
| Kamis, 13 November 2003 | Internasional |
Arafat Ajak Israel Hidup Damai BersamaRAMALLAH - Presiden Palestina Yasser Arafat menyampaikan isyarat damai kepada Israel, Rabu kemarin. Dia mengatakan, negara Yahudi itu punya hak untuk hidup aman, berdampingan dengan bakal negara Palestina. Dia juga menyerukan kaum militan Plestina agar mengakhiri intifada (pemberontakan) berdarah yang sudah berlangsung sekitar tiga tahun. Arafat mencela apa yang dia sebut ''perang kriminal'' yang dilancarkan Israel terhadap intifada rakyat Palestina. Dia prihatin atas blokade Israel dan ekspansi permukiman Yahudi di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Isyarat damai Arafat itu dikemukakan di Parlemen. Badan legislatif itu bersidang untuk melakukan voting, apakah mengukuhkan atau menolak kabinet baru PM Ahmad Korei. Pembentukan kabinet itu dipandang penting, dalam upaya membangkitkan kembali perundingan damai Timur Tengah yang didukung Amerika Serikat. Sebab, Israel menolak berurusan dengan Arafat. Korei kepada Parlemen mengatakan, dia telah bertekad untuk menghentikan kekerasan, dan menuntut diakhirinya ''kekacauan'' bersenjata di wilayah Palestina. Dia juga menyerukan suatu konferensi internasional, untuk menyusun penyelesaian damai final. Kepada Israel dan bangsa Palestina, dia memohon agar kedua belah pihak menghentikan aksi kekerasan terhadap warga sipil, dan bekerja sama untuk mencapai gancatan senjata. ''Kita tidak mungkin mau melihat kekacauan bersenjata dan baku tembak di kalangan rakyat setiap hari,'' katanya. Waktunya Telah Tiba Sementara Arafat, dalam pidatonya mengatakan: ''Kita tidak mengingkari hak rakyat Israel untuk hidup aman berdampingan dengan rakyat kita, yang hidup di negara sendiri yang merdeka.'' ''Waktunya telah tiba bagi kita untuk keluar dari lingkaran ini, dari perang menghancurkan, yang tidak akan menciptakan keamanan untuk Israel atau pun kita,'' tambahnya. Arafat, yang geraknya di kompleks kantornya Ramallah (Tepi Barat) dibatasi oleh pasukan Israel selama hampir dua tahun, juga menuduh Israel mengancam jiwanya. Pemerintah sayap kanan Israel bersumpah untuk menyingkirkannya, tetapi tidak mengatakan kapan dan bagaimana penyingkiran tersebut bakal dilakukan. Pekan-pekan perebutan kekuasaan antara Arafat dan Korei, dan kekerasan terus-menerus Timur Tengah, telah memacetkan ''peta jalan'' damai yang dimotori AS untuk pembentukan negara Palestina pada 2005. Sebuah pemerintah yang stabil, akan membantu Korei melaksanakan prioritas-prioritas yang telah ditetapkan. Prioritas tersebut meliputi negosiasi dengan para militan, dan menghidupkan kembali pembicaraan dengan Israel tentang pelaksanaan peta jalan, seperti menghentikan kekerasan dan membekukan pembangunan permukiman Yahudi. Sumber-sumber politik Palestina mengatakan, mereka memperkirakan Korei akan mengumpulkan suara mayoritas di Parlemen. Tetapi, mereka memprediksi akan terjadi debat panas dan kemungkinan penundaan voting. ''Voting mungkin dilakukan hari ini atau mungkin besok. Tetapi, kemungkinan besar, pemerintah akan memperoleh kepercayaan yang membawa kita pada babak baru yang lebih kondusif, untuk memulai kembali upaya damai,'' kata Ghassan Khatib, calon menteri tenaga kerja. Tetapi sebagian pejabat Palestina mengatakan, Korei cemas dia mungkin masih tidak mempunyai dukungan luas yang dibutuhkan untuk menguatkan posisinya, setelah beberapa pekan berselisih mengenai jabatan-jabatan di kabinet. Sebagian besar menteri di kabinet baru yang beranggotakan 24 orang, adalah pengikut setia Arafat. Dan Korei menghadapi kemungkinan Arafat terus campur tangan mengenai pasukan keamanan. Kontak-kontak mulai dilakukan untuk mempersiapkan pertemuan antara Korei dan PM Israel Ariel Sharon. Namun, Korei mengatakan dia hanya akan bertemu dengan pemimpin Israel tersebut, jika Sharon setuju mengurangi blokade Israel terhadap penduduk Palestina.(rtr-ben-30) |