
| Kamis, 13 November 2003 | Karangan Khas |
Wajah Malaysia setelah MahathirOleh: Waridin MAHATHIR Mohamad akhir Oktober 2003 lalu akhirnya mengundurkan diri dari jabatan PM Malaysia. Perjalanan politik dan kariernya, termasuk ide dan pemikirannya, banyak memukau masyarakat internasional walau terkadang mengundang perdebatan. Komitmennya membela negara berkembang dan umat Islam layak diacungi jempol. Dengan estafet kepemimpinan yang mulus tersebut, Wakil PM Dato' Seri Abdullah Ahmad Badawi naik menjadi PM Malaysia. Abdullah, politikus santun yang lebih akrab disapa Pak Lah ini sekaligus juga menjadi orang tertinggi dalam hierarki UMNO dan Barisan Nasional, koalisi 14 partai multiras yang memerintah Malaysia sejak 1957. Abdullah naik sebagai PM saat berusia 63 tahun. Dia berasal dari keluarga santri terpandang. Perjalanannya dalam politik dimulai hampir tiga dasawarsa silam sejak pensiun dini sebagai pegawai pemerintah 1974. Pada saat Mahathir menjadi PM berduet dengan Tan Sri Musa Hitam 1981, Abdullah terpilih menjadi anggota MT mewakili Pulau Penang. Selanjutnya menjabat sebagai menteri tanpa portfolio di kantor PM. Pada Sidang UMNO 1984 terpilih sebagai salah satu naib presiden, yang merupakan posisi lapis ketiga. Sebagai salah satu pemimpin partai, dia diberi jabatan sebagai menteri pendidikan. Tahun 1987 sempat terbuang dari kabinet karena bergabung dengan kubu Tengku Razaleigh Hamzah dan Musa Hitam melawan kelompok Mahathir untuk memperebutkan posisi pucuk pemimpin UMNO. Abdullah lalu tidak mendapat pos dalam pemerintahan, hanya sebagai anggota parlemen. Tahun 1991 dia kembali ke pangkuan UMNO. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam kabinet sebagai menlu. Setelah Abdullah mulai bersinar bintangnya, gantian dia diganjal kubu Dato' Seri Anwar Ibrahim yang sebagian besar kaum muda. Tahun 1993 Abdullah kehilangan jabatan sebagai salah seorang naib presiden karena ketiga kursi diborong Anwar Ibrahim, Dato' Seri Muhammad Najib Tun Razak, dan Tan Sri Muhammad Muhammad Taib. Angin politik pada waktu itu memang menguntungkan kubu Anwar. Namun kareir politik Abdullah tidak habis begitu saja karena Mahathir menyelamatkannya dengan mengangkatnya sebagai anggota MT. Banyak Diperhitungkan Waktu itu juga sudah mulai tampak Wakil PM Tun Abdul Ghaffar Baba merupakan target Anwar berikutnya yang harus disingkirkan agar tidak menghalangi langkah Anwar menuju puncak kekuasaan. Dalam sidang UMNO tahun berikutnya, giliran Ghaffar yang ditekan, dan Anwar melenggang menduduki kursi wakil presiden partai sekaligus wakil PM. Ghaffar-lah politikus veteran yang berjasa melindungi Mahathir dari ontran-ontran UMNO 1987, sewaktu Anwar belum ada apa-apanya. Namun begitulah politik, dan barangkali hal itu maunya Mahathir juga, karena waktu itu dia berkesan tidak membela Ghaffar dari serbuan kubu Anwar. Pada waktu Anwar naik menjadi orang kedua, Abdullah masuk lagi pada lapis ketiga pucuk pimpinan partai. Abdullah terpilih sebagai naib presiden dengan menyingkirkan Tan Sri Muhyidin Yassin, salah seorang anggota kubu Anwar. Pada waktu Abdullah sebagai menlu (1991-1999), Malaysia banyak diperhitungkan oleh berbagai negara karena kesuksesan diplomasi gaya Abdullah yang santun. Karier yang cemerlang ini terus diemban Abdullah sampai terjadi ontran-ontran UMNO 1998-1999 akibat ada kasus Anwar. Banyak pihak menyebutkan, Anwar dituduh salah dan akhirnya dijebloskan ke penjara karena dianggap tergesa-gesa ingin menjadi PM. Mahathir diduga tersinggung karena dia merasa digrinjingi oleh Anwar yang semula dipersiapkan untuk menggantikannya sebagai PM. Pada waktu itu popularitas tokoh muda yang brilian dan karismatik di lingkungan kelas menengah dan kaum muda itu memang lebih tinggi ketimbang Mahathir. Sang PM mulai risau atas keadaan ini, serupa dengan dia risau terhadap ambisi Musa Hitam 12 tahun sebelumnya. Akhirnya seperti yang sudah diketahui, nasib Anwar juga mengikuti nasib Musa, sama-sama didepak dari jabatan. Akhirnya 1999 Abdullah ditunjuk sebagai wakil PM sekaligus mendagri. Posisi mendagri di Malaysia sangat strategis, khususnya berkaitan dengan masalah keamanan dan ketertiban dalam negeri, sehingga kepolisian juga berada di bawah kendalinya. Sewaktu masih berduet dengan Ghaffar dan Anwar, posisi mendagri dijabat rangkap oleh Mahathir. Pada Sidang UMNO 2000, kembali Abdullah menang tanpa bertanding sebagai wakil presiden. Waktu magang selama tiga tahun lebih merupakan masa belajar dari Abdullah untuk mengenali Malaysia langsung dari puncak kekuasaan. Banyak tugas PM yang diwakilkan kepadanya, dapat dilakukan dengan baik tanpa menimbulkan gejolak. Hal ini berbeda dari sewaktu Anwar diuji coba oleh Mahathir, yang ternyata menghasilkan berbagai penangkapan dan penahanan terhadap beberapa petinggi partai dan pemerintahan. Dari kacamata Mahathir, kemungkinan Abdullah lebih cool dan calm dalam mengelola pemerintahan ketimbang Anwar yang dipandang suka main tembak langsung. Mahathir barangkali agak risau oleh sepak terjang Anwar sebelumnya yang juga mulai berani menggasak orang-orang Mahathir tanpa pandang bulu. Jangan-jangan setelah tidak menjadi PM, dia dan kroni-kroninya juga akan diusik ketenangannya karena barangkali tidak ada jaminan untuk itu. Abdullah dipandang orang terlihat lebih santun dan menghormati senior, khususnya Mahathir. Abdullah naik ke puncak kekuasaan dengan mewarisi kondisi negara yang stabil dan aman dengan tingkat perekonomian yang kukuh. Tentu saja hal itu merupakan modal baginya untuk dapat mengelola negara secara baik di masa depan. Namun Mahathir juga mewariskan kondisi perpolitikan dalam negeri yang sewaktu-waktu dapat meletup akibat selama ini terus ditekan oleh Mahathir. Partai oposisi semacam PAS, DAP, dan PKN pimpinan Wan Azizah Wan Ismail yang istri Anwar Ibrahim, tentu akan merasa lebih lega sepeninggal Mahathir. Mereka menganggap Abdullah akan bertindak lebih longgar dari pendahulunya, walau selama ini selaku mendagri dia juga bertindak tegas dengan penerapan Akta Keamanan Dalam Negeri untuk menangkap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dalam negeri. Ada Peluang Sepeninggal Mahathir dan naiknya Abdullah, kursi Wakil Presiden UMNO sekaligus Wakil PM menjadi kosong. Keadaan ini tentu tidak akan dibiarkan berlangsung lama, apalagi terkait dengan jabatan mendagri dan jabatan lain yang penting. Ada kemungkinan posisi ini akan diisi setelah Idul Fitri atau paling lambat awal 2004. Yang menarik dicermati, siapakah yang akan naik menjadi orang kedua dalam partai dan pemerintahan? Konvensi UMNO selama ini menyebutkan, posisi Wakil Presiden UMNO diisi oleh salah satu dari tiga naib presiden. Dengan demikian, yang berpeluang menjadi orang kedua adalah para naib presiden, yaitu Najib Razak (Menteri Pertahanan), Muhyidin Yassin (Menteri Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen), dan Mohammad (mantan Menteri Besar Selangor). Kalau ditilik ke belakang, asal usul dan track-record ketiganya adalah politikus muda binaan Anwar walau dalam perkembangannya sudah bergeser arah, khususnya sejak kasus Anwar mencuat. Najib adalah anak mendiang Tun Abdul Razak, PM kedua Malaysia yang memiliki hubungan khusus dengan Mahathir. Razak adalah orang yang menarik Mahathir kembali ke pangkuan UMNO setelah didepak Tunku. Mahathir sangat menghormati Razak dan barangkali ada tanggung jawab moral menjaga anak orang yang telah berjasa kepadanya. Najib merupakan politikus muda yang bersinar, baik dalam partai maupun pemerintahan. Ia berbeda dari dua kandidat lain, yang seringkali diwarnai cerita-cerita miring tentang kehidupan pribadi dan keluarganya, termasuk kekayaan dan kekuasaannya. Baik Muhyidin maupun Muhammad pernah menjabat menteri besar (setingkat gubernur) di dua negara bagian yang kaya, yaitu Johor dan Selangor. Walau Muhyidin sebelum menjabat menteri perdagangan dalam negeri sempat menjadi menteri pemuda dan olahraga, prestasinya biasa-biasa saja. Mohammad lebih tidak menjanjikan lagi, khususnya sejak kasus dugaan penyalahgunaan kekuasaan dan masalah pribadinya yang menyebabkan dia mundur sebagai menteri besar. Meski menjabat salah satu naib presiden, Muhammad tidak memegang jabatan strategis dalam pemerintahan sebagaimana Muhyidin dan Najib. Najib memulai karier politiknya sesudah ayahnya meninggal dunia, dengan menjabat Ketua UMNO di kampung halamannya di Pahang. Setelah beberapa tahun menjadi anggota parlemen, dia terus dipromosikan sebagai Ketua Pemuda UMNO. Di pemerintahan, Najib menempati pos barunya sebagai menteri pemuda dan olahraga, dan merupakan menteri termuda dalam jajaran kabinet Mahathir. Karena dianggap berhasil, dia dipromosikan sebagai menteri pendidikan, menggantikan Anwar. Dunia pendidikan semakin berkembang terutama karena anggaran pendidikan mencapai 35% APBN. Beberapa tahun terakhir Najib berpindah posisi sebagai menteri pertahanan menggantikan Syed Hamid Albar. Salah satu prestasinya adalah merestrukturisasi internal dan pengadaan pesawat tempur canggih dan peralatan militer lain untuk melindungi wilayah teritorial Malaysia. Apalagi tahun lalu bersitegang dengan Singapura, karena negara pulau ini sering melanggar wilayah udara Malaysia. Dengan prestasinya yang demikian bagus dan usianya yang masih muda, kareir politik Najib diprediksikan akan melambung mengikuti jejak ayahnya menjadi PM Malaysia. Dari sisi Abdullah, sang PM baru tampaknya secara pribadi dan psikologis juga lebih dekat dengan Najib, yang selama ini juga sudah diuji coba mewakili wakil PM dalam beberapa acara penting. Abdullah puas dengan hasil pekerjaan yang dijalankan Najib. Najib memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Muhyidin dan Muhammad, yakni dia berasal dari keluarga "darah biru" pendiri Malaysia. Ayahnya, Tun Abdul Razak adalah PM kedua. Dia memang dilahirkan dari keluarga penguasa. Hal ini tentu akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi Abdullah untuk menentukan pendampingnya kelak. Selain itu, diduga ada pertimbangan psikologis lain. Pada waktu Abdullah tersia-sia digasak rombongan Anwar, Najib tidak berperilaku menyakitkan hatinya sebagaimana Muhyidin dan Muhammad. Dengan melihat track-record, kemampuan, prestasi, dan pengalaman Najib selama ini ditambah pertimbangan asal usul keluarga, diprediksikan Najib berpeluang paling besar menjadi orang kedua dalam UMNO dan pemerintahan. Sampai saat ini memang dia mendapatkan dukungan paling luas dari masyarakat untuk menjadi wakil PM. Pada waktu pemilihan Naib Presiden UMNO, jumlah suara yang diperolehnya paling banyak. Di sisi lain, Abdullah tentu akan memilih pasangan yang sejalan dan nyaman untuk bekerja sama. Tantangan ke depan yang dihadapi Malaysia tentu tidak ringan, meski hanya untuk mempertahankan prestasi yang dicapai selama ini, apalagi untuk meningkatkannya. Untuk itu Abdullah perlu pendamping yang sudah terbukti kemampuannya dan memiliki dukungan luas di masyarakat. Dia tampaknya tidak punya pilihan lain untuk menetapkan Dato' Seri Mohammad Najib Tun Abdul Razak sebagai pendampingnya dalam pemerintahan dan partai.(33c) -Waridin PhD, dosen FE Undip dan alumnus Universiti Putra Malaysia |