
| Kamis, 13 November 2003 | Debat |
DebatPerilaku Aktivis Seks BebasOleh: Nur Hidayah - Mahasiswi Psikologi Universitas Semarang
KALAU ini topiknya (seks mahasiswa), mengapa kita masih setengah-setengah mengupasnya? Terlalu naifkah? Padahal segala sesuatu yang dilakukan setengah-setengah tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Menurut hemat saya, itu hanya akan memancing kemunafikan. Bagaimana tidak? Lha wong pengupasannya hanya secara implisit, hanya menggambarkan permukaannya saja dengan memposisikan pengupas sebagai sosok insan suci tanpa dosa. Sementara kedalaman dari isi soal seks itu sendiri masih remang-remang. Padahal kupasan transparan disertai empati yang tinggi cenderung menyentuh nurani para aktivis seks bebas sehingga ada peluang memasukkan opini sebagai langkah antisipasi maupun solusi. Sebenarnya tak perlu kita munafik. Pembahasan tentang seks selalu saja mengandung daya tarik tersendiri. Namun berbicara soal seks harus dilakukan secara proporsional, yakni ada keselarasan antara konteks permasalahan dan orang yang menyampaikan. Perkataan seorang penghulu kepada pengantin baru tentu berbeda dari perkataan seorang germo kepada calon konsumennya. Seloroh sepasang suami istri seputar seks tentu tidak sama dengan seloroh sepasang kekasih yang masih ABG. Begitu juga, celotehan mahasiswa tentang seks berbeda dari celotehan gigolo, gay ataupun PSK. Di sini mahasiswa masih memperhatikan fungsi intelektual dan kedewasaannya. Yang Utuh Hanya sayangnya kedewasaan di sini memiliki kecenderungan ke arah seks, bukan kepribadian yang seutuh. Tidak dikatakan dewasa kalau tidak paham seluk-beluk seks. Yakni meliputi soal pasangan, tahapan, gaya, cara, waktu, tempat, fasilitas, hasil, serta antisipasinya. Merupakan kebanggaan kalau sudah mampu memilih pasangan kencan yang tepat. Tahap-tahap yang paling nglothok di kepala oknum mahasiswa penganut seks bebas, minimal tahap "KNPI" (Kissing-Necking-Petting-Intercourse). Gaya yang mereka ketahui cenderung mengutip Dr Boyke, yakni lebih kurang ada 362 gaya dalam aktivitas seks. Cara aktivitas seks idealnya berdasarkan kesadaran atas nama cinta, suka atau kebutuhan, namun tidak jarang yang dilakukan dengan cara dipaksa secara terselubung oleh aktivis seks bebas. Mereka lebih suka memilih tempat kos, atau di rumah sendiri di saat sepi. Fasilitas yang perlu mereka persiapkan umumnya berupa bacaan/gambar/VCD porno. Sedangkan antisipasi yang paling tidak asing adalah kondom, pil KB, serta metode khusus. Boleh jadi cukup wajar, jika ada oknum mahasiswa terjerumus dalam seks bebas, karena mereka belum memahami cara pemuasan dorongan seks yang paling tepat. Apalagi menurut, tokoh humanistik Maslow, kebutuhan seks merupakan kebutuhan paling mendasar. Dari sini dapat diduga, para aktivis seks adalah mahasiswa yang memiliki perasaan tidak aman, entah oleh tekanan lingkungan atau terkena gangguan kejiwaan. Kurang mendapat kasih sayang dari orang-orang yang berarti dalam hidupnya. Memiliki harga diri rendah, bukan tipe manusia sukses, mungkin bisa sukses tapi tidak mampu mencapai titik maksimal.(33 |