja datang dari Tapanuli, Sumatra Utara untuk mengambilnya hanya bisa meneteskan air mata melihat sikap Rini.

Yang membuat mereka sesak, Rini sebenarnya tinggal menyelesaikan skripsi di Universitas Gunadarma, Jurusan Studi Komputer. Namun demi penantian itu, dia meninggalkannya pada tahun 2000. Sebelumnya, dia tinggal di Jakarta. Karena mendapat bisikan, kemudian menuju ke Bandung.

Kisah cukup miris dilontarkan keluarga korban lain, Ice Lito (39). Ibu asal Kupang, NTT itu mendapati kenyataan, anaknya tidak mau diajak pulang. Anaknya, Erwin Lito (12), memperlihatkan sikap memberontak saat dibujuk untuk ke NTT. "Aku nggak mau pulang," katanya.

Anak itu dibawa kabur adik dia, Tamat Lito, ke Bandung untuk bergabung dengan Sekte Kiamat itu. Dia sempat khawatir, namun mencoba menutupinya dengan berkata kepada dirinya, anaknya dibawa sang adik. "Apa pun, kini saya bertekad membawanya kembali ke Kupang," kata Ice yang baru Selasa malam tiba di Bandung.

Soal penanganan anggota Sekte Kiamat, Simon Timorason mengharapkan, pihaknya bisa segera menyadarkan mereka. "Masalahnya, kami terbentur dana. Kami ingin mereka bisa secepatnya pulang ke kampung halaman sendiri," katanya.

Karena itu, pihaknya meminta pengertian keluarga yang ingin mengambil anggota keluarganya untuk memperlihatkan bukti pertalian darah. Minimal, membuat surat pernyataan. Proses ini demi kebaikan.

Beri Penjelasan

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra menekankan perlunya lembaga-lembaga keagamaan memberi penjelasan kepada umatnya seputar kemunculan Sekte Kiamat. Lembaga keagamaan itu di antaranya Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia menilai munculnya Sekte Pondok Nabi di Bandung itu sebagai akses globalisasi.

Menjawab wartawan usai menghadiri peringatan Hari Aksara di Istana Negara, Rabu (12/11), Azyumardi menilai, gejala seperti itu perlu diantisipasi. "Saya kira tugas organisasi keagamaan seperti PGI, KWI, dan MUI untuk menjelaskan kepada umatnya tentang perlunya mewaspadai bahaya sekte-sekte seperti itu. Sebab hal itu bisa menimbulkan masalah, bukan hanya masalah agama, tetapi juga sosial, keamanan, dan sebagainya," kata dia.

Dia mengatakan, gejala munculnya sekte yang meyakini kiamat akan segera tiba itu sebenarnya merupakan gejala biasa yang sudah ada sejak 1960-an. Di AS, kasus itu muncul sejak Perang Vietnam yang terus berkembang hinga lahir sekte pimpinan David Koresh. Namun karena dampak globalisasi, ajaran sekte itu dapat berpindah dari satu negara ke negara lain.

"Itu bisa juga disebut sebagai kultus yang berpusat pada orang-orang tertentu yang dipandang karismatik. Orang itu bisa meramalkan masa depan, menyebut kapan kiamat, dan sebagainya," jelasnya.

Munculnya sekte seperti Pondok Nabi, lanjut Azyumardi, memang lebih sering dijumpai di lingkungan Kristiani. Meski di kalangan Islam ada juga beberapa paham yang bersifat mesianistik seperti munculnya kelompok Haur Koneng di Jawa Barat yang meyakini dunia sudah hampir kiamat. "Gejala seperti itu selalu muncul dari waktu ke waktu ketika masyarakat mengalami krisis sosial, depresi, dan dislokasi sosial sebagai dampak perubahan yang terlalu cepat," katanya.

Meski fenomena itu bisa mengundang keresahan, dia mengingatkan kepada pihak keamanan dalam menangani kasus serupa agar berkonsultasi terlebih dulu dengan lembaga keagamaan yang bersangkutan. Sebab jika langsung dilakukan penangkapan, bisa menimbulkan implikasi tidak baik bagi kehidupan keagamaan.

Sementara itu, Menteri Agama Said Agil Al Muanwar yang dimintai konfirmasi di tempat yang sama belum bersedia berkomentar tentang kasus tersebut dengan alasan baru pulang dari Maroko. "Itu sebaiknya ditanyakan kepada Dirjen Protestan. Sebab saya baru datang kemarin dari luar negeri. Kalau saya ngomong nanti nggak ngerti apa-apa," kata Said Agil.

Namun, Menag menjelaskan, Rabu ini (kemarin-Red) dirinya berencana datang ke Bandung untuk mengecek keberadaan sekte tersebut.

Sementara itu dari kepolisian diperoleh kabar, sampai saat ini yang dijadikan tersangka dalam kasus Sekte Kiamat baru Pendeta Mangapin Sibuea. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah. Para pimpinan sekte yang menjadi nabiah dan rasulnya yang sempat ditahan di Mapolres Bandung Tengah, juga sudah dipindahkan ke Mapolres Bandung di Cibabat, Cimahi, sesuai dengan tempat kejadian (TKP) yang berada di wilayah hukum tersebut.

Meski sudah menjalani pemeriksaan, status mereka masih belum ditentukan. Penahanan terhadap mereka di kantor polisi juga cenderung disebabkan oleh faktor keamanan karena menghindari kemarahan warga ataupun umat Kristen lain. (dwi,A20-69n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA